Kamis, 01 Oktober 2020

Resensi Buku Hanya Cinta yang Kita Punya untuk Mengatasi Segalanya, Edi Ah Iyubeni, dkk


Judul Buku: Hanya Cinta yang Kita Punya untuk Mengatasi Segalanya
Pengarang: Edi Ah Iyubeni, dkk
Penerbit: DIVA Press
Tahun Terbit: 2020
Tebal Buku: 192 halaman
Panjang Buku: 14 cm
Genre: Nonfiksi
Peresensi: Ulfiana

Jalan cinta sungguhlah tiada batasnya. Di antara ungkapannya bisa melalui lukisan, tarian, puisi, hingga cerita sastra. (Kutipan dari sampul belakang Hanya Cinta Yang Kita Punya untuk Mengatasi Segalanya)

Buku Hanya Cinta Yang Kita Punya untuk Mengatasi Segalanya ini adalah sebuah kumpulan cerpen yang ditulis oleh Edi Ah Iyubeni dkk hasil seleksi lomba dengan tema I Love You Rasul. Dari tulisan yang dikutip di atas sudah tentu kumpulan cerpen ini adalah sebagai salah satu wujud pengejewantahan cinta Sang Penulis buku ini kepada Kanjeng Nabi Muhammad, Sang Teladan bagi umat manusia. Kumpulan cerpen ini disayembarakan tepat dengan  peringatan Maulid Kanjeng Nabi Muhammad, sebagai bentuk kecintaan dan kerinduan kepada Kanjeng Nabi. Walau kata tidak akan pernah mewakili perasaan tapi ekspresi kecintaan dapat dituangkan melalui banyak hal, salah satunya adalah tulisan.

Di dalam buku ini terdapat sebelas cerpen. Beberapa di antaranya adalah Riwayat Angin Barat, Golok-golok Menthok, Phyo Sebelum Ma, Sebelum Ukasyah Memeluk Nabi, Kalimat Cinta dan Hujan Bunga, Bayang Denyar Cahaya, Lelaki dan Mulutnya yang Selalu Berselawat, serta Hanya Cinta yang Kita Punya untuk Mengatasi Segalanya, dsb. Kesemuanya berkisah tentang Kanjeng Nabi dengan jalan cerita yang unik dan disampaikan dengan gaya bahasa yang lugas.

Keunikan cerita bisa kita baca seperti pada judul Riwayat Angin Barat. Mungkin setelah membaca secara keseluruhan dari cerita ini kita akan berkata “Oh, aku sudah sangat hapal dengan cerita ini.” Tapi penulis cerpen ini, Rosyid H. Dimas, menuliskannya dengan alur yang tidak akan disangka oleh pembaca. Ia menceritakan tentang seorang ular yang sangat dalam kerinduan ingin bertemu dengan Kanjeng Nabi, lalu di tengah perjalanan ia diterkam oleh elang. Ular dengan segala cara ingin melepaskan diri dari jeratan elang. Naas mula-mula ia tidak berhasil dan ia hanya mampu berpasrah. Tapi atas izin Allah akhirnya elang tersebut yang malah mengantarkan ular tersebut hingga berjumpa dengan kekasih Allah, Kanjeng Nabi Muhammad.  Pasti semua sudah baca tentang kisah ini kan? Sayangnya penulis tidak menyampaikannya dengan sedatar itu, ia menyampaikan dengan sangat unik, dengan menggunakan subjek Angin Barat. Penasaran bukan? 

Pada kisah yang lain, pembaca akan dibuat tersedu-sedu dengan rasa cinta seorang lelaki tua di tengah arus pemurnian agama pada Kalimat Cinta dan Hujan Bunga yang ditulis Era Ari Astanto. Digambarkan oleh Era bahwa orang-orang dibuat terkejut dengan bunga-bunga yang berserakan di jalanan hingga suatu malam mereka berencana untuk memastikan dari mana asal mula bunga-bunga tersebut. Sontak mereka terkejut karena bunga-bunga itu berjatuhan dari langit layaknya benda-benda kecil yang melayang-layang. Bunga-bunga itu ternyata jatuh dan menguarkan aroma wangi karena kidung-kidung selawat yang dilantunkan seorang lelaki tua. Namun karena kecintaannya itu pula ia harus dipasung serta diasingkan. Ia dianggap telah menyebarkan ajaran sesat di tengah keinginan sebagian umat muslim untuk melakukan tindakan pemurnian agama. Di sini pembaca akan dibuat menitikkan air mata karena meski dipasung karena selawat yang selalu dibacanya tanpa henti tapi cintanya kepada Kanjeng Nabi tidak pernah surut.

Lalu terakhir, buku ini diakhiri oleh kisah seorang yang meragukan Kanjeng Nabi dengan judul Hanya Cinta yang Kita Punya untuk Mengatasi Segalanya yang ditulis oleh Edi Ah Iyubeni. Menurut seorang lelaki tersebut, benarkah kisah-kisah yang melingkupi Kanjeng Nabi itu nyata adanya, seperti kisah yang termuat dalam al-Fil. Bukankah ia mitos belaka? Lelaki itu terdiam ketika diminta untuk membuktikan jika ia meyakininya sebagai mitos. Percakapan demi percakapan antara ‘aku’ dan ‘si lelaki’ itu terus bergulir. Namun Sang ‘Aku’ dalam cerpen tersebut menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang bernada keraguan dari seorang lelaki itu dengan cinta, menjelaskan  dengan cinta bukan marah. Sang ‘Aku’ meyakini bahwa cintalah yang akan mengatasi segalanya bahkan untuk mengatasi keraguan seorang lelaki tersebut kepada Kanjeng Nabi.

Menarik bukan kisah-kisah yang disajikan dalam buku kumpulan cerpen tersebut? Kisah tentang Kanjeng Nabi dan kecintaannya yang disampaikan ulang dengan cerita-cerita menarik yang sesekali membuat dahi mengernyit atau bahkan terisak sedih karena teringat dengan perjuangan Kanjeng Nabi yang diolok-olok oleh mereka yang tak menaruh percaya atau bahkan sikap welas asih Kanjeng Nabi meskipun dihina setiap hari oleh seorang Yahudi yang buta. Dari buku ini kita mampu meneladani Kanjeng Nabi dengan kisah-kisah yang terdapat di dalamnya sekaligus belajar pula bagaimana menyampaikan ulang sejarah Nabi dengan tidak membosankan. Allahumma Shalli ‘ala Sayyidina Muhammad, selawat serta salam atas Panjenengan, Wahai Teladan Umat. Selamat membaca tulisan yang akan mengaduk-aduk emosimu, rindu, sedih, haru tumpah ruah jadi satu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *