Review Mata Hari, Paulo Coelho

Judul Buku: Mata Hari
Penulis: Paulo Coelho
Penerbit: PT. Gramedia
Tahun Terbit: 2016
Genre: Historical Novel, Historical Fiction, Biografi
Jumlah Halaman: 187
Pereview: Uswah


A Espia, Novel yang ditulis oleh Paulo Coelho ini dialihbahasakan oleh Lulu Wijaya dan diterbitkan pertama kali oleh Gramedia pada tahun 2016, pada tahun 2017 Gramedia mencetak kembali untuk yang kedua. A Espia dalam bahasa Spanyol artinya adalah mata-mata.

Novel ini beralur mundur, diawali dari Prolog yang menceritakan tentang hukuman mati yang dijatuhkan oleh Pemerintah Perancis kepada Margaretha Zelle, perempuan berkebangsaan Belanda yang hidup di akhir abad 19 sampai awal abad 21, memilih hijrah ke Perancis dan mengganti namanya menjadi Mata Hari sebagai nama panggungnya demi bertahan hidup dan melepaskan segala kesedihannya selama menjadi istri dari Perwira Rudolf MacLeod.

Margaretha Zelle
Aku tidak meminta bahagia, aku hanya meminta agar tidak sesedih dan sesengsara yang kurasakan (hal. 52)

Selanjutnya novel ini terbagi menjadi 3 bagian. Bagian pertama menceritakan masa kecil Zelle selama berada di tanah kelahirannya Leuwardeen, Belanda. Zelle hidup di masa Perang Dunia I. Seorang gadis yang berasal dari keluarga pengusaha, cantik jelita, paling cemerlang di antara teman wanita lainnya. Usaha kedua orangtuanya bangkrut, lalu Zelle dikirim ke asrama, disana ia diperkosa oleh kepala sekolahnya. Ketika Zelle beranjak dewasa, ia melihat iklan seorang perwira keturunan Scotlandia Rudolf MacLeod yang bertugas sebagai tentara Belanda mencari istri. Zelle mengirim profilnya dengan foto yang paling sensual, berharap kehidupannya akan menjadi lebih baik. Selang 3 bulan mereka menikah dan berdomisili di Indonesia karena tugas.

Margaretha Zelle dan Captain MacLeod 

Yang menarik, MacLeod ditugaskan di Indonesia, tepatnya di Pulau Jawa. Selama menjadi istri MacLeod, Zelle kerap mengalami KDRT juga kekerasan seksual, MacLeod banyak menghabiskan waktunya bersama perempuan-perempuan pribumi untuk mabuk dan pesta seks bersama tentara Belanda lainnya. MacLeod bahkan mengetahui bahwa Zelle pernah diperkosa oleh kepala sekolahnya, maka demi memuaskan nafsu seksnya, MacLeod memerintahkan pelayannya untuk membeli baju seragam yang sama dipakai Zelle saat diperkosa oleh kepala sekolahnya dan Zelle diperintahkan berdandan layaknya anak sekolah, lalu dengan beringas MacLeod menirukan adegan pemerkosaan kepala sekolah terhadap Zelle. Oh, Zelle yang malang. Hanya bisa menghibur diri dengan mengasuh anak perempuannya. Tak lama kemudian Zelle berbahagia karena melahirkan anak laki-laki, namun kebahagiaan itu sirna karena anak lelakinya dibunuh oleh pengasuhnya sendiri, belakangan diketahui alasan pembunuhan itu adalah balas dendam karena MacLeod tak segan menganiaya dan memperkosa pengasuh anaknya.

Penyiksaan yang kerap dialami oleh Zelle tak ayal membuatnya jenuh menjalani kehidupan, bekas lebam pemukulan yang melukai wajah cantiknya disembunyikan dengan make up. Suatu saat MacLeod dan Zelle mendatangi perkumpulan para tentara Belanda dengan pribumi, hati Zelle berdesir melihat kelihaian perempuan Jawa dalam meliuk-liukkan tubuhnya, melenggak-lenggokkan kepala yang begitu luwes dengan tubuh membentuk huruf S, begitu selaras dengan gamelan dan musik yang dialunkan, Zelle sadar, mengapa suaminya selalu mengatakan bahwa bermain seks dengan gadis Asia sangat dahsyat dan tiada tanding, ah tentu saja ia merasa direndahkan dengan kata-kata suaminya. Di tengah pesta tari, Zelle menyaksikan peristiwa bunuh diri istri perwira karena tidak tahan dengan perlakuan suaminya yang ternyata tidak jauh beda dengan perlakuan MacLeod kepadanya. Peristiwa bunuh diri yang ia saksikan itu serasa membaptisnya. Memotivasinya untuk lepas dari perbudakan suaminya, tapi tidak dengan cara bunuh diri. Ia meninggalkan Indonesia menuju Perancis.

Cinta membunuh dengan tiba-tiba, tanpa meninggalkan bukti kejahatannya (hal. 70)

Bagian kedua mengisahkan Zelle yang merubah namanya menjadi Mata Hari untuk mengaburkan identitasnya sebagai warga negara Belanda, seorang ibu beranak satu dan istri dari tentara Belanda. Mata Hari mengaku berasal dari Hindia Timur, ia banting stir menjadi Penari dan sukses membumikan namanya di Perancis hanya bermodal kebohongannya bahwa tarian-tarian eksotisnya berasal dari Jawa. Sebagaimana kita ketahui Perancis adalah negara dimana masyarakatnya haus akan suatu hal yang baru, penikmat dan menjunjung tinggi seni, orang Perancis punya reputasi amat sangat liberal. Maka cukup mengatakan bahwa tariannya berasal dari Jawa, maka kau akan diterima dengan baik disana. Mereka tidak akan tahu atau menelisik bagaimana tarian Jawa yang sesungguhnya, padahal yang dilakukan Mata Hari hanyalah tarian eksotis dan bahkan erotis yang ia modifikasi sendiri tanpa balutan makna filosofis, kecuali Madame Guimet, seorang kolektor seni ternama yang pada akhirnya mengetahui bahwa tariannya adalah kebohongan atas nama budaya. Namun Guimet memilih bergeming tidak membuka kedok Mata Hari. Dalam waktu singkat Mata Hari menjadi perempuan kaya raya dan terkenal. Koleganya adalah petinggi pemerintahan, para pejabat, seniman, pengacara, bankir dan pria-pria kaya. Kecantikan dan tariannya juga tubuhnya telah membius pria-pria beristri. Mata Hari mendapatkan bayaran yang tinggi untuk satu malam yang ia habiskan bersama pria-pria itu. Seorang seniman terkenal Pablo Picasso yang masih menjalin hubungan dengan kekasihnya Fernande pun terjerat kecantikan Mata Hari dan mengajaknya berkencan. Mata Hari adalah primadona Perancis pada zamannya.

Mata Hari
Aku memang pelacur, kalau pelacur itu berarti seorang yang menerima utang budi dan perhiasan sebagai ganti kasih sayang dan kenikmatan. (hal. 29)

Pada bagian pertama dan kedua ini, semua yang tertulis tentang Mata Hari menggunakan perspektif "aku", dimana Mata Hari yang menulis kisah hidupnya sebagai surat yang dikirimkan kepada pengacaranya, Mr. Clunet sebelum dia menjalani hukuman mati. Mata Hari berpesan kelak jika dia selesai dieksekusi oleh para penembak, maka kisahnya akan abadi dan bisa dibaca oleh putri satu-satunya.

Pada bagian ketiga, kisah dirubah menjadi perspektif "kamu", merupakan balasan surat Mr. Clunet kepada Mata Hari, Mr. Clunet adalah pengacara Mata Hari yang tidak berhasil mempertahankan kebebasan Mata Hari atas tuduhan mata-mata.

Sampai halaman 100, aku tidak menemukan clue dari sisi mana Mata Hari dituduh mata-mata, kecuali hanya pada saat dia sudah semakin tua dan bangkrut, memiliki banyak hutang seiring dengan memudarnya kecantikan dan kelenturan tubuhnya dalam menari, bertambahnya berat badannya dan sudah tidak ada lagi penikmatnya di usianya ke-41, ternyata dia dijebak oleh Georges Ladoux, kepala anti-spionase yang sudah diincar Pemerintah. Mata Hari hijrah ke Jerman atas permintaan Ladoux dan bersedia menjadi agen mata-mata dengan kode H21, pada kenyataannya Mata Hari tidak pernah menjalankan misinya sebagai mata-mata. Pada saat persidangan Mata Hari di Perancis, semua saksi yang terdiri dari pria-pria penikmat tubuh Mata Hari menyangkal pernah berhubungan dengan Mata Hari, penangkapan Mata Hari hanya bertujuan memperlihatkan kemampuan tentara Perancis dan mengalihkan perhatian dari ribuan pemuda yang berguguran di medan pertempuran. Tentunya tuduhan itu juga dilancarkan berkat kerjasama para barisan istri sakit hati karena suaminya tergila-gila dengan Mata Hari.

Mata Hari saat ditangkap oleh Pemerintah Perancis
Dosa tidak diciptakan oleh Tuhan, dosa diciptakan oleh kita ketika kita mencoba mengubah apa yang tak terhindarkan menjadi sesuatu yang subjektif. (hal. 112) 

Mata Hari tidak bersalah, namun ia harus menanggung hukuman mati atas tuduhan yang ia sendiri tidak melakukannya. Mata Hari ditembak mati oleh duabelas eksekutor pada tanggal 15 Oktober 1917

Kejahatanku yang terbesar adalah menjadi wanita yang bebas dan mandiri di dunia yang diperintah oleh kaum pria. (hal. 24)

Kisah Mata Hari ini banyak dituliskan oleh para novelis, bahkan novelis lokal, diantaranya Ahmad Tohari dengan judul "Sang Penari" (aku tidak yakin Ahmad Tohari merujuk pada Mata Hari pada novelnya karena latar dan settingnya berbeda) dan Remy Silado dengan judul "Namaku Matahari", aku memilih membaca karya Paulo Coelho karena pernah tersihir dengan Alkemis dan beberapa novelnya yang membuatku ketagihan membaca kisah Mata Hari versinya (tapi tidak bisa juga disebut aku menggemari Paulo Coelho karena aku tidak banyak membaca bukunya). Dalam menulis novel ini, Paulo terlebih dulu melakukan riset dengan melihat dokumen-dokumen yang ditulis oleh dinas intel Inggris dari National Archives, pengacara yang mengklarifikasi persidangan Mata Hari, juga beberapa rekannya yang berkebangsaan Swiss-Jerman dalam pemeriksaan sejarah yang tepat. Membaca novel ini meski dibumbui dialog fiktif serasa nampak nyata, sehingga aku bisa mengetahui bagaimana alur sesungguhnya kehidupan seorang Margaretha Zelle atau Mata Hari. 

Setting paling menarik pada novel ini adalah Pulau Jawa, Indonesia. Bertahun-tahun Mata Hari hidup di Indonesia sehingga menginspirasinya untuk merubah hidupnya menjadi seorang Penari di Perancis tidak banyak ditampilkan oleh Coelho, mungkin karena keterbatasan dokumen yang dimiliki Coelho dalam mengulasnya. Aku menduga nama Mata Hari yang digunakan sebagai nama panggungnya juga terinspirasi dari Bahasa Hindia Timur (Indonesia), Matahari yang selalu menyinari bumi. Lebih dari itu, dalam menulis novel ini Paulo Coelho selalu menonjolkan sisi hikmahnya dalam bercerita. Banyak kutipan yang bermakna filosofis juga mitos-mitos Yunani yang diceritakan, membuat kisah ini bukan hanya menyedihkan dengan sad ending berupa kematian, tapi juga tampak lebih dramatis.

Dari 10 bintang, aku berikan nilai 8 untuk novel ini :)

Foto-foto Mata Hari diambil dari https://economictimes.indiatimes.com dan http://sketsanews.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar