Selasa, 09 April 2019

Resensi Buku Berislam Seperti Kanak-Kanak, Kalis Mardiasih


Judul buku: Berislam Seperti Kanak-Kanak
Penulis: Kalis Mardiasih
Penerbit: Yayasan Islam Cinta Indonesia
Tahun terbit: 2018
Genre: Nonfiksi, Motivasi
Jumlah halaman: 200
Pereview: Uswah

Buku berislam seperti kanak-kanak ini isinya unyu sekaliii serasa membaca majalah anak-anak, full colour. Sesuai dengan judulnya, buku ini sebenarnya mengajak kita flashback mengenang masa kecil kita, dimana beragama buat anak-anak kecil seperti kita menikmati pentol plastik dan minum es serut warna-warni. Tanpa kuatir tentang kebersihan, kadar pengawet dan pewarna buatan dalam jajanan kanak-kanak.

Ya, bagi kita yang sudah dewasa ini pasti kita sempat mengalami masa kecil yang begitu menyenangkan, pergi sekolah pagi-pagi, pulang tanpa memakai sepatu, lalu bermain, sorenya ngaji di TPQ, bermain bersama teman-teman lagi.

Semasa kecil, kita juga pernah menyaksikan ibu-ibu kita pergi tahlilan, mendengarkan pengajian dari Kiai yang ceramahnya lucu atau pengajian lucu yang diputar di radio-radio, mendatangi kuburan-kuburan (ziarah), ibu-ibu kita dulu memakai abaya dan krudung, setelah pulang dari pengajian pake daster lagi, krudung dilepas lalu ke pasar, ke sawah atau sekedar ngumpul di teras bersama tetangga.

Semasa kecil kita mungkin juga pernah mengalami masa dimana jika ramadhan tiba kita bebarengan ke masjid untuk sholat tarawih lalu antri minta tanda tangan ustad atau imam sholat sebagai bukti kepada guru di sekolah kalau kita ikut tarawih, lalu pada sepertiga malam Ramadhan kita bersama teman-teman kampung janjian untuk membangunkan orang sahur pakai kentongan. "Saooooooor saaaaooooor, duk tak duk duk duk..."

Hal yang paling ditunggu semasa kanak-kanak adalah momen ketika Hari Raya Idul Fitri tiba, malamnya takbiran keliling kampung kemudian paginya berkunjung ke tetangga dan sanak saudara, pastinya dengan baju baru kalau orang tua lagi banyak ‘rejeki’, jika belum ada memakai baju lama pun alhamdulillah seperti lagunya Dhea, lalu menerima angpau dan menghitung jumlahnya dengan begitu riang gembira.

Tetangga kita juga tidak semuanya muslim, biasanya ada satu atau dua tiga tetangga yang beragama Kristen, kita berteman dengan mereka, bersepeda dengan mereka, main gobak sodor, beli jajan bareng, bahkan merayakan lebaran bersama mereka.

Sudah terbayangkan bukan bagaimana bahagianya kita di masa kecil? Lalu, ketika kita tumbuh dewasa di abad ini terdengar anak-anak mengaji meneriakkan jargon “islam-islam Yes, kafir-kafir No!”, di zaman serba mudah akses info lewat gadget tiba-tiba teman-teman kita yang sudah menjadi orang tua ini kirim broadcast di wa grup kalau doa buka puasa yang sudah kita hafal sejak dulu ternyata tidak sohih, kemudian tentang angpau yang kata mereka mengajari anak menjadi pengemis? Oh, sebentar. Sekarang memakai baju pun ada tingkatannya: syar’i dan tidak syar’i, yang pakai jilbab katanya hijrah, yang belum pakai jilbab islamnya belum kaffah, takbir keliling itu bukan sunnah, menyalakan kembang api tradisi Majusi. Katanya Kalis, kalau orang Majusi hidup jaman sekarang juga mereka jadi penyembah listrik bukan penyembah api (ya ampun ngakak baca bagian ini 😂), meniup terompet katanya bid’ah, minta maaf pada hari raya pakai "minal aidin wal faizin" katanya juga bukan tuntunan Nabi, ziarah kubur katanya musyrik, tahlilan katanya ajaran Hindu, dan sekarang trennya mengikuti ceramah yang ngegas di youtube, yang dikit-dikit haram, dikit-dikit kafir, kalau gak dosa ya tempatnya di Neraka. Surga dikapling sendiri, mungkin punya kenalan orang dalam. Padahal semangat beragama ibu-ibu kita zaman dahulu adalah mendatangi pengajian, nirakati anak-anak, mencari nafkah yang halal dan sedekahnya luar biasa kepada orang lain.

Materi yang disampaikan oleh ustad-ustad hijrais gak akan banyak beranjak dari dosa riba, dosa ahlul bid’ah, dosa tidak pakai jilbab dan dosa tidak menjaga pandangan yang bisa juga dialami antara ustad hijrais dan jamaahnya.

Padahal, Kalis dalam buku ini menceritakan pengalamannya bertemu dengan Habib Luthfi yang begitu sejuk dipandang, tutur katanya halus dan Abah (sebutan kepada Habib Luthfi) begitu ganteng sekali dipandang lama-lama, ini bukan tentang bagaimana kita menjaga pandangan, karena memandang wajah orang Alim adalah ibadah. Kita memposisikan seorang guru sebagai Murabbirruh, kekaguman yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Sebaliknya, ustad-ustad jaman sekarang memposisikan diri seperti artis ganteng yang jika dipandang jamaahnya menyebabkan dosa.

Kalis, lewat bukunya mengajak kita menziarahi masa kecil kita, dan saya yakin setiap pembaca akan menemukan kisah yang sama sebagaimana yang Kalis alami semasa kecil, lalu secara tidak sadar kita menggali kembali kenangan demi kenangan yang hampir tidak pernah dialami anak-anak pada generasi kita. Pada akhirnya kita bersyukur tidak mengikuti Islam 'model baru' yang dengan lancang menjustifikasi bahwa Islam kita sejak jaman dahulu adalah salah. Sejatinya buku ini adalah memahamkan bagaimana Islam Nusantara berkembang dengan baik dan pesat sejak awal masuknya di bumi Indonesia. Saya membaca buku ini sekali duduk saja karena bahasanya tidak membosankan, sangat asyik, kritis dan menggelitik. Khas Kalis sebagaimana status-status dan tulisan-tulisannya di berbagai media digital, percaya atau tidak saya bahkan banyak nangisnya ketika membaca beberapa kisah dalam buku ini. 9,5 dari 10 bintang untuk buku yang luar biasa ini.
"Aku benar-benar rindu, kembali ke masa kecilku.."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis disini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Pemesanan Suvenir

Pemesanan Suvenir

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *