Sabtu, 27 Februari 2021

Resensi Buku The French Revolution, a study in democracy, Nesta Webster

 Saat Kekuasaan Benar-benar di Tangan Rakyat




Judul Buku: The French Revolution, a Study in Democracy

Pengarang: Nesta Webster

Penerbit: London Constable and company ltd

Tahun Terbit: 1919 cetakan kedua

Jumlah Halaman: 554

Genre: Sejarah

Nama Peresensi: Aida Mudjib


Dalam sejarah dunia hampir tidak ada revolusi yang berdampak lebih besar kepada sekeliling daripada Revolusi Perancis pada tahun 1789. Yaitu ketika Ancièn Regime digantikan monarki konstitusional. Peristiwa tersebut 3 tahun kemudian memicu berdirinya Republic Perancis dan eksekusi Louis XVI sekeluarga. Sebelum revolusi, rakyat Perancis hanya memiliki sedikit kekuasaan atau suara dalam politik. Buku ini berusaha mengungkap terjadinya Revolusi Perancis sebagai studi atas demokrasi. Bagaimana gaung kekuasaan dari, oleh, dan untuk rakyat bermula sebelum menjalar di Benua Eropa.


Nesta Webster merupakan penulis sejarah yang berafiliasi dengan kelompok politik sayap kanan dan merupakan salah satu pendukung antisemitic dan antimasonik. Winston Churchill memuji Webster dalam sebuah artikel tahun 1920 "Gerakan di antara orang-orang Yahudi bukanlah hal baru. Dari zaman Spartacus  -Weishaupt ke orang-orang dari Karl Marx, dan ke Trotsky (Rusia), Bela Kun (Hongaria), Rosa Luxembourg (Jerman), dan Emma Goldman (Amerika Serikat), konspirasi di seluruh dunia ini untuk penggulingan peradaban dan untuk rekonstitusi  masyarakat atas dasar kekacauan, kedengkian dan kesetaraan yang mustahil, telah berkembang dengan mantap. Ini dimainkan, seperti yang ditunjukkan oleh seorang penulis modern, Ny. Webster, dengan sangat cakap-, bagian yang pasti dapat dikenali dalam tragedi Revolusi Prancis."


Menurut Webster, yang menghidupkan kembali teori tentang konspirasi Illuminati jauh sebelum Dan Brown menulis novel petualangan Robert langdon, beberapa peristiwa di dunia termasuk Revolusi Perancis, revolusi 1848 perang dunia pertama hingga revolusi bolshevik di Rusia merupakan kejadian yang bersumber dari gerakan bawah tanah yang didalangi oleh suatu kelompok Yahudi.


Ada 8 Bab dalam buku ini. Diawali oleh prologue tentang situasi Perancis secara umum sebelum revolusi, kondisi Paris, aktor-aktor yang berperan, ambisi perebutan tahta oleh sepupu raja Louis yakni Duc de Orlean, peran national assembly hingga ratu Marie Antoinette. Setelah itu, secara runtut membahas penyerbuan Bastille, serangan istana Versailles, invasi istana Tuileries, blockade Tuileries, pembantaian di Bulan September dan diakhiri dengan epilog setelah satu bab mengerikan tentang The Reign of Terror.


Menurut sejarah pada masa awal pemerintahan Louis ke-16, dia melaksanakan suatu jajak pendapat agar bisa mengetahui kondisi sebenarnya dan keluhan rakyat yang sering ditutupi oleh para bangsawan. Dari hasil jajak pendapat tersebut diketahui bahwa rakyat menderita pajak tinggi yang tidak seragam tergantung bagaimana penguasa lokal Duke atau Comte memperlakukan rakyat dan serfs wilayah mereka, ada juga keluhan mengenai munculnya kaum borjuis yang juga suka mengemplang pajak dan menyuap para bangsawan di wilayah perkotaan. Sama sekali tidak ada keluhan atau protes mengenai bentuk kerajaan Perancis dan rakyat semuanya tidak keberatan mengenai bentuk pemerintahan monarki. untuk memperbaiki keadaan sang raja merencanakan untuk membuat suatu aturan baru. 


Menurut webster, naasnya salah satu rencana Raja Louis ke-16 adalah memberikan tambahan pajak pada kaum borjuis dan menghukum para bangsa yang tidak adil kepada wilayah mereka. Banyak dari kaum borjuis berpengaruh adalah lingkungan Etnis Yahudi. Mereka merasa isi dari reformasi itu akan merugikan kepentingan mereka. Akhirnya golongan-golongan tersebut merencanakan kudeta dengan mendukung sepupu raja yaitu Duc D'orleans yang ambisius namun terkenal tidak bermoral. Agitasi, propaganda, desas-desus dan kerusuhan disulut di berbagai wilayah di Paris. Dalam kondisi tersebut kiriman bantuan dari Raja untuk rakyat yang membutuhkan juga dijarah. Institusi kerajaan dilemahkan dengan membuat citra buruk Ratu Marie Antoinette meluas. Berbagai kegagalan ekonomi juga hilangnya jaminan keamanan dijadikan bahan bakar untuk mendiskreditkan raja dan menggulingkan ancient regime.


"It was certainly no easy ask for the party who is the substitute The Duc D'orleans for Louis XVI on the throne of France to persuade the people that the man who treated them with so much insolence had now become the champion of their liberties' 


 His causes must be identified with that of the people... let him then embraced the doctrines in vogue, diseminate them in writing and gain the leaders to his side (hal 11)


Dalam buku ini jika dilihat dengan baik pergerakan Revolusi Perancis, peran rakyat umumnya secara pasif. Hanya pada hari-hari pemberontakan dan penyerbuan saja mereka memainkan peran aktif. Di antara kejadian-kejadian ini, api revolusi nyaris padam, namun tiba-tiba saja bergejolak lagi. Hanya dengan penelitian panjang atas dokumen-dokumen kontemporer dan arsip-arsip lama bisa dilihat bagaimana sebenarnya revolusi ini terjadi. 



Dalam buku ini Webster mempertanyakan opini populer masyarakat Inggris dan Eropa umumnya pada akhir Abad ke-19 dan awal Abad XX bahwa : "The French Revolution was in itself a purely beneficial movement inspired by the desire for liberty and justice. Unhappily it went too far n produced access which though deplorable, will nevertheless the unavoidable accompaniment to the regeneration of the country."


Menurut Webster pernyataan di atas bertentangan dengan logika. Bagaimana mungkin suatu gerakan yang bermanfaat dan murni akan berjalan ' go too far '? Bagaimana mungkin keinginan rakyat untuk mewujudkan keadilan dan kebebasan berakibat tindakan kekejaman Le Terreur dan pertumpahan darah yang tidak pernah dilihat sebelumnya? Jika benar maka Revolusi Perancis adalah reductio ad absurdum dari demokrasi itu sendiri. 


Mengutip Saint Just: "The popular Revolution was the surface of a volcano of extraneous conspiracies. Thus the story of the Revolution as it is usually told us with is poinless crimes, unreasoning violence and hideous waste of life; is simply unintelligible ."


Memberikan kekuasaan ke tangan rakyat secara penuh, seperti digambarkan dalam buku ini, malah menciptakan tirani yang lebih buruk daripada despotisme manapun karena hukum jadi tidak memiliki kepastian dan hanya berdasarkan keinginan dan kepentingan kelompok-kelompok tertentu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *