Rabu, 23 Desember 2020

Menjadi Seorang Ibu yang Tidak Biasa (Refleksi Hari Ibu)


Meski telat sehari, aku ingin tetap membuat catatan tentang Hari Ibu... 

Pada suatu kesempatan mas garwo nanya, Nabila itu suka makan roti tapi kenapa gak suka bikinnya? 

Aku jawab, waktu kecil beberapa kali bikin sama ibu, tapi sering gagal. Gak pengin nyoba lagi. Kayaknya emang gak bakat baking. Beli aja beres. 😅

Tidak ada dalam benakku sejak kecil tentang masakan ibu yang enak, ibu yang membereskan rumah seharian, ibu yang menyisir rambutku, dan seterusnya. 

Ibuku sangat sibuk mengajar di madrasah dan di pondok. Ibu sangat bersemangat diskusi dengan santri-santri muda. Ibu gak pernah kehabisan ide ngajak santri berkreativitas. Ibuku yang sering tindak ke luar kota dan ke luar negeri. Dulu ibu ikut berbagai organisasi. Aku di rumah bersama ayah, mas, dan neng. 

Ngajiku mulai dari iqro sampai kitab kuning dipegang langsung oleh ayah. Ayah yang telaten mengajariku. Ayah selalu istiqomah ngajar di madrasah dan ngaji di ndalem. Berbeda dengan Ibu, Ayah gak suka tindak-tindak karena lebih suka ngaji dan wiridan. Itulah kenapa aku ngaji dengan ayah. Karena Ayah yang selalu di rumah, kalau pun tindak cuma ke madrasah. 

Ibu mungkin gak memasak sendiri. Tapi sejak dulu sampai sekarang ibu mengatur soal dapur untuk makan ratusan santri 3 kali sehari. Itu butuh skill manager yang canggih. Setiap sudut bangunan rumah, pondok, dan masjid, ibu sendiri juga yang merancang dan mandori. 

Ibu sudah lama menderita sakit kepala yang tak bisa dijelaskan. Meski sakit itu mendera tiap hari, ibu gak pernah berhenti berbuat. Jiawanya sangat dinamis. Karakternya sangat kuat. Sekali menginginkan sesuatu, ibu akan meraihnya sekuat tenaga. 

Ibuku selalu berpenampilan menarik. Bajunya selalu cerah. Wajahnya selalu dandan cantik. Cara berkomunikasinya halus sekaligus terang-terangan. 

Tapi itu pikiranku sekarang... Beda dengan 15 tahun lalu. 

Saat aku masih SMA, aku pernah berkirim surat pada hari ibu. Surat itu bahkan kububuhi foto yang sudah aku edit amatiran di photoshop. Aku print. Aku beli bunga segala. Meski persiapannya tampak indah, tapi surat yang kukirim sangat tajam. Aku protes karena ibu sering tindak sejak aku kecil. Gaya anak remaja cari perhatian. Mendramatisir kenangan melankolis. Gitu deh. Aku mempersiapkan semuanya dengan derai air mata. Tapi respon ibu biasa aja. Gak dibahas banyak. Ibu tahu tugas ibu akan selalu begitu, bahkan sebelum ibu melahirkanku. 

Tugas ibu yang utama adalah tugasnya sebagai putri Abah Nas. Melanjutkan apa yang sudah dimulai Abah. Ngurus santri di pondok dan madrasah yang sangat tidak mudah. Baru kemudian ibu menjalankan tugas sebagai ibu kami. 

Berat sekali. Aku gak bisa niru. Aku masih hidup untuk diriku sendiri. Itu saja masih banyak manjanya. Setajam apa pun aku protes sama ibu waktu itu, nyatanya keteladanan sosial ibu sangat membekas di hatiku. Begitulah ibu dengan jiwanya, gak berhenti berbuat. Aku belum bisa seperti ibu yang sampai saat ini, dalam bahasaku, hidup untuk memenuhi dawuh Abahnya; li'ila'-i kalimatillah


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *