Kamis, 28 Januari 2021

Resensi Buku Drupadi, Seno Gumira Ajidarma

Judul: Drupadi
Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Jumlah Halaman: 149 halaman
Penerbit​​: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan​​: 2017
Peresensi​​: Chely Yustiviani


“Apalah artinya Pandawa tanpa Drupadi.” Sepotong kalimat itu terbaca di sampul belakang buku ini. Sepotong kalimat yang bisa membuat siapa saja langsung terbayang betapa hebatnya sosok Drupadi. Bagaimana tidak? Berbicara tentang Pandawa saja pikiran kita sudah membayangkan lima orang lelaki yang perkasa.

Di buku ini, sang penulis, Seno Gumira Ajidarma (SGA) mengisahkan sosok Drupadi dari awal kelahirannya hingga ia tiada. Buku ini tidak hanya berisi gambaran tentang sosok Drupadi yang melegenda akan kecantikannya tetapi juga sosok Drupadi sebagai seorang perempuan yang kuat dan berpengaruh.

Dalam buku ini SGA menggambarkan kecantikan Drupadi dengan detail dan indah. 
Drupadi lahir dengan kecantikannya yang mempesona. Dengan penggambaran yang epik dan detail, siapa saja yang membaca buku ini bisa berimajinasi betapa cantiknya sosok Drupadi. Penggambaran kecantikan ini nampak di bab awal buku Drupadi.


Dewi Drupadi tidak pernah dilahirkan. Ia diciptakan dari sekuntum bunga teratai yang sedang merekah. (hal2).

...
Secantik-cantiknya putri itu dalam bayangan mereka, setelah melihatnya sendiri meski dari jarak yang jauh, ternyata Dewi Drupadi memang begitu rupa cantiknya sehingga kecantikannya tiadalah terkatakan lagi. (hal 5).
...
“Begitu cantiknya Drupadi memang, matanya berbinar-binar dan bersinar, membuat mata siapapun yang memandang tiada bisa lepas lagi darinya.” (hal 17).

Selain cantik, Drupadi juga digambarkan sebagai sosok yang kuat dan berani menyampaikan pendapat. Hal ini nampak pada saat Drupadi berani menyampaikan pendapatnya di tengah–tengah sayembara untuk menikahinya. Pada bab ketujuh, SGA menghadirkan satu bab khusus berjudul Wacana Drupadi. Di bagian ini, Drupadi menjadi sosok yang berani mengungkapkan pendapatnya di tengah-tengah kerumunan.

“Semua orang memperhatikan perempuan itu, yang rambutnya terurai tak pernah disanggul. Ia mengenakan sari berwarna biru langit, sederhana seperti seorang Sudra, namun matanya cemerlang seperti permata.” (hal 96)

“Aku telah bersumpah tidak akan menyanggul rambutku jika belum dikeramas dengan darah Dursasana. Apakah karena aku seorang perempuan dan seorang istri, maka aku takbisa memberikan sesuatu kepada lima suamiku? Yudhistira berjudi kembali atas nama kehormatan Pandawa. Apa yang salah dengan diriku? Apa yang tidak terhormat dari pemberianku? Itu penghinaan kepada perempuan!” (hal 96).
 
------

Drupadi bertemu dengan takdirnya di medan sayembara. Menikahi orang yang dicintainya, Arjuna, akan tetapi sekaligus menjadi istri para Pandawa. Sebuah kalimat penggambaran yang tepat juga muncul dalam novel SGA ini, “Segala kemuliaan sebagai putri istana dan permaisuri maharaja telah didapatkannya. Namun, segala kenistaan yang bahkan tidak akan dialami manusia tanpa kasta pun diarunginya.”

Bahagia dan derita telah menjadi bagian dari kehidupan Drupadi setelah menjadi istri Pandawa. Tidak pernah terbayangkan betapa tersayatnya perasaan Drupadi saat dijadikan taruhan di atas meja judi oleh suaminya sendiri. Diperkosa oleh kurawa di hadapan para suaminya.

Penggambaran yang sangat menyedihkan bagi seorang perempuan yang tidak pernah dihargai pendapatnya. SGA, bahkan menggambarkan sosok Drupadi yang harus terhina terlebih dahulu oleh Kurawa baru dapat menyampaikan pendapatnya. Ironis.

Bukankah pria dan wanita sesungguhnya setara? Tapi mereka tidak pernah menyertakan perempuan! Aku adalah istri mereka berlima. Mereka bahkan tidak bertanya apa pendapatku! Padahal di antara semua orang yang hadir di sini, hanya akulah terseret-seret oleh segenap kebodohan Kurawa. (hal.96)

Novel ini berakhir dengan kematian Drupadi yang begitu menyayat hati. Setelah dendamnya terhadap Dursasana telah usai, Drupadi harus menjalani karma dengan kehilangan anaknya. Bahkan saat kehilangan anaknya pun ia harus meyakini hal tersebut sebagai takdir yang harus ia lalui karena dosanya terhadap Kurawa.

Drupadi dan kelima Pandawa melaksanakan yoga pemusnahan, suatu cara untuk menyalakan jiwa dengan sumber kehidupan. Pergilah mereka ke Puncak Mahameru, yang dianggap puncak dari segala puncak di mana tidak bisa diraih oleh hati yang sempurna. Di perjalanan menuju Puncak Mahameru, Drupadi harus melihat kelima suaminya semakin jauh berjalan, meninggalkannya yang sudah kepayahan. Drupadi meregang nyawa seorang diri tanpa ada tatapan hangat kelima suaminya. Drupadi seda dengan salju yang membekukan tubuhnya.

-----------

Sosok Drupadi dalam novel SGA ini terasa lekat hubungannya dengan kehidupan Perempuan saat ini. Banyak hal yang harus diperjuangkan dalam hidup seorang perempuan. Bagi yang beruntung akan dikelilingi orang–orang baik yang menemaninya berjuang, bagi yang kurang beruntung, berjuang sendiri sampai akhir adalah satu-satunya pilihan.

Membaca buku ini membuat perasaan seakan diremas–remas, hati tersayat, geram dan sedih. Tetapi di sisi lain, ada secercah bukti, bahwa perempuan bisa memiliki pengaruh dan bisa sekuat Drupadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *