Rabu, 15 Juli 2020

Resensi Buku Kingdom of Joy, Abdul Rahman Azzam


Judul Buku: Kingdom of Joy, Untaian Kisah Menawan dari Matsnawi Rumi
Diterjemahkan dari: Kingdom of Joy, Tales from Rumi
Penulis: Abdul Rahman Azzam
Penerjemah: Hilmi Akmal
Penerbit: Hikmah (PT Mizan Publika)
Tahun Terbit: 2007
Jumlah Halaman: 219
Genre: Fiksi
Peresensi: Ummi Tanzila

Pembaca akan menuai mabuk asmara dari Rumi terhadap Tuhannya. Kemesraan mistik yang terjalin, mampu membakar setiap ego jiwa pada diri. 

"Dia tak pernah berhenti menyimak musik dan menari;
Dia tak rehat baik siang maupun malam.
Dia menjadi cendekiawan, dia menjadi pujangga.
Dia menjadi pertapa, dia menjadi mabuk dengan cinta. (Hal. 140)

Begitulah Sultan Walad—sebagai murid—menggambarkan gurunya, Rumi. 

Buku ini mengulas kisah-kisah paling populer dari Maulana Jalaluddin Rumi (w.1273), seorang penyair hebat sekaligus ulama dan tokoh sufi, sesuai ramalan Fariduddin Attar, gurunya semasa kecil.

Karena buku karya Abdul Rahman Azzam ini mengulas cerita sastra, sudah tentu bahasa yang digunakan bertabur kalimat indah. Bahkan hal paling buruk pun tetap bisa diungkapkan dengan kalimat halus dan mempesona.

Seperti dalam cerita Sang Sultan dan Putranya yang Pandir. Takhta dan kuasa serta gelimang harta Sang Sultan, harus berbanding terbalik dengan nasibnya mempunyai seorang putra yang terlewat bodoh. Bila ayahnya ada, para Wazir dan pejabat kerajaan akan mengkiaskan sang putra dengan kalimat menawan, seperti "selugu hari di musim semi", "terlalu muda untuk masalah-masalah dunia", "dia memandang hidup dengan sederhana", dan kalimat buaian indah lainnya.

Yang menarik dari buku ini adalah terdapat lukisan miniatur Indo-Pakistan karya Fatima Zahra Hasan, menunjukkan makna cerita yang lebih dalam. Redaksinya juga bukan terjemahan harfiah dari karya Rumi yang terkenal, yaitu Matsnawi melainkan terbaur dengan tafsir sang penerjemah sehingga kisahnya lebih mudah dipahami.

Desain sampulnya elegan, warna latar hitam dengan judul timbul berwarna keemasan. Dilengkapi gambar tarian darwis yang populer di kalangan sufistik. Dalamnya, semua bagian atas dan bawah halaman diberi garis lekukan memanjang yang menambah keindahan di antara lukisan-lukisan yang disisipkan pada beberapa halaman. Desain yang sempurna untuk menggambarkan buku The Kingdom of Joy secara keseluruhan. 

Paling mengundang tawa bagi saya adalah kisah Mahasiswa dan Tukang Kebun. Diceritakan, sang mahasiswa memanjat dan memakan buah si tukang kebun tanpa izin dan berkata, "Ini kebun milik Tuhan, dan aku makan buah-buahan milik Tuhan yang diberikan oleh-Nya."

Mahasiswa ini sesungguhnya mahasiswa filsafat dan kini sedang menguji keilmuannya.

"Kau benar. Teruskan makanmu," kata si tukang kebun. Mahasiswa senang argumennya berhasil dan tidak sabar akan segera menceritakan hasil belajarnya yang sukses itu kepada teman-temannya.

Setelah satu jam puas memakan buah, sang mahasiswa turun. Namun, sesampai di bawah, ia diburu dengan sebilah tongkat lalu dipukuli oleh sang tukang kebun.

"Ini tongkat milik Tuhan, dan aku memukulimu dengan tongkat milik Tuhan yang diberikan oleh-Nya." Siapa sangka, ternyata sang tukang kebun juga seorang mahasiswa filsafat.

Dari situ Rumi memberi tahu kita saat mahasiswa dilarang memakan buah itu, tapi tetap memakannya, lantas tukang kebun memukulnya dengan tongkat, kurang tepat jika dikatakan 'mahasiswa memakan buah itu dan buah itu menyakiti kepalanya'. Kita harus bertanggungjawab atas segala tindakan kita.

Masih banyak 19 kisah hikmah menarik lainnya selain dua kisah di atas.

Sangat manusiawi jika terdapat kekurangan dalam suatu buku. Seperti halnya buku ini, di paragraf pertama halaman 108 terdapat kata 'kita' yang terketik ulang. Juga di paragraf terakhir halaman 182, ada salah huruf, seharusnya 'pandai', tapi tertulis 'pendai'.

Berbicara keseluruhan, buku ini benar mengisi jiwa yang melompong, terlebih ditutup dengan kata-kata Maulana ...

"Jikalau kau tengah mencari,
cerilah kami dengan riang,
karena kami tinggal di
kerajaan kebahagiaan."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *