Home Ads

Jumat, 11 Februari 2022



Judul Buku: Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas 

Pengarang: Eka Kurniawan

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit: November, 2021 (cetakan keempatbelas)

Jumlah Halaman: 243

Genre: Fiksi

Peresensi: Iffah Hannah


‘Seorang kecil

Lengannya menggigil

Tersudut diam dan bugil


Seorang besar

Di tangannya bedil

Menghunus peluru sebutir


Aku lah kuasa

Kau hanyalah siapa

Bangun bajingan

Diam lihatlah

Bangun bajingan

Berdiri dan lawan’

(Bangun Bajingan, Ananda Badudu)


Lagu yang dinyanyikan Ananda Badudu dan Rubina berkolaborasi bersama Dave Lumenta dan Lie Indra Perkasa mengalun di perangkat musik mobil yang tersambung dengan Spotify melalui bluetooth. Perjalanan Sumenep-Purwokerto belum ada setengahnya. Jalan tol begitu lengang. Gerimis kecil menerpa membentur kaca jendela mobil yang melaju cepat. Saya melirik angka di speedometer sambil sesekali mengomel setiap jarumnya melewati angka 100, meminta Raedu untuk buru-buru menurunkan kecepatan. 


“Bangun bajingan, berdiri dan lawan!” seru Ananda Badudu di reff lagu, yang langsung ditimpali oleh Raedu, “Bagus lagunya, ini soundtrack filmnya Eka? Nemu di mana?” Ia bertanya karena kami sama-sama belum menonton filmnya. “Di IG story Mas Dave Lumenta,” jawab saya menyebutkan nama salah seorang dosen dan musisi yang saya kenal itu. “Jadi penasaran sama filmnya,” Raedu menyambung lagi. Saya mengiyakan dalam hati. Yang sayang sekali, begitu kami memutuskan untuk ke bioskop beberapa hari kemudian, filmnya sudah tidak tayang.


Akhirnya, saya memilih untuk membaca bukunya saja. Buku yang sudah dibeli sejak lama, tapi selalu saja tidak sempat membacanya (alasan saja!).


Novel ini diawali oleh kisah Ajo Kawir, yang burungnya tidak bisa bangun atau ngaceng. Bagian berikutnya menjelaskan peristiwa yang menjadi penyebab burungnya tak lagi bisa berdiri. Sampai bertahun-tahun berikutnya.


Eka menarasikan kisah ini dengan bahasa yang vulgar, cerita yang sarat dengan kekerasan dan brutal. Betul-betul mengganggu rasa nyaman orang-orang yang membacanya. Tapi, katanya karya yang bagus kan begitu: karya yang mengganggu, karya yang mengusik.


Peristiwa itu bermula ketika Ajo Kawir belia diajak sahabatnya, Si Tokek, mengintip kediaman perempuan gila bernama Rona Merah. Di sana, mereka menyaksikan perkosaan yang dilakukan oleh dua polisi terhadap perempuan gila itu. Ketika Ajo Kawir ketahuan mengintip (Si Tokek berhasil kabur), kedua polisi itu memaksa Ajo Kawir untuk ikut memerkosa Rona Merah. Tanpa disangka, burung Ajo Kawir tidak bisa berdiri (sampai beberapa puluh tahun kemudian) dan ia pun lolos dari upaya pemaksaan perkosaan itu tadi. Barangkali, tidurnya si burung itu melambangkan resistensi terhadap kekerasan yang dimanifestasikan oleh perkosaan kedua polisi terhadap perempuan gila yang tak berdaya itu.


Segala cara dilakukan untuk membuat si burung kembali berdiri, tapi burung itu memilih untuk tidur panjang. Lama sekali. Bahkan ketika akhirnya Ajo Kawir menikah dengan Iteung, perempuan yang dicintainya, yang kemudian ia tinggalkan karena hamil dengan lelaki lain. Di tengah rasa marahnya terhadap keadaan itu, Ajo Kawir hanya ingin berkelahi dan memukuli seseorang. Gayung bersambut. Sosok Paman Gembul hadir membawa tawaran bagi Ajo Kawir untuk menghabisi Si Macan. 


Cerita ini memang tidak secara eksplisit menyebutkan soal waktu yang bisa menjadi referensi apakah kisah-kisah di dalamnya punya jangkar kisah yang terjadi sebenarnya di kehidupan nyata. Tapi jika menilik potongan cerita tentang pembunuhan pada preman-preman seperti Agus Klobot, abang Si Macan, dan lain-lain, kita mungkin bisa menebak era apa yang barangkali sedang dituturkan oleh Eka. Kita pernah, di suatu masa, mendengar cerita tentang preman yang ditemukan mati di pematang sawah, atau orang gila yang ditembak mati entah oleh siapa dan mayatnya ditemukan di daerah-daerah yang penghuninya tidak mengenal siapa si korban tersebut. 


Tentu saja secara keseluruhan buku ini mengisahkan cerita orang-orang kecil, masyarakat pinggiran yang mungkin dianggap tidak punya signifikansi apa-apa dalam kehidupan. Kisah-kisah yang mungkin juga tidak pernah dibicarakan karena dianggap tidak penting. Kisah tentang para preman, gerombolan pengacau, kehidupan supir truk (Ajo Kawir kemudian menjadi supir truk paska dipenjara setelah membunuh Si Macan), perkelahian adu manusia yang diatur gelanggangnya oleh para tentara. Kisah-kisah yang lekat dengan kehidupan masyarakat kelas bawah.


Ada petikan kalimat Iwan Angsa yang membuat saya mulas saat membacanya:

Aku lebih takut satu hari, mereka tak lagi bisa mengurus bajingan-bajingan ini dan memutuskan untuk membunuh mereka satu per satu. Seperti Agus Klobot mati. Seperti abang Si Macan.” (hal. 73)


Serta narasi yang menceritakan Paman Gembul membuat tawaran pembunuhan pada Ajo Kawir:

Kemudian Paman Gembul bertanya, apakah ia masih mau mengirim orang ke kawah Anak Krakatau? Ia bercerita tentang seorang perempuan setengah baya, buruh pabrik benang. Perempuan ini sangat menjengkelkan. Pertama ia berhenti bekerja sehari, kemudian dua hari, kemudian beberapa hari. Masalahnya, kata Paman Gembul, ia mengajak lebih dari seribu temannya.’ (hal. 211)


Ini membuat saya berspekulasi pada kisah para preman dan bajingan yang barangkali dibuat mati setelah “dipelihara” dan mungkin dianggap tak lagi berguna, dan pada kisah buruh perempuan bernama Marsinah yang dibunuh dengan keji. Ceritanya betul-betul berhasil membuat saya mual.


Identitas Paman Gembul tentu saja tidak dibuka begitu saja. Tetapi, ketika Paman Gembul menemui Iteung dan berkata, “Aku telah menghadapi banyak hal dalam hidupku. Dari perang hingga urusan pembantu yang kabur. Aku pernah membantai orang-orang komunis. Membantai Fretelin. Pernah dikencingi anjing….” Bisa ditebak kan siapa sosok si Paman Gembul ini?


Dibandingkan dua buku Eka yang pernah saya baca sebelumnya: Cantik Itu Luka dan Manusia Harimau, buku ini lebih saya sukai. Meskipun tentu saja ceritanya bukan tipe cerita yang indah dan bahagia. Tetapi, pada akhirnya, kehidupan rakyat bawah yang mana sih yang ceritanya bahagia?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *