Home Ads

Senin, 28 Juni 2021

Resensi Buku Dari Dalam Kubur, Karya Soe Tjen Marching

sumber: dokumentasi Iffah


Judul Buku: Dari Dalam Kubur

Penulis: Soe Tjen Marching

Penerbit: Marjin Kiri

Tahun Terbit: 2020

Genre: Fiksi

Jumlah halaman: 508 halaman

Peresensi: Iffah Hannah


“Apapun yang dianggap tinggi, benar, dan suci harus dipertanyakan.” (hal. 277)


Kalau ada judul, baik film maupun buku, yang menyematkan kata “kubur” kadang asosiasinya udah soal cerita horor aja ya atau yang berhubungan dengan hantu-hantu. Meskipun begitu, novel “Dari Dalam Kubur” Mbak Soe Tjen ini tidak bercerita soal hantu-hantu ala film horor Indonesia seperti Suzanna dan lain-lain sih, tapi berkisah tentang peristiwa berlatar sejarah yang nggak kalah mengerikan karena kisahnya ternyata bukan cuma rekaan penulisnya belaka. 


Novel ini terbagi menjadi 5 bagian dengan 2 bagian pertama yang mendominasi dan 3 bagian terakhir yang hanya terdiri dari seratusan halaman saja. Secara keseluruhan, isi novel ini adalah trauma dan luka. Dan membacanya, betul-betul tidak saja menguras energi tetapi juga mengaduk-aduk emosi. Selama tiga harian menamatkan novel ini, saya tidak enak makan, susah tidur, dan kerap menangis saking frustasinya. Saya tidak sanggup membayangkan, bagaimana para korban itu menjalani hidupnya selama ini jika saya yang hanya membaca sepenggal kisahnya saja bisa sedepresi ini.   


Novel ini dimulai dari penuturan Karla, yang seluruh hidupnya berisi kemarahan pada ibunya. Sampai dendamnya yang kesumat membuat Karla begitu ingin menghabisi nyawa ibunya sendiri. Tetapi penulis memaksa kita untuk ikut merasakan apa yang dilalui Karla sampai membuat Karla begitu membenci ibunya melalui narasi yang dituturkan dari sudut pandang Karla. Bagaimana Karla kecil memuja ibunya bagai Tuhan, bagaimana Karla yang beranjak dewasa yang mulai merasa ibunya tidak menginginkannya, dan bagaimana Karla dewasa akhirnya merasa perlu melenyapkan sosok ibu yang seperti iblis di matanya. Dan itu membuat saya bahkan tidak sanggup menghakimi apakah kemarahannya adalah hal yang salah atau tidak. Justru yang terjadi adalah, saya pun terbawa dengan rasa marah dan kecewa. Kecewa pada segala ketidak-adilan, diskriminasi, dan frustasi yang dialami Karla. 


Bagian selanjutnya yang mengisahkan penuturan Djing Fei, ibu Karla, yang berganti nama menjadi Lydia Maria, seolah menjadi kepingan puzzle yang menjawab mengapa Karla merasakan kepedihan dan kemarahan pada sosok ibunya. Jika di bagian kisah Karla disebutkan mengenai prahara reformasi yang mengisahkan pemerkosaan pada ratusan perempuan Tionghoa serta penjarahan-penjarahan terhadap mereka, di bagian kisah Djing Fei dituturkan bagaimana prahara politik 65 yang membuat Djing Fei menjadi salah satu korban yang diciduk, dipenjara, disiksa, dan diperkosa bersama dengan ratusan orang lainnya. Membaca bagian ini membuat saya memahami bagaimana perlakuan Djing Fei terhadap Karla sebab menjadi Tionghoa saja tidak mudah, apalagi Tionghoa eks-tapol.


Sementara 3 bagian terakhir lebih melengkapi kisah ibu dan anak yang tidak sempat ternarasikan juga perkembangan terkini paskameninggalnya Djing Fei karena sakit. Di bagian-bagian terakhir ini juga dikisahkan beberapa pengakuan-pengakuan korban di International People’s Tribunal’ 65 November 2015 yang membuat saya menangis pedih, apalagi mendapati beberapa nama korban yang saya kenal dan pernah bertemu langsung beberapa kali.     

 

Saya tidak tahu harus bagaimana menceritakan isi buku ini dengan lebih baik lagi. Yang pasti, buku ini mengisahkan sejarah yang barangkali tidak sempat kita baca atau kita ketahui selama ini melalui betapa babak-belurnya sebuah keluarga karena prahara politik. Dan tentunya sejarah yang tidak pernah masuk ke dalam buku-buku pelajaran sekolah kita. Buku ini membantu kita memahami kenapa sampai sekarang kata “Cina,” dan “PKI” terus menjadi ‘hantu’ yang membuat orang-orang masih kerap ketakutan. Ketakutan yang dikonstruksi. Juga membantu kita memandang dengan lebih adil dan menilai, mana yang fitnah belaka, mana yang fakta.


Dan dengan hati pedih dan mata sembab, saya mengamini kata-kata Bu Yatmi pada Djing Fei tentang menulis:


“Menulis itu penting untuk kesadaran politik. Djing tahu, kenapa kita bisa dijajah dengan mudah? Karena orang-orang ndak eling politik bakal ikut siapa pun yang kuat, yang bisa ngisi perut yang kosong.” (hal. 229)


Terima kasih Mbak Soe Tjen, yang sudah sangat berani menuliskan buku ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *