Judul Buku: Madonna dengan Mantel Bulu
Penulis: Sabahattin Ali
Penerjemah: Bernandi J. Sujibto
Penerbit: Taman Moooi Pustaka
Tahun Terbit: Desember 2025 (Cetakan Pertama)
Jumlah Halaman: 169
Genre: Fiksi
Peresensi: Uswah
Buku Madonna dengan Mantel Bulu karya Sabahattin Ali mengisahkan kedalaman cinta seorang lelaki Turki introver bernama Raif Efendi yang hidup di Berlin pada tahun 1920-an setelah dikirim ayahnya untuk mempelajari bisnis sabun milik keluarga. Di tengah kejenuhan berada di negeri asing, Raif mengunjungi galeri seni. Di sanalah ia terpikat pada sebuah lukisan perempuan berjudul Kürk Mantolu Madonna atau Madonna dengan mantel bulu.
Sebelumnya, Raif memang pernah jatuh cinta pada tetangganya. Namun lukisan yang ia lihat di sebuah galeri di Nollendorfplatz itu terasa terlalu sempurna hingga terus membekas dalam ingatannya. Bagi Raif, sosok perempuan dalam lukisan tersebut menyerupai berbagai figur ideal yang pernah hidup dalam imajinasinya: Nihal dalam karya Halit Ziya, Mehcure karya Vecihi, Cleopatra dalam sejarah, bahkan gambaran ibunda Nabi Muhammad, Sayyidah Aminah, yang ia susun dalam benaknya saat mendengarkan Maulid.
Tak lama berselang, Raif bertemu dengan perempuan yang mengenakan mantel bulu bernama Maria Puder, perempuan yang sangat mirip dengan sosok dalam lukisan tersebut. Maria ternyata adalah pelukis Kürk Mantolu Madonna, sosok yang digilai oleh Raif Efendi. Pertemuan mereka yang tak terduga perlahan membangun hubungan yang tidak biasa. Sialnya setelah satu malam yang indah, Maria mengungkapkan sulit baginya untuk mencintai Raif, meskipun ia mengaku bahwa Raif adalah sosok yang ideal.
Maria kemudian menghilang secara tiba-tiba, meninggalkan Raif dalam kebingungan dan kesedihan yang mendalam. Setelah pencarian panjang, Raif akhirnya berhasil menemukannya kembali dan bertekad meyakinkan Maria bahwa mereka memang diciptakan untuk satu sama lain (ini kalau disambi dengerin lagu Dewa 19 judulnya Risalah Hati bisa dapet feel-nya, ya cuma saran aja 🙏🏻). Cinta mereka pun tumbuh kembali. Sayangnya, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Raif harus pulang ke Turki karena ayahnya meninggal dunia. Jarak antara Turki dan Berlin memuat janji antara keduanya untuk tetap berhubungan dengan saling berkirim surat, Raif memutuskan akan segera menikahi Maria setelah kondisi internal keluarga membaik.
Setibanya di Turki, Raif bekerja keras memperbaiki keadaan ekonomi keluarganya yang hancur pascakematian sang ayah (pabrik sabun milik ayahnya akhirnya dijual). Namun, surat-surat dari Maria tiba-tiba berhenti datang. Tidak ada kabar apa pun darinya dalam waktu yang sangat lama. Kekecewaan dan rasa dikhianati itu perlahan mengubah Raif menjadi sosok yang numbness, dingin, pasif, dan tanpa ekspresi. Dengan lubang besar di hatinya, Raif melanjutkan hidup sebagai penerjemah bahasa Jerman di sebuah bank.
Luka itu tak pernah benar-benar sembuh. Dendam dan cinta pada Maria terus hidup dalam dirinya hingga ia menghembuskan nafas terakhir. Meski ia menikah dan memiliki anak, Raif tidak pernah sungguh-sungguh hidup seperti orang biasa. Ia terjebak di antara cinta dan kebencian yang tak pernah terselesaikan. Di tengah riuh suara istri, anak-anak, dan percekcokan ipar-iparnya, Raif menutup mata dan masih membayangkan di mana Maria berada saat seperti ini.
“Aku bosan, hanya bosan. Aku tak punya keluhan lain.” (hlm. 157)
Raif dan Maria adalah kisah tentang cinta yang rumit, kehilangan, dan pergulatan batin yang mendalam, disampaikan dengan bahasa puitis serta penuh perasaan. Jujur, aku menangis saat membaca buku ini. Madonna dengan Mantel Bulu tidak hanya bercerita tentang cinta, tetapi juga menunjukkan bagaimana luka hati mampu menghancurkan seseorang.
“Perempuan tidak akan pernah bisa mencintai; kalaupun dia bisa mencintai, dia benar-benar tidak melakukannya.” (hlm. 122)
Setelah terakhir kali membaca novel Laila Majnun beberapa kurun waktu yang lalu, aku kembali menemukan “rasa hancur” dari sudut pandang laki-laki. Jika Majnun bergemuruh dalam cintanya pada Laila, Raif Efendi seperti samudra yang tenang di permukaan, tidak mengombak, tetapi menenggelamkan.
Secara naratif, Sabahattin Ali masih memperlihatkan beberapa bias dalam mendeskripsikan tokoh-tokohnya, kurang representatif sebagai aktivis leftist. Namun, gaya penulisannya tetap memikat dan menyentuh. Overall, aku benar-benar menyukai buku ini yang naratornya adalah teman sekantor Raif, mantan pengangguran yang diberikan pekerjaan oleh orang dalam. Terjemahan Bernandi J. Sujibto juga patut diapresiasi karena berhasil menghadirkan nuansa asli karya Kürk Mantolu Madonna dari bahasa Turki dengan sangat baik. Saat membaca bagian akhir buku ini, aku menemukan fakta tentang takdir Sang Penulis yang terasa jauh lebih kelam daripada nasib yang ia ciptakan sendiri untuk Raif.
Bagi yang penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Maria Puder, silakan meminang buku ini.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar