Sabtu, 15 Agustus 2020

Resensi Buku Madame Bovary, Gustave Flaubert


Judul buku: Madame Bovary
Penulis: Gustave Flaubert
Penerbit: Narasi
Tahun terbit: 2014 (cetakan 1)
Jumlah halaman: 155
Genre: Fiksi
Peresensi: Uswah

Novel Madame Bovary menceritakan tentang petualangan cinta Emma, seorang putri pemilik perkebunan yang sangat cantik, memikat, penuh pesona, memiliki hasrat untuk mendapatkan cinta dari pria tampan yang memujanya dengan penuh gairah. Ia mendambakan kehidupan yang mewah dan kisah cinta yang indah bak novel roman. Charles Bovary, seorang dokter sederhana yang berhasil menyembuhkan penyakit ayahnya mampu memikat hatinya. Takdir menyatukan mereka dalam pernikahan setahun kemudian setelah istri Charles meninggal dunia. Menikahi Emma adalah anugerah terbesar dalam kehidupan Charles, ia memiliki karir yang cemerlang, banyak pasien membutuhkannya. Setelah kembali dari ruang praktiknya ia disambut oleh Emma dengan penuh hangat, istrinya yang cantik dengan tubuh yang mungil serta kulit yang putih. Charles merasakan betul bahwa pernikahannya dengan Emma adalah bentuk kesempurnaan hidupnya, sama sekali tidak pernah ia rasakan saat menikah dengan mendiang istrinya yang seorang janda berusia 40 tahun.

Namun tidak dengan Emma, ia bosan dengan suaminya yang fisiknya mulai berubah, dan sibuk dengan pasiennya. Emma tetap melayani suaminya dengan menyimpan perasaannya yang sepi. Emma hamil dan melahirkan anak perempuan, hal itu membuat perasaannya semakin tersiksa karena ia mendambakan anak laki-laki yang digadang-gadang mampu mengalihkan kejenuhan pernikahannya dengan Charles, Emma pun menitipkan anaknya kepada pengasuh anak dan hanya sesekali menengoknya. 

Emma jatuh cinta kepada Leon, pria yang sesuai dengan imajinasinya, begitu pula Leon juga menginginkan Emma. Namun cinta mereka kandas karena Leon tidak berani mengungkapkan perasaan cintanya kepada Emma dan memilih untuk pindah ke Paris. Emma bergeming, membiarkan Leon pergi sekali pun Emma tidak menghendakinya.

Emma mulai sakit-sakitan memikirkan Leon, dan Charles memiliki pertimbangan untuk pindah rumah. Di rumah baru Emma menemukan kembali energinya setelah bertemu Rodolphe, pria kaya yang mengagumi Emma dengan penuh gairah sehingga Emma pun rela memberikannya hadiah-hadiah kepadanya meskipun dengan berhutang. Awalnya mereka sepakat untuk memulai hidup baru dengan membawa putri kecil Emma, namun Rodolphe tidak menghendakinya dan akhirnya pergi meninggalkan Emma, Rodolphe memang tipikal tidak bisa setia kepada satu wanita. 

Penyakit Emma kambuh karena memikirkan Rodolphe yang sangat dicintainya, Charles mendiagnosa Emma terkena kanker. Charles berinisiatif mengajak Emma ke Paris untuk sekadar menghibur istri tercintanya. Sampai di Paris Emma bertemu Leon dan cinta lama pun bersemi kembali. Emma tak segan mengeluarkan banyak uang dengan menjual aset dan berhutang agar bisa bertemu dengan Leon secara sembunyi-sembunyi.

Hutang mulai menumpuk dan Leon mulai meninggalkannya, Emma tahu betul suaminya masih mencintainya, ia menenggak racun untuk mengakhiri depresinya. Beberapa hari setelah kematian Madame Bovary, Charles Bovary mulai mengetahui perselingkuhan istrinya melalui surat-surat Rodolphe dan Leon, juga tagihan hutang atas barang-barang mewah yang dibeli Emma. Charles Bovary pun pada akhirnya menyusul kematian istrinya karena depresi berat. Tapi lelaki itu tetap mencintai istrinya dan memaafkannya, juga memaafkan Rodolphe dan Leon yang juga teman-temannya. 

Novel ini menyampaikan pesan yang dalam untuk pembacanya. Masa kecil Emma banyak dihabiskan di gereja, memperdalam ilmu agama, membaca novel romantis, bergelimang harta, dan ia sangat bakat dalam bidang seni lukis dan musik. Emma secara naif membuat erotis segalanya: agama, seni, imajinasi, kecantikan, kemewahan. Seksualitas perempuan sangat tertekan saat itu, Emma sendiri tidak mengetahui keinginannya sehingga ia merasa haus dan tak terpuaskan. Melahirkan dalam keadaan patah hati membuatnya mengalami depresi (postpartum depression). Emma baru saja keluar dari biara ketika ia menjadi Madame Bovary dan terjebak dalam peran yang kaku, hal ini tidaklah mudah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *