Senin, 04 Januari 2021

Resensi Buku Kepada Puisi, A. M. Rojabi

Judul buku​​: Kepada Puisi
Penulis​​​: A. M. Rojabi
Tahun Terbit​​: 2020
Penerbit​​: Halaman Indonesia
Jumlah Halaman​: vii+114 halaman
ISBN​​​: 978-602-0848-69-3
Genre​​​: Sastra
Peresensi​​: Hikmah Imroatul Afifah
 


Jika puisi adalah jarak
dan menunggu adalah waktu
Maka bertemu denganmu
adalah hari rayaku
 
Kumpulan sajak yang dihimpun oleh Abdullah Muflih Rojabi—atau biasa dipanggil Obi—dalam buku ini adalah penggalan-penggalan sajak yang ditulisnya sejak 2015 hingga 2019 lalu. Penulis membagi buku ini menjadi lima bagian, sesuai dengan tahun puisi tersebut ditulis. Menariknya, pembaca akan disuguhi ilustrasi yang ciamik setiap akan berganti bagian. Unsur estetis di dalamnya tentu menjadikan buku ini cukup instagramable.

Buku yang diberi pengantar oleh KH. Husein Muhammad ini berisi sajak-sajak sederhana, namun kaya makna. Pilihan diksi yang dipakai oleh penyair juga terasa indah. Dalam sajak-sajak yang ditulis oleh Obi, pembaca akan menemui kerinduan yang digambarkan dengan cukup megah. Kadangkala pembaca juga dihadapkan pada situasi sunyi yang benar-benar sempurna. Membaca baris demi baris dalam buku ini menyadarkan saya bahwa betapa perasaan itu susah sekali dideskripsikan. Seberapa pun cinta, rindu, sepi, dan ingatan akan kenangan digambarkan dengan kalimat-kalimat indah, tetap saja ada bagian yang tidak terungkap dengan sempurna.

Saya amat menikmati sajak-sajak karya penyair muda ini. Namun lazimnya sebuah karya, adalah suatu hal yang maklum apabila terdapat satu-dua kekurangan di dalamnya. Seperti halnya “Kepada Pusi” ini, saya menemukan penulisan di-, ku-, dan kau- yang kurang tepat. Selain itu saya juga menemukan satu-dua penulisan –nya dan –mu yang harusnya digabung dengan kata sebelumnya, namun ditulis secara terpisah. Terlepas dari kelalaian-kelalaian kecil seputar proof-read, buku ini saya rekomendasikan untuk Anda baca sembari merasai rindu yang membuncah. Jika ingin membacanya sebab ingin mengenang yang sudah-sudah —dan ditemani dengan kepul asap secangkir kopi—, tentu boleh-boleh saja :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *