Home Ads

Senin, 05 Januari 2026

Resensi Buku Dekolonisasi Pengetahuan dan Politik Fae di Balik Selimut Fantasi Cozy, Karya Heather Fawcett




Identitas Buku:

Judul: Emily Wilde's Encyclopaedia of Faeries
   Tahun Terbit: 2023
   ISBN: 9780593500132 (hardcover)/9780593500156 (paperback)

Judul: Emily Wilde's Map of the Otherlands
   Tahun Terbit: 2024
   ISBN: 9780593500194 (hardcover)

Judul: Emily Wilde's Compendium of Lost Tales
   Tahun Terbit: 2025
   ISBN: 9780593500224 (hardcover)/9780593500248 (paperback)

Penulis: Heather Fawcett
Genre:Romance, Folklore, Academic Fantasy
Peresensi:Aida Mudjib

---

"Lost is a kingdom with many paths, but they all end at the same place. Do you know where?" 

Pertanyaan Faerie yang merenung ini membuka salah satu percakapan dalam seri Emily Wilde, dan secara sempurna merangkum perjalanan pembaca memasuki dunia Heather Fawcett. Setiap jalan—baik itu akademis, romantis, atau petualangan—pada akhirnya bermuara pada satu tema sentral: transformasi diri melalui pertemuan dengan ‘Yang Lain’. Di balik kemasan “cozy fantasy” yang memikat dengan setting dusun Nordik dan romance slow-burn, tersimpan eksplorasi cerdas tentang politik pengetahuan, dekolonisasi metodologi, dan kritik terhadap sistem sosial kita. Seri ini membuktikan fantasi bisa menjadi medium sempurna untuk membicarakan isu kompleks dengan cara yang accessible dan menghibur.

Cerita berpusat pada Dr. Emily Wilde, seorang dryadolog dari Cambridge yang kaku, logis, dan sangat tidak nyaman dengan interaksi sosial. Narasi disajikan melalui jurnal risetnya yang detail, lengkap dengan catatan kaki akademis. Dalam Encyclopaedia of Faeries, Emily dikirim ke desa Ljosland untuk mempelajari “The Hidden Ones”. Dengan metodologi akademis Baratnya—observasi, kategorisasi, dokumentasi—ia berusaha “blend in”. Namun, upayanya gagal total, sebuah alegori tajam bagi kritik terhadap antropologi kolonial. Pengetahuan bukan tentang mengambil dan mengkotak-kotakkan, tetapi tentang mendengarkan. Proses “unlearning” Emily dimulai melalui interaksinya dengan penduduk desa dan rival (sekali gus love interest)-nya, Wendell Bambleby, seorang faerie bangsawan. Dinamika mereka ditopang oleh pengakuan terhadap hakikat masing-masing, sebagaimana direfleksikan dalam kutipan: 

“Perhaps it is always restful to be around someone who does not expect anything from you beyond what is in your nature.” 

Hubungan mereka tumbuh bukan dari upaya perubahan, tetapi dari penerimaan, menjadi fondasi bagi pesan dekolonisasi yang lebih besar.

Dialog cerdas mereka sering kali menyoroti perbedaan persepsi ini. Saat Wendell menanggapi dengan humor, “'No, it would have been, 'Get off me, you imposter, and tell me what you did with Emily.'”, kita melihat bagaimana Emily dihargai justru karena keotentikannya yang grumpy dan tidak manipulatif, bukan karena upaya untuk memenuhi harapan feminitas atau keromantisan konvensional. Inilah kekuatan seri ini: menggunakan hubungan personal sebagai mikro-kosmos dari pertemuan budaya yang lebih besar.

Perjalanan Emily dari peneliti menjadi partisipan—dan akhirnya pemimpin dalam dunia faerie—mencapai kompleksitas baru dalam Map of the Otherlands. Di sini, pesan tentang solidaritas dan posisionalitas diungkapkan dengan lugas: “You must try your best to make friends, for those who are small cannot easily stand alone.” Namun, buku ini juga membalik narasi kekuatan dengan brilian. Ketika Ratu faerie mengakui, “No, Emily— it was you I worried about... Mortals always are, aren't they?”, kita disadarkan akan bahaya ketika ‘subjek penelitian’ justru melihat dan memahami penelitinya dengan lebih jelas. Momen ini menghancurkan sisa-sisa superioritas akademis Emily. Ia menyadari bahwa “I am used to being underestimated by the Folk— nothing could be more dangerous than the opposite.” Inilah inti dekolonisasi pengetahuan: pengakuan bahwa pihak yang dipelajari memiliki agensi, kecerdasan, dan kekuatan untuk membalikkan pandangan.

Kritik sosial ini meluas ke ranah politik. Fawcett mempertentangkan politik manusia yang birokratis dengan politik faerie yang cair, personal, dan digerakkan oleh narasi. Sistem ini merupakan kritik implisit terhadap rigiditas sistem negara-bangsa. Dalam Compendium of Lost Tales, Emily yang kini harus memimpin di kerajaan faerie, menghadapi esensi dari dunia ini: 

“Why must mortals always be solving mysteries? What is the point of life if everything is pinned and labelled in some display case? You scholars should aim to discover more mysteries, not untangle them.” 

Kutipan ini adalah puncak dari kritik Fawcett terhadap hasrat akademis untuk mengontrol melalui kategorisasi. Bagi faerie, misteri dan cerita bukan masalah untuk dipecahkan, tetapi realitas untuk dihidupi. Ini mengantar kita pada kebenaran sentral dalam dunia Fawcett: “Stories are the architecture of Faerie, more powerful than magic, more powerful than kings.” Kekuasaan di sini dibangun dan dipertahankan melalui narasi, bukan melalui hukum atau senjata, menawarkan model pluralistik tentang tata kelola yang sah.

Secara keseluruhan, seri Emily Wilde adalah sebuah pencapaian yang brilian. Heather Fawcett berhasil merajut cerita pelarian yang cozy dengan eksplorasi intelektual yang tajam. Melalui format jurnal, humor kering, romance yang cerdas, dan dunia faerie yang imajinatif, seri ini tidak hanya menghibur tetapi juga mengajak pembaca berefleksi mendalam. Ia menantang kita untuk mempertanyakan kerangka pengetahuan kita, merendahkan hati dalam menghadapi perbedaan, dan mengakui kekuatan dari narasi yang hidup. Seperti kerajaan yang hilang dalam kutipan pembuka, semua jalan dalam kisah Emily Wilde berujung pada satu kesadaran: bahwa memahami dunia yang luas dan ajaib dimulai dengan membongkar benteng kepastian dalam diri kita sendiri, dan dengan berani mendengarkan cerita-cerita yang disampaikan oleh angin, salju, dan orang-orang asing yang bijak. Sebuah bacaan wajib yang meninggalkan kesan jauh lebih dalam daripada sekadar kehangatan sesaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *