Kamis, 31 Desember 2020

Resensi Buku A Feminist Manifesto: Kita Semua Harus Menjadi Feminis, Chimamanda Ngozi Adichie


Judul buku: A Feminist Manifesto: Kita Semua Harus Menjadi Feminis
Penulis: Chimamanda Ngozi Adichie
Alih Bahasa: Winda A.
Tahun Terbit: 2019
Penerbit: Odyssee Publishing
Jumlah Halaman: viii+79 halaman
ISBN: 978-0-7334-266009-4
Peresensi: Hikmah Imroatul Afifah

“Budaya tidak membentuk manusia. Manusialah yang membentuk budaya. Jadi, jika kemanusiaan penuh wanita bukan budaya kita, maka kita bisa dan harus menjadikannya budaya kita.”

Saat Oktober lalu Kalis Mardiasih mengunggah foto buku-buku bacaannya di akun instagram, saya tertarik dengan satu buku yang bersampul merah muda. Judul buku yang persuasif membuat saya tergerak untuk menuliskannya dalam daftar buku yang harus dibaca. 

A Feminist Manifesto ditulis oleh Chimamanda Ngozi Adichie, seorang perempuan yang dibesarkan di Nigeria, dengan tradisi-tradisi patriarki yang mengakar kuat dalam kehidupan masyarakatnya. Buku ini merupakan modifikasi dari kuliah yang disampaikan oleh Adichie pada Desember 2012 di TedxEuston. Buku yang telah diterjemahkan ke dalam 30 bahasa termasuk bahasa Indonesia ini merupakan buku dengan topik pembicaraan yang agak berat dan menarik, namun terasa easy to read. Selain sebab kepiawaian Adichie dalam menuangkan pemikirannya, alih bahasa yang dilakukan oleh Winda juga cukup baik. Sense of translation yang dimiliki oleh Winda berhasil membuat tulisan-tulisan Adichie menjadi mudah dipahami. Hal ini mematahkan perkiraan saya di awal, bahwa buku ini akan sedikit membosankan karena kalimat-kalimatnya yang wagu, seperti banyak naskah terjemahan pada umumnya. 

Buku ini merupakan gabungan dari dua karya Adichie, yaitu We Should All Be Feminist dan Dear Ijeawele, or a Feminist Manifesto in Fifteen Suggestion. Tulisan berjudul Kita Semua Harus Menjadi Feminis dipilih oleh penulis sebagai pembuka buku ini. Dalam tulisannya tersebut, Adichie mengisahkan pengalaman-pengalamannya sebagai seorang feminis. Di Kota Lagos–di mana Adichie menghabiskan masa kecilnya-Adichie menerima perlakuan yang tidak adil karena dia seorang perempuan. Saya rasa, hal serupa juga terjadi dengan banyak perempuan lainnya di belahan dunia mana saja. Adichie mengisahkan pengalamannya gagal sebagai pengawas kelas meski nilainya lebih tinggi dari laki-laki yang dipilih sebagai pengawas kelas. Yang lebih menyakitkan lagi, guru masa kecil Adichie juga berkata bahwa menjadi pengawas kelas adalah kodrat anak laki-laki. Dia juga mengisahkan pelayan sebuah restoran yang mengabaikan kaum perempuan. Rentetan kejadian yang menjadi representasi fakta bahwa perempuan adalah makhluk nomor dua dijabarkan dengan jelas oleh penulis. Namun ada satu kejadian yang membuat saya merasa amat sedih. Usai Adichie mempromosikan novelnya yang berjudul Purple Hibiscus, seorang jurnalis laki-laki melabeli Adichie sebagai perempuan yang tidak bahagia bersama suaminya, sebab novel yang ditulisnya tersebut ditengarai sebagai novel feminis. See, betapa ribetnya menjadi seorang feminis.

Setelah menutup bagian pertama dengan kalimat “Kita semua, perempuan dan laki-laki harus bertindak dengan lebih baik”, penulis  mengajak pembaca untuk beralih ke bagian dua dengan judul Teruntuk Ijeawele: Manifesto Feminis dalam Lima Belas Anjuran. Pada bagian kedua ini, penulis menceritakan lima belas anjurannya pada Ijeawele untuk membesarkan anak perempuan Ijeawele yang bernama Chizalum. Anjuran pertama yang disampaikan Adichie adalah “Jadilah manusia sepenuhnya.”  Sepintas anjuran ini akan membuat beberapa orang mengernyitkan dahi. Bagaimana tidak, kita ini memang sudah manusia yang utuh sejak lahir. Namun dalam perjalanannya, tidak sedikit dari kita yang memang lupa makna manusia dan memanusiakan yang lainnya. Di anjuran selanjutnya, penulis berpesan pada Ijeawele untuk mengajari anaknya tentang kebersamaan dalam melakukan sesuatu. Menurut saya, dua anjuran ini memang sengaja diletakkan di awal oleh penulis. Keduanya adalah pondasi bagi tiga belas anjuran selanjutnya.

Dengan total halaman yang tidak mencapai angka 100, Adichie mampu membuat pembaca untuk merenungi soal feminisme. Dengan selipan humor dan satir, tulisan-tulisan Adichie juga secara tegas mengabarkan bahwa patriarkisme yang mengakar kuat sesungguhnya tidak hanya menjadi siksa bagi perempuan, namun juga bagi laki-laki. Ulasan singkat ini tentu tidak mampu menggambarkan bagaimana serunya momen tertawa kecil, mengernyitkan dahi, dan beberapa kali anggukan tanda sepakat ketika membaca kalimat demi kalimat di buku ini. Maka tidak ada jalan lain untuk membaca sendiri buku Adichie ini, agar kita tidak penasaran dengan tiga belas anjuran selanjutnya, pun agar kita kembali bertanya pada diri sendiri perihal apa itu feminisme dan mengapa kita harus menjadi seorang feminis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *