Senin, 25 Januari 2021

Resensi Buku Rara Mendut, Y. B. Mangunwijaya

    Judul BukuRara Mendut

PengarangY. B. Mangunwijaya

PenerbitGramedia Pustaka Utama

Tahun TerbitOktober, 2019

Jumlah Halaman: 338

Genre: Fiksi Sejarah

PeresensiIffah Hannah

 



Rara Mendut adalah novel pertama dari trilogi Rara Mendut (Rara Mendut, Genduk Duku, dan Lusi Lindri) karya Romo Mangun. Berlatar zaman kerajaan Mataram, novel ini mengisahkan pasca penyerangan Pati oleh tentara Mataram yang dipimpin oleh Tumenggung Wiraguna. Bersamaan dengan tumbangnya Adipati Pragola di Pati, seluruh harta dan perempuan milik Adipati diboyong sebagai rampasan perangke Mataram. Termasuk Rara Mendut serta dua dayangnya, Genduk Duku dan Nyai Semangka. 



Jauh sebelum perang berkobar antara Pati dan Mataram, Rara Mendut adalah perempuan pantai yang hidup di kampung nelayan Telukcikal, Pantai Utara Jawa bersama keluarga Siwa (paman tuanya). Ia gadis yang gesit dan cekatan, begitu pantasnya menjadi nelayan bahkan nahkoda. Namun, karena Adipati Pragola menaruh hati padanya, diboyonglah Rara Mendut ke kadipaten. Belum sempat dijadikan selir, Adipati Pragola yang didesas-desuskan mau memberontak melawan Mataram kemudian diamuk habis oleh tentara Tumenggung Wiraguna. 



Wiraguna pulang membawa kemenangan dan rampasan perang yang begitu banyaknya. Dan ketika Raja Mataram menawarkan hadiah untuk jasanya yang sudah membawa kejayaan bagi Mataram, Wiraguna hanya meminta satu perempuan saja untuk jadi selirnya: Rara Mendut. Gadis Pantai Utara yang memikat hatinya. Tentu saja permintaan itu dikabulkan oleh Raja. Bahkan seandainya Wiraguna meminta sepuluh perempuan pun. 



Karena Rara Mendut, Genduk Duku, dan Nyai Semangka adalah satu paket, maka boyongnya Rara Mendut ke puri Wiraguna juga disertai oleh dua dayang setianya itu. Tapi, tanpa dinyana, Rara Mendut ternyata menolak Wiraguna mentah-mentah. Bukan karena tumenggung itu sudah tua bangka, tetapi karena hati Rara Mendut pun sudah tertambat pada satu pemuda. Pemuda dari Pekalongan. Pranacitra namanya.



Bukan Wiraguna namanya, jika menyerah begitu saja pada penolakan Rara Mendut. Dengan berbagai cara, ia menekan Rara Mendut supaya gadis itu tidak lagi bisa menolaknya. Dipaksanya ia untuk menyetorkan uang harian dari 3 real, kemudian naik menjadi 10 real, sampai 20 real per hari. Semua dilakukan untuk membuat Rara Mendut menyerah. Tapi gadis itu menolak menyerah. Ia sampai berjualan rokok di pasar Bersama dayang-dayangnya untuk mengumpulkan uang “pajak” Wiraguna.



Nyai Ageng, garwa padmi (istri utama) Wiraguna dan sebagian besar selir Wiraguna awalnya membenci Mendut, namun lambat laun mereka menaruh iba juga. Sekuat tenaga, mereka membujuk Wiraguna untuk jangan terlalu keras menghadapi Mendut. Tentu saja, nasihat itu tidak didengarkan oleh Wiraguna. 



“Apa hikmah huruf-huruf Jawa? Ditaling ditarung dipepet dipada tetaplah kata dan kalimat berjalan terus. Tetapi bila dipangku, berhentilah segalanya. Mengalahkan lawan jangan dengan pertarungan, dengan pukulan, dengan penjegalan, pencekikan, dan sebagainya. Lawan harus dipangku, dibelai, dicium, begitulah ia akan lemas dan menyerah.” (Hal. 141)



Hingga suatu hari, Rara Mendut memutuskan untuk lari bersama Pranacitra. Wiraguna yang marah, mengerahkan pasukannya untuk mengejar dua orang ini. Sungguh pun memalukan karena hanya karena perkara satu gadis saja, Wiraguna sampai harus menurunkan pasukan seolah menghadapi musuh besar saja, tetapi harga dirinya yang terluka karena ditolak oleh seorang gadis Pantai Utara yang bukan siapa-siapa membuatnya semakin keras hati. 



Rara Mendut dan Pranacitra tahu apa yang menanti mereka jika pelarian mereka gagal, tapi bagi mereka “kemerdekaan tidak pernah hanya hadiah belaka. Kemerdekaan harimau pun, garuda pun, adalah buah perjuangan kesadaran harga diri” (hal330). Sehingga, dengan tersenyum, mereka berdua pun bersiap dengan segara takdir yang menanti mereka di depan mata. “Sebab asmara dapat padam, tetapi kesetiaan mengatasi maut, dan sanggup melagukan gendhing mistika yang berwarta, bahwa Yang Maha Pencipta adalah Mahakuasa sekaligus Mahacinta. Dan cinta berarti setia” (hal 273).



Rara Mendut adalah karya Romo Mangun kedua yang saya baca setelah Burung-burung Manyar. Sebagaimana novel Burung-burung Manyar, Rara Mendut ini pun membuat saya berlinangan air mata. Betapa ya, keindahan itu nyaris selalu lekat dengan kesedihan. Selaiknya dua sisi mata koin yang sama. Sementara kekuasaan, dalam bentuk apapun, memanglebih kerap menindas dari pada mengayomi. Bahkan dalam urusan cinta pun. Satu hal yang selalu mengagumkan dari tulisan-tulisan Romo Mangun adalah betapa narasi ceritanya dibangun dengan sangat memukau. Sesekali, ditemukan juga kalimat-kalimat penuh kebijaksanaan yang alih-alih terasa menggurui, tapi justru lebih terasa menenangkan jiwa.  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *