Review Perempuan Berbicara Kretek, Abmi Handayani, dkk.

Judul Buku: Perempuan Berbicara Kretek
Pengarang: Abmi Handayani, dkk
Penerbit: Indonesia Berdikari
Tahun Terbit: 2012
Genre: Nonfiksi
Jumlah Halaman: 320 (versi pdf)
Nama Pe-review: Uswah
Buku bisa di download di bukukretek.com/files/ju138g/perempuan-bicara-kretek.pdf

Kalau boleh saya bilang, buku ini semacam 'sequel' dari lanjutan review saya bulan lalu yang berjudul Nicotine War karya Wanda Hamilton, namun pada review kali ini lebih spesifik mengangkat tema gender. Cover buku ini juga sangat eksotis, dengan batang sembilan senti diapit di antara jemari-jemari lentik. Masih dengan bahasan yang sama yakni rokok atau kretek, sebenarnya terdapat perbedaan mendasar antara rokok dan kretek, tapi di masyarakat kita mafhum dengan rokok adalah yang berbungkus putih dan  ada filter (rokok putih) sedangkan kretek adalah rokok tanpa filter. Agaknya kretek mengalami generalisasi makna menjadi rokok, baik itu filter atau tanpa filter.  

Buku  ini terdiri dari 4 bab: Bab pertama membahas tentang ritus keseharian, bab kedua membahas tentang perempuan di simpang stigma, ketiga dalam pusaran arus zaman dan keempat tentang kretek, budaya dan keindonesiaan.

Buku ini tidak hanya ditulis oleh Abmi Handayani, tapi juga ditulis rombongan, jadi ini nulis buku kayak mau umroh. Penulisnya banyak yang dari kalangan perempuan dan sebagian dari mereka perokok, membaca buku ini harus slowwww terutama buat mereka yang udah antipati sama rokok, kalau ada orang yang pertama kali disebutkan kata rokok udah batuk-batuk mending gak usah baca daripada makin alergi.

Disini, di Negara kita ini, benda mati pun punya jenis kelamin. Malam itu laki-laki, kopi itu laki-laki, rokok pun juga laki-laki. (Niken Wresthi),  lalu apa jadinya jika benda-benda mati tersebut diambil alih oleh seorang perempuan? Perempuan keluar malam? Perempuan ngopi? Dan, perempuan merokok?

Tentang ritus keseharian perokok, kita tahu sendiri kan bagaimana stigma yang diberikan oleh perokok-perokok? Boomingnya berbagai kerugian yang dihasilkan dari asap rokok? Dan saat kampanye-kampanye kesehatan diujarkan dengan penuh fasih tentang rokok. Padahal ketika kita bisa jujur membuka data dari BAPENAS (Badan Pembangunan Nasional) yang menyebutkan bahwa  setiap kali kendaraan mengeluarkan asap sekitar 1.000 unsur beracun mengotori udara. Di antara zat yang membahayakan itu adalah Karbon Monooksida (CO), timbal (Pb), NO dan Ozon (O3). Zat-zat berbahaya tersebut jika kita perinci dari sisi medis, dapat menimbulkan berbagai penyakit kronis bagi manusia. Trus ntar kalau ada yang kena penyakit kanker, gangguan janin, perempuan mandul dan impoten yang disalahin cuma rokok? Hellaaw. Sekarang banyak orang berlomba-lomba cari uang di kota, sawah digeser jadi jalan raya, akibatnya permintaan kendaraan bermotor meningkat, lalu yang dianggap sebagai monster yang paling menyeramkan dalam kehidupan adalah rokok? Pemerintah bilang udah ada reboisasi di kota sebagai penyeimbang asap kendaraan yang bikin sesak naujubilah. Tapi nyatanya tidak ada yang bisa menekan laju perkembangan dealer yang menghasilkan 12 juta kendaraan lebih di tiap tahunnya.

Ada yang menarik pada bagian “rokok dan jilbab” di bab kedua, perempuan yang muslim tapi lepas jilbab aja udah dibully, lah ini perempuan pake jilbab sekaligus merokok. Ya ampun, ribet amat mau jadi perempuan, ganti kelamin pun dikatain. Ketika diadakan wawancara di beberapa orang tentang bagaimana pandangannya jika ada seorang perempuan berjilbab merokok? Sebagian menjawab tidak pantas, pasti perempuan nakal, dan yang paling ekstrim nyinyiran “lepas dulu jilbabnya baru merokok”, padahal kalau kita mau meninjau lebih jauh ya tidak ada hubungannya rokok dengan bobroknya moral, di buku ini juga mengulas tentang perempuan-perempuan pengkretek yang mereka ini bukan broken home, bukan perempuan dengan pergaulan bebas dan narkoba. Bahkan, di antara mereka ada yang memiliki prestasi dan karir yang baik juga ibu rumah tangga yang menjalankan kewajibannya dengan baik. Pernyataan seperti ini sama lucunya dengan orang yang bilang “lepas dulu celana dalamnya baru makan nasi goreng” :(

Jadi inget temen saya bilang melarang perokok laki-laki untuk berhenti merokok sama halnya melarang perempuan nggosip, yaelah kok kesel yah dengernya, meskipun bener juga. Melarang perempuan perokok untuk berhenti merokok apakah bernilai mustahil mutlak mengingat wanita selalu benar :P

Dari 5 bintang, saya kasih 4 bintang untuk buku ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar