Home Ads

Senin, 05 Januari 2026

Resensi Buku Filsafat Kebahagiaan, Karya Fahruddin Faiz



Judul Buku: Filsafat Kebahagiaan
Penulis: Fahruddin Faiz
Penerbit: Mizan
Tahun Terbit: Februari 2025 (Cetakan Kedelapan)
Jumlah Halaman: 284
Genre: Filsafat
Peresensi: Dian N.H

Siapa manusia yang tak ingin bahagia? Semua menginginkannya. Bahagia bukan hanya persoalan memiliki segalanya; harta melimpah, anak-anak yang lucu, teman-teman yang asyik, pasangan yang tampan atau cantik, warisan banyak, bisa mengikuti trend setiap waktu, dan lain-lain. 

Seringkali semua gemerlap yang ada terkadang menghadirkan ruang yang kosong. Cita-cita yang didapat pun kadang memuaskan sesaat. Lalu, apa makna bahagia sesungguhnya? Bagaimana agar kita bisa bahagia meskipun dengan hal-hal sederhana di sekitar kita?

Buku filsafat yang ringan ini menyajikan makna bahagia yang berbeda. Seringkali kita alergi dengan bahasa “filsafat” yang berat dan “njlimet” di kepala, tapi Fahruddin Faiz, dosen filsafat UIN Sunan Kalijaga membuat buku ini asyik dibaca. Seperti penulisnya yang sederhana dan cara bicaranya menyenangkan, sehingga banyak yang mengunggah petuahnya di media sosial, pembahasan Filsafat Kebahagiaan ini diulas dengan tulisan yang sederhana tapi mengena.

Kebahagiaan merupakan unsur kehidupan yang diidamkan oleh semua manusia baik secara esensial maupun eksitensial. Kebahagiaan dipandang sebagai sesuatu yang bernilai, bahkan paling bernilai dalam kehidupan manusia. Itulah mengapa, menurut beberapa filsuf, kebahagiaan dipandang sebagai tujuan atau puncak dari tujuan hidup manusia. Namun, menemukan hakikat kebahagiaan, tentu tidak sesederhana itu karena bentuk dan jalan kebahagiaan setiap manusia itu berbeda. 

Empat tokoh filsuf dibahas dalam buku ini. Masing-masing filsuf mewakili belahan dunia dan tradisi filsafat yang berbeda, juga mewakili cara pandang yang berbeda pula terhadap kebahagiaan. Plato dari Yunani menawarkan teori rasional-idealis, al-Farabi dari islam rasional-religius, Imam al-Ghazali dengan tradisi islam yang religious-spiritual dan Ki Ageng Suryomentaram dari Jawa yang arif-realistis. Masing-masing dari mereka mengembangkan filsafat kebahagiaan sesuai dengan gaya berfikir masing-masing.

Menurut Plato, hakikat manusia adalah jiwanya dan badan hanya manifestasi dari jiwa. Manusia punya tiga elemen jiwa: rasio (akal), spirit (semangat), dan nafsu (hasrat). Bahagia itu terjadi apabila tiga elemen ini seimbang, dan akal yang jadi pemimpin. Orang Bahagia adalah orang yang mengoptimalkan fungsi jiwanya. 

Good people don’t need laws to tell them to act responsibility, and bad people will find a way around the laws.

Al Farabi mengatakan, manusia itu makhluk sosial. Bahagia tidak bisa diraih sendirian, tapi harus dalam tatanan masyarakat yang adil dan bijak. Allah menciptakan manusia untuk bahagia. Dan untuk bahagia manusia harus menaklukan jiwanya agar mencapai ketenangan, dan puncaknya adalah melahirkan perilaku utama yang pada akhirnya melahirkan kebahagiaan. Al-Farabi mengingatkan pentingnya ilmu, maka orang yang sudah berilmu memiliki tanggung jawab mengajarkan dan berperilaku yang baik pada sesama.

Kunci kebahagiaan menurut Imam Al-Ghazali adalah mengenal diri, mengenal Allah dan mengenal dunia. Kabahagiaan adalah muhasabah dan zikir. Kunci utamanya adalah membereskan nafsu dan amarah diri sehingga terbentuk akhlak mulia baik dengan cara dipaksa, dibiasakan dan ditafakuri. Kenalilah diri, Allah dan berakhlak di dunia, maka akhiratmu akan Bahagia.

Filsuf lokal, Ki Ageng Suryomentaram punya pendekatan yang unik dan sangat membumi. Ki Ageng percaya bahwa kunci kebahagiaan itu ada 6: Sakbutuhe (sekedar kebutuhan), Sakperlune (Sekedar keperluan), sakcukupe (sekedar cukup), sakbenere (sekedar benar), sakmestine (sekedar kepantasan), sakpenake (sekedar nyaman/nikmat). Syarat Bahagia adalah mengerti diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar.

Sebagai penutup, Filsafat Kebahagiaan karya Fahrudin Faiz bukan sekadar buku biasa. Jika kamu sedang mencari pandangan baru tentang cara bahagia yang lebih bermakna, buku ini wajib banget masuk daftar bacaan kamu!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *