Selasa, 09 Juni 2020

Resensi Buku Sanad Ulama Nusantara, Adhi Maftuhin

Nama Buku: Sanad Ulama Nusantara
Penulis: Adhi Maftuhin
Penerbit: Sahifa Publishing
Cetakan ke-1: Juli 2018
Jumlah Hal: 586
Genre: Nonfiksi. Islamic Literature
Peresensi: Rifqoh

Buku ini menyajikan informasi tentang transmisi keilmuan ulama Al Azhar dan Pesantren. Infornasi itu juga disertai skema sanad dan biografi para penulis kitab kuning. Buku setebal 586 halaman ini lumayan mewakili rasa penasaran para pengabdi ilmu. Setelah membacanya, kita diharapkan dapat turut serta memasyhurkan biografi para ulama, memperkenalkan bagaimana pengajarannya, etika dan tata krama yang dapat diteladani dari mereka, serta prinsip dan metode yang sering mereka gunakan. 

Salah satu kekurangan yang ada di pesantren adalah seorang guru amat jarang mengenalkan biografi penulis kitab yang hendak dikaji ajarkan kepada santrinya. Biasanya, ustadz atau kiai langsung membaca mukadimah kitab tanpa didahului penjelasan bagaimana ikhtisar serta proses penulisan kitab yang akan diajarkan, kapan penulisnya lahir dan wafat, siapa saja guru dan muridnya, berapa banyak karya tulis yang dihasilkan, di mana saja beliau belajar dan berdomisili serta di mana beliau dimakamkan. Seringkali para ustadz atau kiai mau mengupas biografi, tapi hanya fokus di hal-hal keramat dan keistimewaan yang dimilikinya saja.

Hal ini sangat berbeda dengan pengajian-pengajian yang ada di Al- Azhar dan tempat- tempat lain yang diasuh oleh ulama’ Al- Azhar seperti di Madyafah (madrasah) Syaikh Ismail Shadiq Al-’Adawy, Madyafah Syaikh Ali Jum’ah maupun yang lainya. Dapat dipastikan, para Masyayikh Al- Azhar akan mengupas biografi penulis kitab dan hal-hal yang berkaitan dengannya sebelum sebuah kitab diajarkan. Waktu untuk mengupasnya pun bervariasi. Dari yang hanya setengah jam sampai ada yang menghabiskan waktu satu atau dua kali pertemuan. Sebuah biografi akan semakin lama dikupas jika kitab yang akan diajarkan melahirkan banyak karya susulan seperti kitab matan, yang akan melahirkan karya berupa syarah, hasyiyah, ta’liqat, mukhtashar, nadham atau taqrirat. Tali nasab diantara kitab-kitab tersebut dijelaskan oleh masyayikh agar para santri dapat membaca sumber-sumber lain yang masih berhubungan dengan kitab matan, sehingga mereka mempunyai tambahan referensi dan dapat memahami pelajaran dengan baik.

Buku ini juga mengkaji pertalian sanad keilmuan antara ulama’ pesantren nusantara dengan ulama’ Al- Azhar menggunakan dirasah asanid. Referensi untuk itu diambil dari beberapa kitab tsabat, seperti Kifayat Al-Mustafid karya Syaikh Mahfudh At-Tarmasi, beberapa kitab sanad Syaikh Yasin Al-Fadani, Tsabat Syarqawy, dan kitab-kitab yang sejenis. 
Diharapkan para pembaca akan sangat menghargai betapa pentingnya sebuah sanad keilmuan yang tentunya menjadi ciri khas pengajaran di pesantren. 

Dalam pemaparannya, penulis meruntutkan nama kitab-kitab yang akan dibahas satu persatu sesuai bidangnya. Di sini sudah tercantum 14 bidang keilmuan, seperti bidang Fiqih; tercantum 45 nama kitab yang dikupas oleh penulis. Sayangnya dalam pembahasan tidak disesuaikan dengan urutan  pentingnya bidang yang dikaji tersebut. Misalnya, bidang tafsir belum masuk pembahasan dan bidang Hadits juga baru mengangkat tujuh nama kitab. Mungkin ke depannya penulis sebaiknya lebih melengkapi pembahasan kitab di bidang-bidang lainnya. Semoga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *