Rabu, 09 Juni 2021

Resensi Buku Tempat Terbaik di Dunia, Roanne Van Voorst

 Menyaksikan Tempat Terbaik di Dunia dari Kacamata Seorang Antropolog Belanda



Judul : Tempat Terbaik di Dunia

Penulis : Roanne Van Voorst

Tahun Terbit : 2018

Penerbit : Marjin Kiri

Genre: Fiksi

Peresensi: Pratiwi Ws 


Bagaimana jadinya jika seorang mahasiswa antropologi dari negara terkemuka harus melakukan riset ke negara dunia ketiga —negara bekas jajahan perompak dari negerinya selama beratus tahun lamanya?

“Don’t judge a book by its cover,” tidak berlaku bagi saya ketika menemukan buku ini untuk pertama kalinya. Diterbitkan oleh Marjin Kiri dalam versi bahasa indonesianya, buku ini termasuk dalam daftar buku wajib beli bagi saya dua tahun yang lalu. Sebagai penerbit independen, Marjin Kiri menjadi rujukan utama saya dalam mencari buku-buku yang saya anggap memiliki kualitas yang baik, terutama buku-buku terjemahan yang mereka terbitkan.

Kembali lagi ke buku tulisan Roanne, “Tempat Terbaik di Dunia” mengisahkan pengalaman hidupnya selama lebih dari satu tahun tinggal di suatu kampung kumuh di pinggiran kota Jakarta untuk melakukan penelitian sebagai bahan disertasinya. 

Roanne menegaskan bahwa ia berusaha untuk tidak terlalu sentimentil dalam menggambarkan kampung bantaran kali, kampung yang ia akui sebagai tempat terbaik di dunia dalam tulisannya sepanjang seratus delapan puluh lima halaman dalam buku ini. Meski demikian, saya tetap menemukan satu dua kalimat yang tidak bisa tidak membikin mata saya berkaca-kaca saat membayangkannya. 

Pertemuannya dengan Tikus, bocah pengamen kurus yang memperkenalkannya pada bantaran kali beserta penduduk di dalamnya, terjadi di dalam sebuah angkutan kota. Ia pasrah dibawa oleh Tikus setelah ia gagal menemukan hunian di daerah rawan banjir seperti yang diinginkannya lewat jalur perangkat kelurahan.

Dari cerita pengalaman Roanne selama tinggal di kampung bantaran kali, kita bisa menyaksikan kehidupan masyarakat miskin kota di pinggiran Jakarta. Bagaimana mereka memenuhi kebutuhan sekaligus gaya hidup di tengah kemiskinan yang menghimpit mereka, bagaimana perkumpulan ibu-ibu pengajian bisa dengan ajaib menggabungkan kegiatan rohani dengan urusan jasmani (sex!). Terutama, bagaimana mereka menyiasati banjir yang jadwal kedatangannya lebih rutin dari acara arisan mingguan. Terlebih yang mereka hadapi bukan banjir semata kaki, melainkan banjir yang tingginya seringkali melewati tinggi kepala orang dewasa. Problematika itu diceritakan Roanne dengan gaya bertutur yang ringan dan jenaka. Kadang sering juga saya temui ungkapan satir tiap kali ia bercerita tentang Tikus dan para tetangganya yang lain.

Pada bab empat, Roanne memberikan judul yang menggelitik sekaligus membuat miris, “Jangan Pernah Percaya Dokter”. Saya kira, ungkapan itu tidak hanya diamini oleh penduduk bantaran kali. Ungkapan itu bahkan sudah menjadi kepercayaan bagi sebagian besar masyarakat miskin hampir di seluruh tempat di Indonesia. Mulai dari ditolak karena tidak punya simpanan yang cukup untuk membayar setoran awal, sampai jadi korban malapraktik, adalah cerita yang sudah terlalu sering kita dengar. Sehingga, kematian tak wajar yang harusnya bisa dipermasalahkan dan dibawa ke meja hijau, justru menjadi momok dan pengingat bahwa orang miskin dilarang sakit dan dilarang berobat ke rumah sakit.

Secara garis besar, kita bisa menyaksikan dari kacamata Roanne, bagaimana kemiskinan di suatu kampung bisa menghasilkan sebuah kultur baru. Kekacauan pola hidup yang bercampur baur dan tumpang tindih, di sisi lain masih bisa menghasilkan suatu hubungan yang harmonis antar penghuninya. Keharmonisan bisa kita saksikan ketika suatu hari beberapa rumah di kampung bantaran kali mengalami kebakaran. Mereka dengan segera berbondong-bondong menyusun barisan manusia demi bisa memadamkan api dengan ember-ember kecil berisi air yang mereka salurkan dari tangan ke tangan.

Barangkali ketulusan dari tindakan sederhana merekalah yang membuat Roanne memutuskan untuk menuliskan pengalamannya selama tinggal di bantaran kali, sekaligus mengisahkan orang-orangnya yang istimewa. Saya kira, buku ini baik dibaca bagi siapa saja yang ingin mengetahui sisi lain kehidupan kota Jakarta selain kemewahan dan hingar-bingar yang terlalu sering kita jumpai di acara-acara televisi tanah air.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *