Review Reclaim Your Heart, Yasmin Mogahed

Judul: Reclaim Your Heart: Kembalilah Kepada Hatimu
Penulis: Yasmin Mogahed
Penerbit:  Noura Publishing
Tahun terbit: 2018
Genre: Islam Populer, Nonfiksi
Jumlah halaman: 262
Pereview: Nur Hayati Aida
Review

Pertengahan Agustus lalu, kantor tempat saya beraktifitas mengundang seorang penulis yang juga motivator, Yasmin Mogahed, dalam rangka ulang tahun yang ke-35.  Saat mendapatkan kabar Yasmin akan datang ke Indonesia, tentu saja saya googling. Siapakah dia? Kemudian saya terdampar pada akun youtube miliknya.  Setelah mendengarkan beberapa ceramah singkatnya, saya termenung. Akan tetapi tak lama, kemudian sedikit abai dengan kedatangannya ke Indonesia.

Perempuan keturunan Mesir itu menyelesaikan pendidikan fomalnya di bidang psikologi dan mendapatkan gelar masternya di bidang komunikasi masa. Bagi sebagian orang di Indonesia, nama Yasmin Mogehed barangkali tak sepopuler  penceramah dari luar negeri macam  Sami Yusuf atau Zakir Naik. 

Awalnya, saya mengira bahwa buku Reclaim Your Heart  yang ditulis Yasmin tak jauh berbeda macam buku-buku yang ditulis oleh 'ustadz' hijrah yang sedang naik daun di Indonesia. Semua hal  diukur dengan sesuatu yang 'syar'i simbolis’. Bahwa symbol-simbol agama dipakai untuk meneguhkan keberagamaan dan keislaman seseorang. Trend jilbab syar’i ditandai dengan kerudung yang menjuntai panjang (plus dengan cadar), celana cingkrang, jenggot, sebutan pengganti dengan antum (yang seolah-olah kalau memakai bahasa Arab lebih Islami). Dan tentu, yang tak ketinggalan adalah kian menjamurnya seleb-seleb hijrah yang menjelma menjadi ustad, penceramah dan motivator agama.

Tuhan Sebagai Pelindung

Nyatanya saya keliru. Akhir September ini, selepas subuh tetiba saja saya tertarik membaca buku ini.  Saya mengacak saja membuka halaman. Lalu saya tiba di satu bab tentang shalat. Shalat, kata Yasmin, adalah sebentuk penghambaan dan kehadiran untuk bertemu dengan Tuhan. Sesiapa yang meninggalkan shalat, sebetulnya ia telah dengan sengaja menjauhkan diri dari Tuhan. Padahal, pada saat yang sama pada tiap waktu, ia harus berperang melawan nafsu yang bersemayam pada dirinya. Mampukah seseorang menang berperang jika ia tak memiliki 'tameng' dan 'pelindung'

Tanpa pelindung, betapa mudahnya manusia kalah dalam 'peperangan' itu.  Tak perlu menunggu waktu lama, ia akan dengan mudahnya terperosok pada jurang keputusasaan dan merasa ditinggal Tuhan. Hatinya menjadi gersang, kemudian dengan mudahnya melakukan tindakan-tindakan tak terpuji lainnya.

Padahal, pada kenyataanya, bukanlah Tuhan yang mengambil jarak pada manusia. Manusia sendiri yang dengan sengaja menjauh dari Tuhan. Meski begitu, Tuhan tak segan-segan menerima manusia kembali walaupun berkali-kali kita berpaling dan ingkar janji.

Sebagai makhluk berdaging, kita tahu rasa sakit saat diabaikan dan ditinggalkan. Hal itu takkan terjadi  pada Tuhan. Tuhan senantiasa membuka 'tangan'-Nya kapan saja manusia akan kembali pulang pada-Nya. Seberapa banyak manusia berpaling dari-Nya, seberapa jauh manusia meninggalkan-Nya.

Nabi Muhammad melakukan perjalanan menuju langit dan menerima ‘perintah’ shalat ini, kejadian itu kemudian disebut dengan peristiwa mi’raj. Hanya Nabi Muhamad dan beliaulah satu-satunya, kata Yasmin, yang melakukan mi’raj untuk menemui serangkaian (tanda-tanda kehadiran dan kebesaran) Tuhan. Akankah manusia biasa seperti kita bermi’raj bisa untuk bertemu Tuhan? Bisa. Karena shalat, sebagaimana yang kata ulama, adalah mi’rajnya orang mukmin.

Bukan Kebaruan

Hampir-hampir apa yang disampaikan oleh Yasmin bukanlah hal baru. Apalagi bagi orang-orang yang sudah terbiasa dengam khasanah klasik Islam. Sebut saja seperti kitab Ihya' Ulumuddin anggitan Imam Ghazali, yang lebih dari setahun ini dikaji oleh Kyai Ulil Abshar Abdalla. 

Namun, apa yang ditulis oleh Yasmin ini menemui konteks zamannya. Yasmin, mampu menggunakan bahasa yang berkesesuaian dengan kebutuhan para pembaca saat ini. Terlebih di zaman  di mana gejala kembali pada agama kian menguat. Kisah perjalanan spiritualnya ini adalah sebuah  alternatif untuk melihat agama tidak melulu persoalan hitam dan putih, bukan pula soal dosa pahala, ataupun persoalan surga dan neraka. Yasmin, bagi saya, sedang berusaha memperlihatkan bahwa hubungan manusia dan Tuhan adalah hubungan cinta dan kasih. Wajah Tuhan tak lagi sangar.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar