Home Ads

Kamis, 28 Februari 2019

Resensi Buku The Absorbent Mind, Maria Montessori

Pikiran Spon


Judul: The Absorbent Mind, Pikiran yang Mudah Menyerap
Penulis: Maria Montessori
Penerbit: Pustaka Pelajar
Genre: Parenting, Nonfiksi

Ketika saya tengah terpukau dengan postingan seorang teman yang mempraktikkan montessori, saya tertarik untuk belajar. Saya tanya, buku apa yang pertama harus saya baca? Dia jawab, The Absorbent mind. Segera buku ini saya buru.

Membaca Absorbent Mind sejak awal, saya tak langsung menemukan sinkronisasi konsep Maria Montessori dengan postingan ibu-ibu masa kini di media sosial. Tak ada istilah aparatus, EPL, sensori, dll yang diulang-ulang. Sebab ternyata buku ini memuat konsep besar yang lebih abstrak dari yang sudah diturunkan menjadi berbagai jurus metode montessori sehari-hari. Meski mengaku tertarik, nyatanya, sampai sekarang saya tak juga mempraktikkan montessori pada anak saya. Karena malas, kurang motivasi, kurang modal, atau memang mencukupkan diri dengan merasa terinspirasi.

Tapi buku ini sungguh membantu saya memahami tumbuh kembang anak lahir dan batin. Sebagai ibu muda, kita mungkin sering kaget dengan perkembangan anak dari hari ke hari. Progresnya cepat. Kemarin diajari seperti tak memerhatikan, ternyata esoknya anak sudah bisa menirukan. Demikian anak belajar, kata Montessori, dengan alam bawah sadarnya. Dalam mempelajari bahasa misalnya, ia tak hanya menyerap kata, melainkan juga impresi. Cara anak belajar bahasa sangat berbeda dengan orang dewasa belajar. Ia memelajari tak hanya kosa kata, tapi strukturnya sekaligus. Sesekali susunannya mungkin terbalik, tapi ia langsung belajar tanpa mengenal rumus. Sangat berbeda jika kemudian hari saat sudah besar ia memelajari bahasa lain dengan lebih terstruktur dan jauh dari cara spontan. Ia belajar banyak hal tentang benda, kebiasaa  keluarga, dan sebagainya tanpa ia sadari bahwa ia sedang belajar. Mungkin ia sama terkejutnya seperti kita orang dewasa ketika ia ternyata telah bisa menguasai sesuatu. Itu yang disebut Montessori dengan istilah, pikiran spon, pikiran yang menyerap dengan mudah. Montessori memandang anak bukan sebagaj makhluk lemah, melainkan sebagai makhluk berdaya cipta tinggi yang hanya perlu kita temani untuk memelajari dan memahami sekelilingnya.

Buku ini mengantarkan kita pada lanskap perkembangan anak selama enam tahun pertama. Karena di tahun-tahun pertamanya itu lah pikiran spon bekerja dengan maksimal. Montessori sebagai seorang dokter, tidak seperti buku kekiniam yang banyak ditulis psikolog, menjelaskan dengan berbagai pendekatan termasuk embriologi.

Bagi saya, Montessori 'sangat galak' tentang bahwa orang tua tidak boleh melakukan kesalahan dalam membersamai perkembangan anak terutama di hari-hari awalnya lahir ke dunia. Dia sangat yakin bahwa kekurangan bahkan kejahatan yang dilakukan individu di masa depan bisa sangat dipengaruhi oleh hari-hari pertamanya di dunia, misal karena ia mengalami regresi pertumbuhan.

Anak tidak hanya bisa mengalami progres pertumbuhan, tapi juga regresi. Anak bisa mengalami trauma lahir yang menyebabkan ia menolak dunia dan seolah-olah ingin kembali ke dalam buaian rahim yang membuatnya terus menerus hanya mau dekat dengan ibunya secara berlebihan.

Hari ini kita banyak menemukan kasus keterlambatan perkembangan pada anak mulai dari sekadar delay sampai masuk spektrum autisme. Saya tentu bukan ahli, selain kasus-kasus itu butuh banyak assesmen yang mendalam dan teliti, tetapi penjelasan Montessori soal regresi makin nyata belakangan karena keteledoran orang tua dalam memberikan akses gadget kepada anak atau kurangnya komunikasi sesuai kebutuhan masing-masing anak. Menemani tumbuh kembang anak pertama, kedua, dan seterusnya pasti berbeda-beda. Karena itu orang tua mesti tanggap terhadap gerak-gerik dan capaian perkembangan anak sejak hari-hari pertamanya. Kadang ketidaksabaran kita terejawantah menjadi sikap kasar yang bisa melukai atau bahkan menimbulkan trauma pada anak. Mereka sangat rentan. Karena itu keterlambatan yang dialami anak bisa jadi karena sikap orang tua yang malah menghambat perkembangan.

Montessori membagi tiga periode perkembangan anak 0-18 tahun, yaitu; 0-6 tahun, 7-12 tahun, dan 13-18 tahun. Di masing-masing periode anak memiliki kepekaan yang berbeda-beda sehingga 'materi' belajarnya juga berbeda. Di 6 tahun pertama, anak-anak mengenali lingkungannya, orang-orang, adat istiadat, bahasa yang membawa mentalitas lokal ke dalam dirinya. Apa yang dialami anak-anak dalam tahun-tahun pertama hidupnya menjelma menjadi 'mneme' atau ingatan superior, sesuatu yang diserap oleh anak, akan tetap, dan terus aktif menjadi unsur akhir kepribadiannya. Betapa usia emas ini sangat penting untuk membuat pondasi kepribadian yang kokoh bagi anak.

Buku ini membicarakan panjang lebar masa perkembangan dan perubahan-perubahan di periode-periode yang berbeda. Mulai dari embrio biologis, embrio spiritual, pentingnya gerak dalam pertumbuhan normal, keterampilan tangan, belajar melalui budaya dan imanjinasi sampai ide besar tenga kontribusi anak dalam masyarakat terutama karena Montessori hidup dalam masa perang dunia. Nuansa bertemu dengan seorang guru yang teguh dan 'bold' akan terasa sepanjang membaca buku ini.

Sekali lagi buku ini bukan tipe buku 'how to' seperti banyak buku lain tentang metode montessori. Buku ini layak disanding setiap malam ketika anak-anak sudah tidur. Buku ini akan menemani refleksi kita sebagai orang tua apakah kita sudah cukup memperhatikan berbagai dimensi tumbuh kembang anak, atau buku ini akan membantu menyegarkan pikiran kita apakah hari ini kita lebih mengekang anak kita atau lebih mendorong dan membantunga secara fisiki maupun psikis.

Menjadi orang tua mungkin tak ada sekolahnya. Setiap hari seolah menjadi 'kegiatan laboratorium' yang bisa gagal dan berhasil ~ yang jika kita menemukan buku pendamping yang bagus, kita akan menjalani prosesnya dengan lebih mulus. 

- Nabilah Munsyarihah -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *