Home Ads

Minggu, 18 Februari 2018

Resensi Buku Afternoon of the Elves, Janet taylor Elves

Judul Buku: Afternoon of the Elves
Penulis: Janet Taylor Lisle
Penerbit: Penguin Groups
Tahun Terbit: 2003
Genre: Fiksi
Jumlah Halaman: 122
Nama Pereview: Rima Juwitasari

(((REVIEW MENGANDUNG SPOILER)))

Saya orang yang suka terbawa perasaan jika sudah menyangkut persahabatan. Jadi ketika buku Afternoon of the Elves ini menyantumkan review dari School Library Journal yang menyebut buku ini "a fascinating potrayal of friendship," ditambah buku ini telah mendapatkan Newbery Honor, saya langsung mencoba membacanya. Dan memang hubungan pertemanan antar tokoh di buku ini menarik. Lebih ke tidak umum, malahan. Namun bukan tipe persahabatan yang saya bayangkan sebelumnya.

Adalah Hillary Lenox, seorang gadis baik-baik dari keluarga baik-baik. Ia adalah gambaran gadis baik-baik yang bisa ditemukan di mana saja: keluarga harmonis dengan perekonomian yang baik, rumah beserta halamannya yang baik, ayah yang humoris, dan ibu yang terkadang terlalu over dalam memroteksi. Seolah-olah itu belum cukup, Hillary juga memiliki dua teman dekat yang selalu berada di kanan-kirinya ketika ia ada di sekolah. Kehidupan Hillary baik-baik saja sebelum ia diajak Sara-Kate melihat-lihat Perkampungan Peri yang ada di belakang rumah Sara-Kate.

Di lain sisi, Sara-Kate gadis yang sangat misterius. Sara-Kate beberapa tahun lebih tua dari Hillary, dan mereka bersekolah di sekolah yang sama. Rumah mereka berdua juga bersebelahan. Bedanya, halaman belakang rumah Sara-Kate sangat awut-awutan macam kebun belantara. Sara-Kate kerap mendapatkan perundungan di sekolahnya karena sikapnya yang suka menyendiri, misterius, dan kerap memakai pakaian dengan kombinasi ajaib yang dianggap oleh teman-teman sekolahnya sangat aneh. Tapi, tentu saja, Hillary berteman dengannya. Digambarkan hanya Hillary lah satu-satunya anak yang sudi bergaul dengan Sara-Kate. Singkatnya, Sara-Kate adalah kebalikan Hillary Lenox. 

Pertemanan mereka berawal dari Sara-Kate yang menunjukkan Perkampungan Peri yang ada di belakang rumahnya kepada Hillary. Dan semenjaknya, Hillary selalu pergi ke rumah, belakang rumah tepatnya, Sara-Kate untuk membantu para "peri" mengelola dan memperbaiki kampungnya. Hillary begitu "haus" akan Perkampungan Peri ini. Ada beberapa pondok kecil yang terbuat dari stik-stik kayu yang beratapkan daun-daun maple yang diklaim Sara-Kate sebagai rumah-rumah peri. Perkampungan itu juga dilengkapi dengan sumur-sumur yang memakai tutup botol bekas sebagai penimbanya serta sebuah bianglala yang terbuat dari rangka ban sepeda. Hillary merasa girang sekali karena sudah dilibatkan dalam tugas yang luar biasa dan ajaib ini: menjaga Perkampungan Peri agar tetap dalam harmoni. Namun dalam sepanjang masa tugasnya, Hillary belum pernah sekalipun melihat secara kasat mata keberadaan peri-peri itu. Hillary hanya diminta Sara-Kate untuk percaya dan merasakan kehadiran mereka. Mungkin karena ke-gadis baik-baik-annya, Hillary memilih untuk percaya dan bisa merasakan kehadiran peri-peri itu jika ia berusaha untuk merasa. 

Dalam kunjungan-kunjungan Hillary ke belakang rumah Sara-Kate, Hillary tak pernah diajak sekalipun untuk masuk ke dalam rumah Sara-Kate. Dia juga tidak pernah bertemu ibu Sara-Kate atau siapapun. Seolah-olah selama ini Sara-Kate hanya sendiri. Tapi Hillary tahu bahwa Sara-Kate memiliki seorang ibu. Bayangan ibunya sering terlihat di jendela lantai 2 rumah Sara-Kate. Walaupun mereka "berteman", Sara-Kate tetap pada kondisi alaminya: serba rahasia. Lalu pada suatu hari, Sara-Kate sedang tidak beruntung: rahasianya terbongkar. Karena suatu hal, Hillary memasuki rumah Sara-Kate tanpa permisi. Hillary begitu terkejut melihat keadaan rumah Sara-Kate yang berantakan dan tidak normal seperti rumah pada umumnya. Dan terlebih lagi, Hillary harus terkejut dua kali karena memergoki Sara-Kate yang sedang menggendong sesosok tubuh lemah yang adalah ibunya. Ternyata ibu Sara-Kate sangat lemah dan sakit. Melihat Hillary melihatnya, Sara-Kate mengamuk luar biasa. Sepertinya pertemanan mereka akan berakhir.

Namun ternyata tidak. Mereka berbaikan pada akhirnya. Hillary yang "haus" akan Perkampungan Peri berusaha meluluhkan hati Sara-Kate kembali. Karena tak ada Sara-Kate, tak ada Perkampungan Peri. Dan ketika hubungan mereka sudah membaik, suatu hari, Sara-Kate meminta Hillary untuk membawakannya barang-barang seperti roti, kopi, dll. Saya yang membacanya mendadak cemas. Apakah persahabatan ini hanyalah kamuflase? Untuk memenuhi permintaan Sara-Kate, Hillary harus mencuri uang ibunya, ia bahkan mencuri juga dari supermarket karena uang yang ia curi dari ibunya kurang untuk menebus barang-barang yang ia beli untuk Sara-Kate. 

Karena kesediaan Hillary berbuat kriminal untuknya, Sara-Kate membuka dirinya lebih sedikit untuk Hillary. Selama ini, Sara-Kate "bekerja" sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan ibunya. Karena uang yang dikirim ayahnya kurang, Sara-Kate terpaksa harus mencuri dari sana-sini. Dan suatu hari karena kecerobohan Hillary, kehidupan Sara-Kate yang serba rahasia terbongkar. Ibu Hillary merangsek masuk ke rumah Sara-Kate dan menemukan ibu Sara-Kate yang sangat sakit. Lalu dia dengan cekatan mengurus semua: mencari tahu dan menghubungi kerabat Sara-Kate untuk meminta pertolongan, karena menurutnya tidaklah benar seorang anak kecil harus menanggung hidup orang dewasa. Akhirnya rumah bobrok Sara-Kate direnovasi dan dijual, ibu Sara-Kate dirawat di sebuah rumah sakit, dan Sara-Kate diterbangkan ke Kansas untuk tinggal bersama kerabatnya.

Pertemanan yang "menarik" ini dibangun di atas rasa kebutuhan. Hillary dengan Perkampungan Perinya dan Sara-Kate dengan "pendapatan tambahan" nya. Dari awal buku hingga akhir, tidak pernah disebutkan dengan pasti kemunculan peri. Hillary hanya diminta untuk merasakan kehadirannya. Dan karena keinginan yang sangat, Hillary bisa merasakannya. Bahkan ia sempat berpikir bahwa Sara-Kate salah satu peri yang menyamar menjadi manusia. Sungguh suatu obsesi. Sara-Kate membangun semua "keperian" ini semata-mata agar bisa dekat dengan Hillary untuk kepentingan finansial. 

Dari 5 bintang, saya beri buku ini 3 bintang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *