Review Buku Semua untuk Hindia, Iksaka Banu

Manusia-Manusia Kolonial


Judul: Semua untuk Hindia
Penulis: Iksaka Banu
Penerbit: KPG
Tahun terbit cetakan pertama: 2014
Genre: Nonfiksi
Tebal buku: 154 halaman

Jika Anda menggemari karya-karya Pramoedya Ananta Toer,  mungkin Anda akan mudah terpikat dengan karya Iksaka Banu satu ini. Bukan novel seperti karya Pram, Semua untuk Hindia adalah kumpulan cerpen. Terdapat 13 judul dalam buku pemenang Kusala Sastra Katulistiwa 2014 ini. 

Semuanya berlatar belakang masa kolonial. Keuntungan dari format cerita pendek, pembaca disuguhi sudut pandang dan latar yang lebih beragam. Iksaka Banu menghadirkan berbagai realitas penduduk Kolonial yang mungkin tak pernah kita bayangkan. Satu cerita menggambarkan keintiman bumiputera dan Belanda, lalu dalam cerita lain keintiman terjungkir dalam pengkhianatan. 

Seorang Letnan totok kelahiran Bandung kembali ke bumi Hindia setelah sekian lama melanglang buana menjadi tentara Belanda. Pengalamannya yang berharga menghadapi Nazi, membawanya sebagai tentara berpangkat lumayan kembali ke Batavia bersama NICA. Ketika ia bertemu dengan sekelompok pribumi dalam aktivitas patrolinya, ia bersikap lunak. Ia melihat seorang di antaranya adalah perempuan yang meneteki anaknya. Memori masa kecilnya disusui perempuan bumiputera setelah ibunya meninggal mencegahnya menghabisi mereka. 

Lain lagi dengan cerita gundik. Ada beberapa cerita tentang gundik, semuanya diceritakan dengan dudut pandang dan goncangan psikologis tokoh yang berbeda. Sudut pandang tuan Belanda di Deli yang dilema 'mengeluarkan' gundik yang selama ini telah sangat membantunya karena istri sahnya akan datang dari Belanda versus seorang gundik yang ketahuan selingkuh dengan pemain stambot dan memilih lari bersama kekasihnya. 

Seluruh kisah-kisah itu menghadirkan Hindia Belanda dengan tanpa meniadakan manusia Hindia yang beragam latar belakangnya. Apapun identitasnya, seorang bumiputera, seorang Indo keturunan, seorang totok Belanda, seorang perwira, atau seorang gundik, masing-masing akhirnya memilih keberpihakannya. Yang totok bisa memilih menjadi pejuang kemerdekaan, yang bumiputera bisa berkhianat. 

Bahasa yang memikat dan cerita yang solid dimiliki oleh seluruh cerita Iksaka Banu di buku ini. Selesai membacanya Anda akan merasakan bahwa kolonialisme dengan segala dramanya terutama jika ditilik dari sudut pandang individu adalah pilihan yang sulit, seperti kebijakan politik yang tak masuk akal bahkan bagi seorang tentara setia. 

Cerita-cerita ini mengalir dalam plot yang kuat. Menulis dalam konteks sejarah mesti 'to the point' dan tak banyak mengumbar kata-kata Indah. Pembaca akan menyadari betapa seriusnya penulis meriset jengkal sejarah yang ia tulis sebelum dituangkan dalam cerita fiksi tanpa kehilangan kekayaan realitas di masanya. Kita akan menemukan terkadang, seorang tokoh, kebanyakan non bumiputera, dihadirkan sebagai pencerita tentang suatu peristiwa sejarah atau perjumpaannya dengan tokoh besar bumiputera yang hari ini kita panggil pahlawan.

Semua tokoh membawa hati nuraninya tak peduli apa identitasnya. Seperti seorang wartawan yang diterjang amarah menyaksikan barisan penduduk Bali yang tewas dengan kstaria dalam peristiwa Puputan, kepalanya langsung dihantam seorang Jenderal. 

"Berhenti lah menulis hal buruk tentang kami Nak. Aku dan tentaraku tahu persis yang sedang kami lakukan. Semua untuk Hindia. Hanya untuk Hindia. Bagaimana denganmu? Apa panggilan jiwamu?"

Tepat di situ, bagi sebagian orang, kolonialisme mungkin adalah panggilan jiwa. Sama seperti para pejuang kemerdekaan yang melawan kolonialisme juga sebagai panggilan jiwa.

- Nabilah Munsyarihah -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar