Senin, 22 April 2019

Resensi Buku Tuhan Pun Berpuasa, Emha Ainun Najib

Judul Buku: Tuhan Pun Berpuasa
Pengarang: Emha Ainun Najib
Penerbit: Kompas
Tahun Terbit: Juni 2012
Jumlah Halaman: 236 halaman
Nama Pe-review: Azkiyah Adawiyah
Genre : Non fiksi

Review buku:

Membaca judulnya saja, kita akan tertarik untuk mengetahui makna dari kata "Tuhanpun berpuasa".  Apalagi lihat cover bukunya sudah terasa cak Nun tersenyum seakan mengajak berdialog langsung pada pembaca. Hehe...

Pada dasarnya saya lebih suka mendengar cak Nun berpidato daripada membaca tulisannya. Pemilihan kata yang kerap kali "menohok/mak jleb" dengan guyonan jawanya menjadi ciri khas yang saya suka, tetapi mungkin juga sekaligus menjadi kelemahan dari buku-buku karangan cak Nun. Beberapa penggalan kata yang sulit dimengerti maksudnya karena kadang masih terselip penggunaan bahasa Jawa.

Kejelian Cak Nun dalam melihat subtansi sesuatu Tak diragukan lagi. Beliau membuat analogi yang menarik atas analisa situasi yang sedang terjadi pada kita, beliau melihat berbagai hal dan “menyusun ulang” secara berbeda. Beliau terus terang mengkritik masyarakat tanpa menghakimi. Beliau membangun hubungan romantis dengan Tuhan seperti kebanyakan tokoh sufi yang terkenal. memandang hubungan timbal balik antara Tuhan, manusia, alam semesta, dengan cara yang membuat segala sesuatu terdengar masuk akal.

Allah sendiri “berpuasa”. kalau tidak, kita sudah dilenyapkan oleh-Nya hari ini, karena sangat banyak alasan rasional untuk itu.” (Emha Ainun Nadjib: 52)

Sesungguhnya Tuhan pun berpuasa, untuk menahan diriNya, agar tidak ada satu pun bala musibah menimpa manusia. Tuhan mengambil hakNya untuk berpuasa karena sudah hak prerogatif Tuhan untuk menimpakan musibah bagi manusia, dengan kata lain jika Alloh tidak puasa maka "bablaslah" kita.

Di buku ini masih banyak mengandung nilai spiritual yang bisa digali. Buku ini terdiri dari empat bab, yang mana di dalamnya terdapat banyak sub-sub bab. Bab pertama membahas tentang Asas Maslahat Muddarat. Bab kedua membahas tentang Takabur dan Uswatun Hasanah. Di dalam bab ketiga membahas mengenai Dunia Akhirat. Dan penutup buku ini membahas tentang penyucian diri yang membuat saya sendiri sadar bahwa kita hanya orang asing di dunia ini karena rumah kita yang sebenarnya adalah di akhirat nanti.

Buku ini sangat saya rekomendasikan untuk dibaca. Karena setelah membaca buku ini, kita akan menyadari begitu krusial dan revolusionernya fungsi puasa dalam kehidupan kita, terutama dalam perjalanan menuju pada Yang Sejati. Maka, menangislah penuh kekecewaan, bagaimana bisa sebelum ini, hati kita amat buta, sehingga telah melewatkan banyak kesempatan Puasa Sejati yang bisa mendekatkan pada sang ilahi.

Setelah membaca buku ini, mungkin puasa selanjutnya akan lebih berat, atau bahkan lebih mudah karena terbukalah sudah pintu-pintu maknanya. Semoga puasa kali ini lebih bagus secara kualitas dari puasa tahun lalu. Wallohua'lam...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis disini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Pemesanan Suvenir

Pemesanan Suvenir

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *