Home Ads

Sabtu, 13 April 2019

Resensi Buku The Paris Vendetta, Steve Berry


 Judul: The Paris Vendetta
Penulis: Steve Berry
Tahun: 2010
Penerbit: Ballantine Books New York
Jumlah Halaman: 483 Hal
Genre : Fiksi

    "...but economics can be a powerful weapon. It could be argued that it is the ultimate weapon of mass destruction." (The Paris Vendetta, p. 78)


Terorisme baru muncul dengan wajah yang sama sekali baru dan dengan senjata yang tidak terbayangkan sebelumnya: manipulasi ekonomi global. Dalam The Paris Vendetta ini, dikisahkan sekelompok orang yang dikenal dengan nama The Paris Club, yang ingin 'memporak-porandakan' dunia dan menciptakan perang dengan menggunakan ekonomi sebagai senjatanya. Ketika negara-negara telah saling berperang, merekalah yang menikmati keuntungan-keuntungan ekonomi yang dihasilkan dari perang tersebut. Mereka mengatur perang tersebut, menyuplai kebutuhan-kebutuhannya, dan sendirian, mereka mengambil banyak keuntungan dari kekacauan yang mereka ciptakan.


Cotton Malone, tokoh fiksi ciptaan Steve Berry yang selalu menjadi protagonis dalam novel-novelnya dikisahkan sebagai mantan agen lapangan elit Departemen Luar Negeri Amerika yang kemudian memilih membuka toko buku-buku langka di Kopenhagen. Persahabatannya dengan Henrik Thorvaldsen, seorang pengusaha yang sangat kaya, kemudian menyeretnya dalam rencana balas dendam dan pencarian harta karun milik Napoleon yang meninggal di pengasingan pada 1821.

Dendam pribadi, keserakahan, kekuasaan, dan sejarah-sejarah yang berkaitan dengan Napoleon mewarnai novel Steve Berry ini. Berbeda dengan novel-novel Steve Berry yang lain, seperti The Templar Legacy, yang lebih menonjolkan sejarah dengan porsi yang lebih besar, novel The Paris Vendetta ini nampaknya lebih fokus pada tokoh antagonis dan dendam pribadi Henrik Thorvaldsen serta tidak begitu banyak membahas sejarah-sejarah di masa lalu (jika dibandingkan dengan novel-novelnya yang lain). Namun, seperti biasanya, Steve Berry memukau pembaca dengan isu-isu yang sangat menarik; dalam novel ini, Berry mengkaitkan sejarah Napoleon -- pencarian harta karunnya -- pembalasan dendam dengan 'perang-perang' yang sengaja di-install untuk penghancuran ekonomi global.

"How much harm could they do? Most nations have more than adequate protections on their financial systems."

"Not really, Cotton. That's a boast most governments cannot support. Especially if those attacking the system know what they're doing. And notice the countries they picked. Places with oppressive regimes, limited or no democracy, nations that flourish with centralized rule and few civil rights." (The Paris Vendetta, p. 91)

Pada akhirnya, semua perang ini adalah sebuah hitung-hitungan ekonomi. Seberapa besar keuntungan yang akan mereka dapat sebanding dengan seberapa massive perang yang mereka ciptakan. Every war profits someone, mass death of people would never be promoted if there was no financially gain. Demikian Steve Berry mengisahkannya dengan apik dalam The Paris Vendetta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *