Review Padang Bulan, Andrea Hirata

Judul: Padang Bulan
Pengarang: Andrea Hirata
Penerbit: Penerbit bentang
Tahun Terbit: 2011
Genre: Fiksi
Jumlah halaman: 309
Pe-review : Dian NH
Review buku:

Novel Andrea hirata ini adalah dwilogi padang bulan. Buku pertama berjudul " padang bulan" dan yang kedua "cinta di dalam gelas". Berbeda dengan buku sebelumnya, buku ini lebih ringan dan bahasanya lebih mudah difahami daripada buku-buku andrea hirata yang lain. Meski buku ini ringan dibaca tapi isinya syarat makna, perjuangan seorang miskin yang sederhana. Enong adalah gadis  yatim, kehilangan ayahnya yang tertimbun tanah di penambangan timah. Harus memikirkan tanggung jawabnya menjadi tulang punggung keluarga sejak usia 14 tahun. Melamar kerja ke kota dia tak diterima karena tidak lulus SD dan tubuhnya yang kurus tak meyakinkan. Akhirnya enong menjadi pendulang timah wanita pertama di kampungnya. Satu hal yang sangat mengharukan ialah, meskipun keadaannya sangat terbatas tapi tidak menyurutkan kecintaannya pada bahasa inggris. Dan hadiah ayahnya sebuah "kamus satu miliyar kata" selalu ia bawa kemana-mana untuk menemani perjuangannya dalam kehidupan yang keras.

Kisah yang lain tentang ikal, yang akhirnya menjadi sahabat Enong semenjak mereka tak sengaja bertemu di kantor pos. Ikal, adalah sosok utama yang juga ada di buku tetralogi "laskar pelangi" Andrea hirata. Di buku ini Ikal sudah menjadi seorang sarjana pengangguran yang cinta mati dengan gadis tiong hoa bernama A ling. Perjuangannya akan cinta menjadi hiburan tersendiri di novel ini. Cinta gilanya membuatnya berlarut-larut dengan kesedihan dan pertikaian dengan orang tuanya yang seorang muslim karena tidak ada dalam adat mereka jika laki-laki muslim menikah dengan gadis dari bangsa lain. 

Kisah cinta ikal terbilang lucu dan menggelitik karena beberapa bagian menjadikannya tampak sangat konyol, tapi juga menyadarkan kita bahwa tidak ada hal yang tidak mungkin untuk diperjuangkan sekalipun itu sebuah "kesintingan dalam cinta"

Buku ini sederhana, tapi yang menarik bagi saya yang selalu tertarik dengan fenomena sosial  adalah bahwa potret kemiskinan yang menjadi biang derita di banyak kehidupan, disajikan cukup renyah oleh Andrea hirata sebagai fenomena nyata yang terjadi di banyak tempat. Orang-orang yang begitu kenyang dengan kemiskinan tapi mereka tak pernah menyerah, menyadarkan kita bahwa terkadang hidup adalah yang cukup diterima dari "tangan" Tuhan, tanpa kompromi, tanpa banyak penyesalan, tanpa banyak keinginan yang ini itu, indah atau sedih, cukup dijalani dan syukuri saja. Seperti enong yang percaya dengan kalimat "time heals every wound", novel ini menyajikan bahwa kepedihan hidup selalu mengharuskan kita untuk melaluinya dengan sekuat mungkin tanpa banyak merengek pada sang Pemberi kehidupan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar