Rabu, 09 Juni 2021

Resensi Buku Gadis Kretek, Ratih Kumala


 Judul: Gadis Kretek

Penulis: Ratih Kumala

Tebal: 275 halaman

Terbit: Oktober 2019, cetakan keempat

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Genre: Fiksi

Peresensi: Nabilah Munsyarihah


Saya cukup terlambat menikmati novel yang terbit pertama pada 2012 ini. Saya hanya baru berkesempatan membacanya. Seperti banyak pujian terhadap novel ini, Ratih Kumala memang meracik cerita dengan riset mendalam. Novel yang menjadikan kretek sebagai benang merah sepanjang cerita ini menghadirkan dunia kretek seutuhnya.


Gadis Kretek itu bernama Dasiyah. Ia adalah perempuan dari masa lalunya seorang pengusaha kretek nomor 1 di Indonesia dalam dunia novel ini. Jeng Yah-begitu ia disebut-adalah cintanya Soeraja, si pemilik pabrik kretek Djagad Raja.


Petualangan ke masa lalu itu dimulai saat Soeraja hendak mati dan menyebut-nyebut nama Jeng Yah. Ketiga anaknya pun mencari Jeng Yah untuk memenuhi keinginan ayahnya yang sudah struk dan tergerogoti memorinya. Lebas, Tegar, dan Karim pun berangkat ke Kudus, kota masa kecil mereka. Dari potongan memori Soeraja, mereka mendapat informasi, di Kudus lah ia terakhir kali bertemu Jeng Yah.


Lalu Ratih Kumala langsung membawa kita pada masa lalu tanpa tokoh penutur. Dimulai dari generasi pertama yaitu persaingan antara Idroes Moeria dan Soedjagad. Mereka bersaing dalam hal cinta dan usaha. Sebuah persaingan tiada akhir merk dagang kretek di antara keduanya. Idroes tampak selalu menang meski Djagad terus membebek. Sampai akhirnya sebuah peristiwa simbolik terjadi, seorang dukun bayi mengatakan Djagad mencuri ari-ari bayi Idroes untuk mengalahkannya suatu hari.


Idroes sangat beruntung, anaknya Dasiyah menaruh bakat alami dalam meracik kretek. Ia melinting sendiri kretek istimewa untuk bapaknya yang terdiri dari dua bahan istimewa yaitu sari-sari kretek-yang hanya bisa didapat dari hasil melinting kretek seharian-dan ludah Jeng Yah untuk menempelkan papir. Ludah Jeng Yah yang membuat kretek itu lebih manis, konon bak ludah Rara Mendut.


Di situ lah jagad kretek yang berpusat pada seorang perempuan dimulai. Meski tampaknya Jeng Yah mewarisi keteguhan ibunya di masa lalu untuk menjual klobot saat Idroes ditangkap Jepang 2 tahun. Karena tak bisa meludahi semua papir kretek pabrikan, Jeng Yah memformulasi saus istimewa yang membuat Kretek Gadis-merk dagang yang ia kembangkan-agak mirip dengan kretek berludah miliknya. Dengan menjual kebebasan maskulin atas imaji tentang seorang gadis, Kretek Gadis yang memang rasanya enak itu segera berkembang pesat dan merambah kota-kota sekitar. Jeng Yah tinggal di kota kecamatan M antara Yogyakarta dan Magelang. Ialah Muntilan. Ini mengingatkan bagaimana Pramoedya juga menyebut Blora dengan Kota B dalam novelnya.


Lalu drama-drama pun terjadi tentang pengkhianatan laki-laki bernama Soeraja yang pertama kali Jeng Yah temui di pasar malam agustusan dan langsung merebut hatinya. Mereka gagal menikah pada tanggal yang ditentukan, Oktober 1965, karena Soeraja ditangkap tentara. Ia dekat dengan PKI sebab ia  memproduksi kretek untuk PKI sebagai strategi kampanye.


Ratih Kumala sungguh sangat detail menghadirkan istilah dalam dunia tembakau dan kretek. Misal ia menulis 'se-jamang' untuk menggambarkan bagaimana masyarakat petani di Temanggung memungut segenggam tembakau.  Ia juga menghadirkan tembakau srithil yaitu jenis tembakau dengan kadar nikotin tertinggi yang jadi campuran utama dalam rokok. Yang tak dijelaskan Ratih adalah bagaimana pengusaha rokok menghadapi naik turun kualitas tembakau yang tak selalu bagus setiap tahun. Tapi seperti yang orang tahu tentang industri kretek, persoalan perbedaan kualitas tembakau yang dicampur itu relatif diselesaikan oleh sebuah inovasi bernama saus. Rasa saus ini yang menjadi identitas sebuah merk dagang kretek, bukan kualitas tembakau yang tak selalu bisa konsisten dari tahun ke tahun. Rasa saus itu yang menyeragamkan semua bahan tembakau pabrik. Sesuatu yang tak bisa ditemukan dalam industri kecil tembakau yang mengedepankan 'single origin' kalau boleh meminjam istilah dalam dunia kopi.


Yang menarik bagi saya adalah ilustrasi logo merk dagang yang mengawali setiap bab. Logo-logo itu didesain seperti benar-benar dibikin di latar waktu novel ini. Ketika saya menilik halaman identitas buku, saya menemukan ilustratornya, yaitu Iksaka Banu. 


Iksaka Banu yang saya kenal adalah penulis novel sejarah yang sedang banyak digemari belakangan ini. Meski Gadis Kretek berlatar sejarah dan Ratih menyebut kota seperti Pram menyebutkannya, tapi nuansa Pram tak hadir selain hanya dalam sebutan kota itu semata. Namun, jika membaca karya Iksaka Banu entah kenapa pasti teringat Pram, meski sudut pandang yang ditulis berbeda. Saya cuma ingin menyebut, kemampuan Iksaka Banu menulis novel sejarah setara Pram, paling tidak dalam penilaian saya.


Iksaka Banu sebelum menggeluti novel adalah pegiat iklan. Saya tak menyangka bahwa ia memiliki kemampuan grafis yang demikian ciamik. Saya lalu bergumam, pantas saja logo-logo brand kretek ini begitu lawas dan kuat, yang menggarapnya adalah orang yang paham latar sejarah sekaligus mengerti dunia iklan.


Ringkasnya, Gadis Kretek adalah novel yang renyah untuk sebuah novel sejarah. Kesungguhan penulisnya sangat terasa di sepanjang cerita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *