Home Ads

Jumat, 05 Oktober 2018

Review Buku Sumpah Ramaparasu, Tri Wibowo BS

Nama Buku: Sumpah Ramaparasu
Penulis: Tri Wibowo BS
Penerbit: Opus Yogyakarta
Tahun Terbit: 2018
Jumah Halaman: 226 Halaman
Genre: Historical Fiction
Pereview: Uswah

*Mengandung banyak spoiler :p

Sumpah Ramaparasu, novel yang menceritakan tentang sosok Ramaparasu, anak ke-5 Resi Jamadagni yang sakti, dia mendapat gelar Ramaparasu atau Rama Yang Bersenjata Kapak karena berhasil uji tanding mengalahkan Khanda Parshu atau Siwa yang dilukai oleh kapak milik Ramaparasu. Ramaparasu Kesatria pilih tanding yang tidak bisa mati kecuali di tangan Dewa Wisnu.

Alkisah, Jamadagni mundur dari tahta kerajaan sebagai Raja dan memilih menjadi seorang Resi mengikuti jejak kakaknya Resi Suwandagni yang jauh dari dunia, fokus bertapa, meditasi dan membaktikan seluruh hidup pada Dewa, istrinya Dewi Renuka dan kelima anaknya mengikuti titah ayahnya. Sedangkan Kerajaan Kanyakawaya diserahkan kepada putra angkatnya Hehaya. 

"Yayi, hidup bertapa, menjauhi dunia, bukan berarti engkau akan selalu bisa damai. Olah batin akan selalu diuji, di mana pun engkau berada." (Resi Suwandagni)

Jamadagni menjadi Resi yang sakti dan lebih banyak mengajarkan hikmah kepada para tamu yang berkunjung meminta nasihat. Renuka semakin lama merasa kesepian, dengan kecantikannya yang paripurna dan hasrat biologisnya yang tak kunjung tersampaikan, ia berhasil menaklukkan Raja tampan yang kebetulan ditemuinya di telaga, ia bersetubuh dengan Citrarata Raja dari Martikawata. Atas perbuatan asusilanya, Jamadagni menghukum Renuka dengan hukuman mati dengan syarat yang membunuhnya adalah anak-anaknya. Keempat putra Jamadagni menolak perintah ayahnya, sehingga keempat anaknya dikutuk menjadi tikus, hanya Ramaparasu yang patuh pada perintah ayahandanya.

"Maafkan aku, ibu. Aku tak memahami kemarahan ayahanda, tetapi ayah adalah resi kesayangan para dewa. Pasti ia memiliki alasan"

Dan pada saat eksekusi pemenggalan ibunya, Renuka mengutuk,

"Lakukanlah, anakku. Aku telah memaafkanmu sebelum engkau membunuhku, meski aku tak mengerti mengapa engkau tega menyanggupi permintaan ayahmu. Namun, kelak engkau akan kehilangan rasa welas asihmu."

Dewa sangat menyayangi Jamadagni dan mengaminkan keputusannya untuk menghukum mati Renuka, tapi Dewa juga tidak akan meremehkan sabda seorang ibu.

Dengan penuh hormat, Ramaparasu memenggal kepala ibunya, jenazah ibunya dibaringkan Ramaparasu di depan ayahnya. Keempat tikus jelmaan kakak-kakaknya dielus satu-persatu oleh Jamadagni. Dengan begitu bangga Jamadagni memberikan hadiah kepada Ramaparasu sesuai permintaannya karena telah patuh kepada perintahnya. Ramaparasu mengajukan 5 permohonan yang pasti akan dikabulkan oleh Dewa karena Jamadagni adalah resi sakti kesayangan para dewa.

"Pertama, ibunda dihidupkan kembali. Kedua, semua kakak dikembalikan ke wujud manusia. Ketiga, ayah melupakan semua perbuatan ibu dan kami semua. Keempat, ibu dan kami diampuni semua dosa oleh Para Dewa. Kelima, jadikan aku tanpa tanding dan hanya bisa mati di tangan Wisnu"

Semua permintaan Ramaparasu dilangitkan oleh Jamadagni, disambut dengan suka cita oleh Para Dewa sekaligus dikabulkan seluruh permintaannya. Kini keluarga Jamadagni hidup dengan bahagia seperti sedia kala. 

Hehaya, Sang Raja Kerajaan Kanyakawaya pengganti Jamadagni mulai menunjukkan sifat aslinya, ia merasa harus membalas kematian ayahnya yang telah mati karena mengorbankan jiwanya untuk melindungi Jamadagni saat perang. Terlebih Hehaya menaruh hati pada Renuka dan cintanya ditolak oleh Ibu angkatnya. Hehaya berhasil menghabisi Jamadagni lalu menyusul Renuka dan keempat anaknya. Ramaparasu membalas dendam kematian keluarganya dengan membunuh Hehaya, setelah berhasil membunuh Hehaya dia bersumpah akan menghabisi seluruh kesatria di seluruh jagat raya. Karena dia merasa watak kesatria selalu sewenang-wenang, berbuat banyak kerusakan dan membunuh demi kekuasaan. Oh, sabda seorang ibu menjadi takdirnya. Ramaparasu menjadi pembasmi seluruh kesatria dengan tanpa welas asih. (makannya baik-baik sama emak yha, Nak! 😭 biar didoain yang baek-baek, kalau sudah terlanjur keceplosan yang buruk-buruk kan gawat, yekan 😭)

Seluruh kesatria di jagat raya telah dihabisi oleh Ramaparasu dengan kapaknya, tidak ada yang bisa mengalahkannya. Hingga pada suatu titik, Ramaparasu ingin mengakhiri sepak terjangnya, rupanya dia sudah lelah mengalirkan darah para kesatria. Sesuai permintaan Ramaparasu yang tidak bisa mati kecuali di tangan Dewa Wisnu, Rama mulai mencari sosok titisan Dewa Wisnu untuk segera mengakhiri kejenuhannya. Pencariannya terhadap sosok Dewa Wisnu tak kunjung ia temui, Ramaparasu mendatangi Resi Wasis, seorang resi bijaksana yang mengetahui keberadaan Wisnu, berdasarkan arahan Resi Wasis, bertemulah Rama dengan Arjunasasrabahu, seorang kesatria titisan Batara Wisnu. Dengan perjanjian peperangan, Ramaparasu dan Arjunasasrabahu siap-siap untuk saling melesatkan senjata. Ramaparasu bersiap-siap menjemput mautnya. Ramaparasu melepaskan Bawastranya, sedangkan Arjunasasrabahu hanya diam dan senjata itu nancap di dada Arjunasasrabahu, Ramaparasu marah,

"Keparat kau Arjunasasrabahu! Kau tak lepaskan cakramu!".

Arjunasasrabahu tersenyum

"Aku bukan titisan Wisnu, kaulah yang titisan Wisnu, kalaupun aku titisan Wisnu, seharusnya aku tidak bisa mati di tanganmu". Arjunasasrabahu meninggal seketika. 

Ramaparasu kesal merasa dipermainkan oleh Sang Hyang Penguasa, bertanya kepada Resi Wasis tentang apa yang terjadi, Resi Wasis tersenyum dan berkata

"Inilah saat yang ditunggu, Arjunasasrabahu adalah kebenaran yang sadar. Dan engkau adalah kebenaran yang tak sadar. Arjunasasrabahu sadar dirinya mengemban amanah Batara Wisnu, dan engkau juga mengemban amanah Batara Wisnu, namun engkau tak menyadarinya."

Ramaparasu terdiam, tertawa. Dia lalu menyadari pergulatan yang terjadi pada dirinya. Di penglihatan batinnya, dia melihat dari dirinya mengalir darah para kesatria yang dibunuhnya, dia memahami mengapa dia menjadi titisan Wisnu dan bagaimana cara Wisnu menjaga jagat raya. Namun, sejenak saat Ramaparasu menyadari bahwa ia adalah titisan Batara Wisnu, maka Wisnu pun telah pergi dari Ramaparasu. Ramaparasu melayang dan melihat padang Samantapancaka. Kelak, pada titisan Batara Wisnu selanjutnya akan ada peperangan dahsyat lagi di padang Samantapancaka, nama padang Samantapancaka itu menjadi KURUSETRA.

*********************

Membaca novel ini bukan semata membaca kisah pewayangan dan mitologi hindu yang kaya akan hal-hal mistis dengan kekuatan luar biasa. Dibalik kisahnya, ada beberapa mutiara hikmah yang dapat kita ambil, tentang cinta, ketulusan, kepatuhan, kesetiaan, kasih sayang, kebijaksanaan, dendam, nafsu, kebencian dan kekuasaan.

Ada banyak tokoh yang dipaparkan dalam novel tersebut yang tidak bisa aku sebutkan satu-persatu, namun yang menarik, kisah yang tertulis dalam Ramaparasu menggambarkan karakter dan segala permasalahan kehidupan yang tak pernah lekang oleh waktu.

Tentang Jamadagni yang mengakhiri lebih awal tanggung jawabnya, melepaskan belenggunya dan lebih memilih menjadi seorang pertapa suci. Padahal yang terbaca adalah ia menghindari menghadapi masalah karena Jamadagni tak ingin mengambil resiko tentang bagaimana kelak nasib kerajaan dan rakyatnya yang telah terlanjur diembannya. Banyak dalam kehidupan kita menemui sosok seperti Jamadagni, seseorang yang lebih fokus untuk salih secara spiritual, tanpa disejajarkan kesalihannya secara sosial baik dengan keluarganya ataupun masyarakat sekitarnya. 

Ramaparasu menggambarkan amarah yang terselubung atas nama kebenaran. Seperti yang diungkapkan Resi Wasis kepada Ramaparasu, "Engkau adalah kebenaran yang tak kau sadari, sedangkan Arjunasasrabahu adalah kebenaran yang ia sadari", seringkali seseorang kabur dengan makna kebenaran, banyak yang menganggap bahwa kebenaran yang diyakini harus diterima di semua kalangan, padahal tidak ada kebenaran yang mutlak menurut tafsir manusia. Menurut Rama, kesatria harus dimusnahkan karena penyebab kerusakan, namun ia memusnahkan kerusakan dengan cara kerusakan pula. Ia mengingkari kebenaran itu sendiri, kebenaran versi masing-masing seolah menjadi mata rantai yang tidak pernah usai, akhirnya tiap pembawa titah kebenaran merasa ialah yang paling benar, lebih banyak berbicara tinimbang mendengarkan kebenaran dari sudut lain, tak sedikit yang saling menyalahkan dengan dalih kebenaran pula. Seperti yang terjadi saat ini, bukan? 😊 Semua merasa paling benar. Bersahut-sahutan untuk menjadi yang paling utama menegakkan kebenaran, memberitahu kebenaran padahal secara tidak ia sadari, justru kebenaran itu adalah hoax semata 😔 

Menurutku (yang agak lemot 😂), membaca novel ini butuh sampai berkali-kali. Karena alurnya campuran, buanyak sekali tokoh yang diceritakan di dalamnya dengan begitu rinci (sampai bingung mengingat namanya) yang menurutku mungkin terlalu memperlebar cerita, tapi aku sangat menikmati alur ceritanya: diawali dengan konflik, orientasi cerita dengan berbagai latar dan tokoh secara flashback, dilanjutkan dengan konflik klimaks, antiklimaks, berakhir dengan Resolusi cerita yang sempurna dan tidak mengambang. Dari 10 bintang, aku kasih puyer bintang tujuh untuk buku ini 😉


Mojokerto, 16 September 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *