Minggu, 07 Juni 2020

Resensi Buku Sang Mahasiswa dan Sang Wanita, Dasa Carita

Judul Buku: Sang Mahasiswa dan Sang Wanita
Pengarang: Dasa Carita dari Hongaria
Penerjemah: Prof Dr Fuad Hassan
Penerbit: Grafiti Pers
Cetakan 1: 1985 
Tebal: 106 halaman
Genre: Fiksi, cerpen
Peresensi : Nana Ernawati

Sang Mahasiswa dan Sang Wanita adalah satu dari sepuluh cerpen yang ada di dalam buku dengan judul yang sama. Tetapi, saya lebih tertarik dengan cerpen: Omelette à Woburn (Dezsö Kosztolànyi) serta Petualangan Berpakaian Seragam (Sàndor Hunyadi).

Cerita-cerita tentang perbedaan kelas dan kisah kaum termarjinalkan selalu menarik untuk diketahui, apalagi untuk negara seperti Hungaria yang jauh dari Indonesia. Tidak hanya jaraknya, tapi juga beritanya.

Prof. Dr. Fuad Hassan, yang pernah menjabat menteri Pendidikan di Indonesia tahun 70-an, menerjemahkan buku ini dari bahasa Inggris, bukan dari bahasa aslinya. Tapi saya mengira karena pengetahuan beliau yang luas, meski menerjemahkan dari bahasa kedua, tidak mengurangi nilai estetikanya.

Bagi masyarakat Indonesia, Hungaria adalah negeri teka-teki karena tidak banyak informasi yang ada tentang negeri itu. Padahal manusia dari Hungaria sering mendapat penghargaan untuk bidang ilmu-ilmu pasti, bahkan hadiah Nobel. Ada juga aktor Leslie Howard, ternyata orang Hungaria memiliki kemampuan yang baik soal perfilman. Jadi, rasanya tepat Fuad Hassan menerjemahkan buku ini.

Bila Engkau seorang mahasiswa yang akan pulang kampung untuk liburan dengan uang saku tak seberapa, tiba-tiba memutuskan mampir ke sebuah kota yang dilewati rute kereta untuk  sekadar ingin mencari angin, apa yang akan kau lakukan di sana? Lapar yang disebabkan oleh musim dingin membuatmu ingin makan dan masuk restoran. Apa jadinya bila ternyata kamu salah masuk ke sebuah restoran kelas atas, sementara uangmu hanya cukup untuk makan di restoran kelas kaki lima? Di situlah uniknya cerpen ini, Omelette à Woburn. 

Uang yang hanya cepak itu ternyata hanya bisa untuk memesan selembar telur dadar tipis, yang itu pun pinggirannya masih dipotong dan dirapikan hingga akhirnya tinggal secuil telor -yang untuk menelannya kamu harus menahan sakit hati karena tidak sesuai antara harga dan kepuasan perut. Ini sebuah cerpen yang amat satire yang bisa terjadi di mana saja di belahan bumi ini.

Lalu bagaimana dengan kisah pemuda yang  iseng memakai seragam tentara untuk menyamar menjadi pacar seorang gadis dusun yang (ternyata) bekerja sebagai pembantu di rumah sang pemuda itu? Sungguh suatu kejutan yang luar biasa bagi sang gadis. Bagaimana perasaannya? Bisakah kita membayangkan perasaan orang yang terhina karena dipermainkan oleh orang kaya? Cerpen ini tragis dan kaya akan cara mengungkapkan pikiran penulisnya lewat tokoh yang diciptakan. Coba simak salah satu dialognya: 

".... sebab orang seringkali berani jahat hanya pada orang-orang yang tidak punya apa-apa atau siapa-siapa di dunia ini." (hal 22)

Sebuah karya sastra diciptakan memang tidak hanya sekadar sebagai hiburan pengisi waktu luang. Tapi, ia dituliskan supaya manusia lebih memahami kehidupan dan sesama. Buku ini meski tipis, tapi sarat akan nilai-nilai kemanusiaan. 
Selamat membaca.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis disini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *