Selasa, 09 Juni 2020

Resensi Buku Pudarnya Pesona Cleopatra, Habiburrahman El Shirazy


Judul buku: Pudarnya Pesona Cleopatra
Penulis: Habiburrahman El Shirazy
Penerbit/Tahun Terbit: Penerbit Republika/2005
Jumlah halaman: 111 halaman
Genre: Fiksi
Peresensi: Roisha Hardika

Cinta tidak menyadari kedalamannya sampai ada saat perpisahan
- Kahlil Gibran -

Ini nikmat ataukah azab?

“Harus dengan dia, tak ada pilihan lain!” Tegas ibu. 

Beliau memaksaku untuk menikah dengan gadis itu. Gadis yang sama sekali tak kukenal. Sedihnya, aku tiada berdaya sama sekali untuk melawannya. Aku tak punya kekuatan apa-apa untuk memberontaknya. Sebab setelah ayah tiada, bagiku ibu adalah segalanya. Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada di dalam kandungan aku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal itu. Kok bisa-bisanya ibuku berbuat begitu. Pikiran orang dulu terkadang memang aneh.

“Ibunya Raihana adalah teman karib ibu waktu nyantri di Mangkuyudan Solo dulu,” kata ibu. “Kami pernah berjanji, jika dikaruniai anak berlainan jenis akan besanan untuk memperteguh tali persaudaraan. Karena itu Anakku, ibu mohon keikhlasanmu. Jangan kau kecewakan harapan ibumu yang telah hadir jauh sebelun kau lahir!” ucap beliau dengan nada mengiba. “Dan percayalah pada ibu, Anakku. Ibu selalu memilihkan yang terbaik bagimu. Ibu tahu persis garis keturunan Raihana. Ibu tahu persis kesalehan kedua orang tuanya,” tambahnya untuk meyakinkan diriku.

“Mbak Raihana itu orangnya baik, Kak. Dia ramah, halus budi, sarjana pendidikan, penyabar, berjilbab dan hafal Alquran lagi. Pokoknya cocok deh buat Kakak,” komentar adikku, Si Aida tentang calon istriku.

“Orangnya cantik nggak?” selidikku.

“Lumayan, delapan koma lima lah,” jawab adikku enteng.

“Tapi lebih tua dari kakak ya?” tanyaku mencari kepastian.

“Ala Cuma dua tahun Kak, lagian sekarang ‘kan lagi nge-trend lho, laki-laki nikah dengan wanita yang lebih tua. Nggak masalah itu Kak. Apalagi Mbak Raihana itu baby face, selalu tampak lebih muda enam tahun dari aslinya. Orang-orang banyak yang mengira dia itu baru sweet seventeen lho, Kak. Bener nih, serius!” propaganda adikku berapi-api. Adikku satu-satunya ini memang pendukung setia ibu. Duh, pusing!

Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, akhirnya aku pasrah. Aku menuruti keinginan ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi mentari pagi di hatinya, meskipun untuk itu aku harus mengorbankan diriku.

Ibu
Durhakalah aku
Jika dalam diriku,
Tak kau temui inginmu
Ibu, 
Duhakalah aku
Jika dalam hidupku
Tak kau temui legamu

Dengan hati pahit kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun sesungguhnya dalam hatiku ada kecemasan yang mengintai. Kecemasan-kecemasan yang datang begitu saja dan aku tidak tahu alasannya. Yang jelas, sebenarnya aku sudah punya kriteria dan impian tersendiri untuk calon isteriku. Namun aku tidak bisa berbuat apa-apa berhadapan dengan air mata ibu yang amat kucintai itu. Saat khitbah sekilas kutatap wajah Raihana, dan benar kata si Aida, ia memang babyface dan lumayan anggun. Namun garis-garis kecantikan yang kuimpikan tak kutemukan sama sekali. Adikku, ibuku, sanak saudaraku semuanya mengakui Raihana cantik. Bahkan tante Lia, pemilik salon kosmetik terkemuka di Bandung yang seleranya terkenal tinggi dalam masalah kecantikan mengacungkan jempol tatkala menatap foto Raihana. “Cantiknya benar-benar alami. Bisa jadi iklan sabun Lux lho, asli!” komentarnya tanpa ragu.

Tapi seleraku lain. Entah mengapa. Apakah mungkin karena aku telah begitu hanyut dengan citra gadis-gadis Mesir titisan Cleopatra yang tinggi semampai? Yang berwajah putih jelita dengan hidung melengkung incah, mata bulat bening khas Arab, dan bibir merah halus menawan. Dalam  balutan jilbab sutera putih wajah gadis Mesir itu bersinar-sinar, seperti permata Zabarjad yang bersih, indah berkilauan tertimpa sinar purnama. Sejuk dan mempesona. Jika tersenyum, lesung pipinya akan menyihir siapa saja yang melihatnya. Aura pesona kecantikan gadis-gadis Mesir titisan Cleopatra sedemikian kuat mengakar dalam otak, perasaan dan hatiku. Sedemikian kuat menjajah cita-cita dan mimpiku. Aku heran, kenapa aku jadi begini? Di manakah petuah-petuah suci kenabian itu kusimpan? Apakah hati ini telah sepenuhnya diduduki oleh mata bening dan wajah kemilau gadis Mesir? Di manakah hidayah itu? Di manakah cahaya itu? Apakah aku telah gila? Mana ada kecantikan Cleopatra di Jawa?

Novel ini sangat sangat menarik untuk dibaca berkali-kali saat kita senggang dari berbagai macam kesibukan. Saya sendiri setiap membuka novel ini dari halaman ke halaman tak terasa airmata menetes tanpa henti. Sungguh menggugah nurani. Meski telah dibaca puluhan kali, tetap saja bikin nangis banjir airmata. Karena memang sangat menarik hati. 

Ingin tau lebih jauh kisah Raihana? Silahkan dibaca novelnya sampai selesai. 

Cuma 111 halaman kok, nggak tebal 😊

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *