Review Susah Sinyal, Ika Natassa dan Ernest Prakasa

Judul Buku: Susah Sinyal
Penulis: Ika Natassa dan Ernest Prakasa
Penerbit, Tahun Terbit: Gramedia Pustaka Utama, 2018
Genre: Novel Fiksi
Jumlah Halaman: 264 hal
Pe-review: Iffah Hannah

"Saya percaya setiap orang, entah itu perempuan atau laki-laki, menikah atau tidak, punya anak atau tidak, berstatus single parent atau tidak, berapapun usianya, pasti punya pergulatannya sendiri, punya perjuangannya sendiri, punya kesulitannya sendiri untuk mencapai apa yang bisa disebut kesuksesan. Bahwa saya perempuan yang berstatus single mother dan tetap bisa berkarier sebagai pengacara tidak menjadikan saya lebih istimewa daripada orang lain. Everyone has their own battle to fight, just like everyone has their own battle to lose, to win the war called life." (hal. 92)

Novel Susah Sinyal ini adalah adaptasi dari film berjudul sama yang skenarionya ditulis oleh Ernest Prakasa dan Meira Anastasia. Novel ini menceritakan tentang Ellen, seorang pengacara sukses dan single mother untuk Kiara, puterinya yang beranjak remaja. Ellen bercerai dengan ayah Kiara saat Kiara berumur 2 tahun.

Karena kesibukannya sebagai pengacara, Ellen akhirnya menjadi berjarak dengan putrinya yang jauh lebih dekat dengan Oma-nya, yaitu mama Ellen.

Keseluruhan isi novel ini sebagian besar menceritakan tentang perjuangan Ellen untuk berusaha memahami putrinya dan kembali dekat dengannya, apalagi setelah kematian Oma Kiara, yang selama ini menjadi pengganti Ellen mengasuh Kiara.

Bagaimana susahnya menjadi seorang ibu untuk anak remaja yang merasa ibunya tidak menganggapnya penting, anak remaja yang tidak pernah mengenal ayahnya, anak remaja yang merasa Oma-lah satu-satunya yang bisa mengerti dia dan kini telah tiada. Belum lagi Ellen harus berjuang menghadapi stigma dan penghakiman orang-orang tentang pilihannya menjadi single mother, ibu bekerja dll.

"Menjadi ibu mungkin pantas disebut pekerjaan paling sulit di dunia. Tanpa bayaran, tanpa waktu istirahat, tanpa libur, menguras tenaga dan emosi, rentan dibanding-bandingkan, menguji kesabaran, selalu menantang batas kekuatan." (hal 172).

Ellen mengakui, mungkin salahnya menikah terlalu muda. Mungkin salahnya, punya anak dengan niat awal semata membahagiakan orang tuanya yang sudah renta. Tetapi Ellen betul-betul mencintai putrinya dan ia sepenuh hati berusaha memahami putrinya; berusaha menghapus jarak yang sudah terlanjur terbentang di antara keduanya.

Novel ini ditulis dengan bahasa yang ringan, diselingi dialog penuh humor antara Ellen dan partner kerjanya Iwan, juga Ngatno dan Saodah, orang-orang yang membantu pekerjaannya di rumah, tetapi kisah perjuangan seorang ibu dengan segala pilihan-pilihan yang diambilnya, terlepas dari benar dan salah, betul-betul bikin baper!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar