Review Kiai Hologram, Emha Ainun Najib



Judul Buku : Kiai Hologram
Pengarang : Emha Ainun Najib
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun Terbit: 2018
Jumlah Halaman: 285
Genre: Non Fiksi
Nama Pe-review: Dian Nur

“Bagi manusia, yang penting bukan kemanusiaannya, melainkan status sosial, harta benda, dan kekuasaannya. Bagi sekolah dan universitas, bukan ilmu yang penting, melainkan gelar kesarjanaannya. Bukan tujuan hidup yang penting, melainkan jumlah pemilikan keduniaannya. Dalam beragama yang utama bukan rida Allah, melainkan gaya kealimannya, branding keulamaan, gengsi kecendekiawanan, serta keuntungan materi di dunia maupun pahala materiel di surga. Di semua peta sosial, yang primer bukan kebenaran, kebaikan, dan kemuliaan, melainkan kemenangan, kegagahan, dan keunggulan".(hal.41)

Pernyataan Cak Nun di salah satu judul kumpulan essaynya ini cukup menohok saya dan siapa saja yang membaca. Bahwa ternyata sadar atau tidak, kita begitu senang dengan duniawi, senang dipuja-puji, senang dianggap pintar dan alim soal agama. Kita lupa bahwa esensi hidup yang sebenarnya adalah mencari ridho Allah, dunia ini hanya tempat "mampir ngombe" yang tidak seharusnya kita "gondeli" agar memiliki kekuasaan diantara yang lain. Nyatanya, saat ini banyak orang sibuk membagikan kehidupannya di ruang publik yang terkadang nyatanya palsu.

Di awal essay, Cak Nun menggambarkan tentang esensi hidup dari yang terkecil yakni keluarga. Orang tua terutama ibu yang tidak menuntut anaknya menjadi "sesuatu" tapi cukup memberi teladan tentang kehidupan yang baik, memberi manfaat bagi lingkungan sekitar seperti contohnya berkeliling membagi sebagian harta untuk tetangga yang tidak mampu. Juga tentang kakak-adik yang saling mengayomi, tidak menonjolkan diri satu sama lain, tidak berambisi menjadi "orang" tapi kehidupannya penuh sahaja dan harmoni.

Cak Nun juga memberi penggambaran sekolah yang ideal yang seharusnya berfokus pada penanaman budi pekerti, pengembangan bakat, potensi dan kepribadian. Bukan sekolah yang menghasilkan robot-robot guna kepentingan industri.

Kesemuanya itu dijabarkan Cak Nun sebagai bentuk keprihatinan akan pengaruh dunia modern dan digital saat ini. Secara mendalam Cak Nun kemudian berbicara tentang keberwujudan Tuhan dalam negara, yakni indonesia. Seharusnya kita mampu berbuat untuk negara sebagai bentuk kecintaan kita pada amanahNya. Bahkan caknun juga membahas tentang ide khilafah dan HTI yang sedang ramai diberitakan. Khilafah adalah benih bukan hidangan, yang seharusnya dapat disesuaikan dimana ia akan tumbuh karena perbedaan kebudayaan di masing-masing daerah. Indonesia adalah subyek besar di muka bumi, memiliki sejarahnya sendiri, ia garuda juga bumi pertiwi, hamengku bumi, pemangku dunia. Indonesia adalah dirinya sendiri yang semestinya dicintai tanpa kepentingan apapun.

Buku ini adalah kritik sosial yang mengajak kita berfikir dalam tentang hakikat keberadaan kita di bumi, terutama di negara kita sendiri. Sudah saatnya kita belajar berakhlakul karimah dimanapun berada, tidak mudah membenci dan menyebar benci dimedsos, tidak memberhalakan sesuatu hanya karena sedang ramai atau viral, bergotong royong mencintai bangsa dan tidak haus kekuasaan atau gila penghormatan. 

Buku ini memang cukup rumit difahami meskipun beberapa katanya terasa kocak dan ringan. Tapi bahasanya yang dalam membuat banyak pemahaman baru yang mengetuk hati. Asal jangan terlalu ambil hati saja, karena banyak juga tulisan yang agak menyindir pedas beberapa pihak. Bagaimanapun, 8 untuk buku keren Kyai Emha. Buku ini "menyemelehkan hati" dan hakikat mencintai, khususnya dalam hal berbangsa dan bernegara di era modern saat ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar