Rabu, 23 September 2020

Resensi Buku Tidak Ada yang ke Mana-mana Hari Ini, Marchella FP


Judul Buku: Tidak Ada yang ke Mana-mana Hari Ini
Pengarang: Marchella FP
Penerbit: PT Kebahagiaan Itu Sederhana
Tahun Terbit: 2020
Jumlah Halaman: 80 halaman
Genre: Buku Visual Grafis
Peresensi: Luly Prastuty

Buku Tidak Ada yang ke Mana-mana Hari Ini menjadi buah karya Marchella di masa-masa mendekam di rumah selama pandemi COVID-19 menghadang Indonesia. Bila berbicara tentang konsep, buku ini masih lekat dengan bayang-bayang buku Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini, buku yang diangkat ke layar lebar oleh Visinema Pictures. Namun bedanya, buku Tidak Ada yang ke Mana-mana Hari Ini berbicara banyak tentang realita selama pandemi.

Memang, tidak dapat dipungkiri bahwa di antara dinding-dinding rumah, manusia dipaksa mengenali dirinya sendiri hingga menembus batas ketakutan yang sudah lama menghambat potensi. Siapa sangka banyak orang yang mendadak berubah menjadi chef amatir? Dalgona coffee yang sempat viral di jagad maya lahir dari proses kreatif-inovatif selama pandemi. Bahkan, coba hitung ada berapa orang yang saat ini membuka usaha makanan online? Tidak terhitung. Sama halnya dengan buku ini. Sebelum adanya virus COVID-19, Marchella mengaku, terlintas ide menulis buku macam ini pun tidak. Kenyataannya? Akhirnya rilis juga. Ajaib. Yang ada akan tetap ada sebagaimana takdir telah ditetapkan, bahkan jauh dari perencanaan.

Tidak Ada yang ke Mana-mana Hari Ini diterbitkan pada Mei 2020 dan menjadi hasil kontemplasi Marchella tentang peristiwa-peristiwa di lingkungan terdekat, baik secara sosial dan kultural. Selama membaca, saya merasa berdialog secara personal dengan Marchella. Bagaimana tidak, kecamuk rasa yang dituangkan benar-benar merepresentasikan kita, para pembaca, sebagai manusia yang resah dengan kehadiran virus kecil yang tidak tahu kapan perginya. Buku ini menyadarkan betapa manusia pun tidak punya kuasa atas virus yang begitu kecilnya hingga tidak terlihat, namun mampu memporak-porandakan banyak aspek kehidupan manusia di banyak bidang. Seserius ekonomi dan politik! Mahakuasa Tuhan. Tapi, buku ini mendeskripsikan bagaimana dampak yang berat itu dapat terefleksikan melalui narasi-narasi personal–dari pikiran, perasaan, dan kebiasaan.

“Kata ‘di rumah aja’ awalnya buat gelisah. Sampai mulai banyak terdengar yang lebih menyeramkan: ‘di rumahkan’” – Halaman 44

Buku ini menggunakan point of view tokoh figuratif, Awan dan Bria. Saya merasa, sebagai pembaca, buku ini menjadi kumpulan surat-surat yang menjadi potret kehidupan kita di tengah masa pandemi. Satu hal lain yang saya suka, keunikan dari buku visual yakni mampu berbicara secara utuh baik dari segi komposisi warna dan grafis. Bahasa tone ini saya akui memanjakan mata sekaligus berhasil melayangkan imajinasi pembaca ke roller-coaster perasaan dengan suasana sendiri dan kelam. Secara konten, tidak hanya tentang harapan dan semangat, buku ini secara ‘ramah’ mengkritik pola-pola perilaku egois orang-orang yang cari selamat dengan uang dan ketidakpedulian. Sebagai pengganti chapter, buku ini juga terkotak-kotakkan dalam klasifikasi alur berpikir. Jelajah semesta pikiran pembaca dituntun Marchella dengan sederhana melalui Apa, Kenapa, Sampai Kapan, Ya Sudahlah, Bertahan dan ditutup manis dengan Berubah. Jauh dari intrik politik, buku ini jauh lebih efektif sebagai pengingat dan sahabat ketimbang postingan maya influencer yang digerakkan pemerintah sebagai dalam rangka meningkatkan kesadaran melindungi diri dari COVID-19.

Saya sebut efektif karena buku ini menggerakkan empati masyarakat Indonesia baik secara nurani maupun aksi. Menjadi bukti, buku ini hadir sebagai hadiah eksklusif donatur yang menyumbangkan sebagian uangnya untuk membantu korban terkena dampak COVID-19 melalui www.kitabisa.com dan berhasil mengumpulkan sekitar Rp. 548.020.275. 

Semoga dengan hadirnya buku Tidak Ada yang Ke Mana-mana Hari Ini selalu menjadi inspirasi kita untuk saling mengerti dan melindungi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *