Home Ads

Sabtu, 30 Agustus 2025

Review Buku Lebih Putih Dariku, Karya Dido Michielsen

Penulis: Dido Michielsen

Penerjemah: Martha Dwi Susilowati

Penerbit: Marjin Kiri

Tahun Terbit: Juli 2025 (Cetakan keempat)

Jumlah Halaman: 288

Genre: Fiksi Sejarah

Peresensi: Uswah


Lebih Putih Dariku adalah novel berlatar abad ke-19 hingga 20 yang mengangkat kisah seorang perempuan Jawa bernama Piranti, yang kemudian berganti nama menjadi Isah, nama yang diberikan oleh seorang perwira Belanda bernama Gey. Novel ini menyingkap realitas sosial, kolonialisme, dan pergulatan identitas perempuan pribumi di tengah sistem feodal dan kolonial yang mengekang.


Isah lahir dari seorang ibu pembatik di Keraton Yogyakarta. Ayah biologisnya, Pangeran Natakusuma, seorang Bupati Indramayu, tidak pernah menikahi ibunya. Status anak luar nikah ini menempatkan Isah pada posisi sosial paling rendah di lingkungan keraton, jauh berbeda dengan sepupu-sepupunya, Karsinah dan Yatmi, yang memiliki hak istimewa karena lahir dari perkawinan resmi.


Sejak kecil, Isah menyaksikan ketidakadilan yang dialami ibunya; karya batik yang diakuisisi oleh keluarga keraton, hingga perlakuan diskriminatif sebagai pelayan. Dari pengalaman-pengalaman inilah tumbuh benih perlawanan dalam dirinya. Perlawanan itu kemudian membentuk jalan hidup Isah, termasuk keputusannya menolak perjodohan dengan seorang bupati demi mencari kebebasan.


Langkah beraninya membawanya pada Gey, seorang perwira Belanda. Dari hubungan inilah lahir dua anak perempuan: Pauline dan Louisa, yang oleh Isah digambarkan sebagai “Lebih Putih Dariku”. Namun, harapan Isah untuk dinikahi Gey kandas ketika sang perwira justru kembali ke Belanda dan menikah dengan perempuan sebangsanya. Lebih pahit lagi, Isah harus merelakan anak-anaknya diangkat oleh keluarga Belanda, Arnold dan Nyonya Lot, dengan ganti sejumlah uang yang diberikan oleh Gey.


Agar tetap dekat, Isah bersedia tinggal di rumah mereka sebagai babu, tanpa boleh mengaku sebagai ibu kandung. Ia merawat anak-anaknya sekaligus anak majikannya dengan penuh kasih; Eduard dan Robbert, hingga akhirnya menarik simpati Arnold, suami Lot, yang jatuh hati kepadanya. Hubungan gelap pun terjadi, menambah lapisan kompleksitas dalam kehidupan Isah.


Hidup Isah adalah potret perjuangan tanpa ujung untuk meraih kemerdekaan yang tak pernah benar-benar ia genggam. Novel ini menutup kisahnya dengan akhir yang tragis dan menyisakan sesak di dada.


Dido Michielsen dengan berani mengangkat sisi kelam kehidupan seorang Nyai, perempuan pribumi yang dijadikan pendamping informal bagi pria Belanda, sebuah tema yang jarang disentuh secara mendalam. Lewat kisah Isah, pembaca diajak memahami bagaimana status sosial, kolonialisme, dan patriarki menjerat perempuan, bahkan hingga menghapus identitas dan jejak keberadaannya.


Penggambaran karakter Gey dan Arnold menarik untuk dicermati. Keduanya tidak digambarkan sebagai sosok kasar secara fisik, melainkan menampilkan bentuk kekerasan lain yang lebih subtil: verbal, psikologis, dan sosial. Stigmatisasi, subordinasi, serta marginalisasi menjadi instrumen yang menghancurkan Isah secara perlahan.


Keberanian penulis juga tampak dalam menguraikan isu yang kerap dianggap tabu: perempuan sebagai objek seksual, mesin reproduksi, hingga pengakuan akan hasrat biologis perempuan yang selama ini terbungkam.


Secara naratif, novel ini memikat sejak halaman pertama. Alurnya menghipnotis, sehingga sulit untuk berhenti membaca, (meskipun aku harus menghabiskan waktu semingguan untuk membacanya di tengah kerja-kerja-kerja sebagai tulang punggung negara dan bayar upeti ke anggota Dewan yang terhormat 🙂).


Isah bukan hanya representasi perempuan Jawa pada abad ke-19, tetapi juga refleksi perempuan masa kini, yang masih bergulat dengan struktur sosial, budaya, dan sistem yang sering kali menolak keberadaannya sebagai individu merdeka.


Lebih Putih Dariku adalah novel yang menyentuh, tragis, sekaligus membuka mata, menyoroti sisi-sisi kelam sejarah kolonial dan nasib perempuan pribumi dengan detail yang tajam. Novel ini layak dibaca bukan hanya sebagai karya sastra, tetapi juga sebagai refleksi sosial-historis tentang identitas, perlawanan, dan harga diri perempuan.


Bagi pembaca: selamat menangisi Isah ~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *