Minggu, 19 Mei 2019

Resensi Buku Hati Suhita, Khilma Anis

Judul: Hati Suhita
Penulis: Khilma Anis
Penerbit: Mazaya Media
Tahun terbit: 2019
Genre: Fiksi/Novel
Peresensi: Nur Hayati Aida

Tentu saja sebagai orang yang pernah hidup di lingkungan pesantren, membaca Hati Suhita karya Ning Khilma Anis ini seperti kembali menjejaki lorong lingkungan pesantren. Bukan hanya aula dan gotakannya atau ndalem kiai/nyai, tetapi juga tentang orang-orang yang hidup di dalamnya. Pengasuh yang menjadi 'soko kunci' dan 'ruh' pesantren beserta dengan dzuriyah dan para guru, mbak dan kang ndalem, santri dan para pengurus.

Secara pribadi saya tak kesulitan untuk masuk dan berjalan dalam lembaran-lembaran yang ditulis Ning Khilma Anis ini. Ini tentu karena bantuan ingatan tentang masa-masa sekolah di madrasah di lingkungan pesantren dan nyantri di sana. Dan boleh jadi, faktor ini pulalah yang menjadi 'daya jual' Hati Suhita yang mampu menjual (dugaan saya sampai) ribuan eksemplar di tengah industri perbukuan yang bisa dibilang lesu. 

Setting novel berlatar belakang pesantren yang dibawa dalam Hati Suhita ini jarang dibawa oleh penulis popular. Seingat saya,  novel yang cukup 'meledak' bertema pesantren yang pernah saya baca adalah Perempuan Berkalung Sorban Karya Abidah El-Khalieqy. Itupun sudah lama sekali, pertama membacanya sekitar tahun 2002/3. Setelahnya, ruang sastra kita dipenuhi sindrom Ayat-Ayat Cinta-nya Kang Abik. Banyak sekali ditemui judul-judul novel yang mirip, pun dengan nama penulisnya yang hampir pasti ada al al-nya. 

Jarak yang jauh dan ruang yang kosong itulah, Hati Suhita dilahirkan oleh pelaku pesantren dan bercerita tentang pesantren beserta dengan orang-orang di dalamnya. Tentu. Ini adalah penyegaran di antara serbuan novel-novel yang lahir dari 'rahim' wattpad. 

Ning Khilma Anis (tentu dengan tim promosi penerbit) dengan sangat canggih menggunakan media sosial, terutama facebook untuk menjaring pembaca (yang punya potensi mejadi pembeli) Suhita lewat cerita bersambung.  Seperti biasa, umpan cerita bersambung itu tetiba saja dihentikan pas lagi seru-serunya. Kalau kata anak jaman sekarang, ya, macam diputus pas lagi sayang-sayangnya. Bagaimana respons pembaca setia? Sudah pasti teriak-teriak di kolom komentar dan penasaran kelanjutan cerbung dengan tidak sabar menantikan cerita lengkapnya di buku terbit. Dan saya (meski terlambat) salah aatu di antara orang yang penasaran itu. Siapakah target pasar novel ini?  Jelas.Tentu saja adalah orang-orang yang sudah punya engagement yang apik dengan seluruh cerita berseri di facebook, dan terutama kebanyakan adalah mereka yang punya ikatan emosional dengan pesantren. Sulit rasanya membayangkan rasa 'deg deg ser' saat membaca Hati Suhita ini jika tak memiliki  kedekatan dengan pesantren atau minimal tahu bagaimana tradisi di dalamnya.

Ngomong-ngomong soal tradisi pesantren. Saya kira penulis buku ini cukup berhasil menggambarkan bagaimana peranan penting seorang pengasuh. Oleh karenanya, anak-anak pengasuh biasanya memang dididik secara khusus untuk meneruskan tongkat kepemimpinan. Dan tentu saja soal tradisi perjodohan di antara para anak pengasuh (kiai/nyai). Bukan lagi rahasia. Tapi tentu tulisan ini tak akan membahas tentang perjodohan lebih panjang. 

Alina yang menjadi tokoh utama di novel ini didik sedemikian ketat untuk dipersiapkan menjadi penerus. Ia menggambarkan bahwa ibu nyai dalam pesantren bukan saja sebagai konco wingking-nya kiai. Tetapi, nyai dengan posisinya yang istimewa juga memiliki peranan penting dengan kedalaman ilmu, kemampuan mengatur, dan ngemong begitu banyak orang dan sifatnya. Penggambaran tokoh perempuan yang kuat juga terlihat pada  mertua Alina yang dipanggil ummik. Ummik yang digambarkan senang untuk tabarrukan ini tidak hanya punya jaringan yang luas, tetapi juga memiliki konsistensi dalam mengaji (membaca al quran) dan kedalam ilmu.

Kita bisa menjadikan Hati Suhita sebagai 'juru bicara' pesantren yang selama ini dipandang kolot dan ndeso. Bahwa santri-santri itu tidak hanya fasih membaca kitab kuning, tapi juga terampil berbicara tentang filsafat, kajian sosial, dan melek sastra. Kita bisa menengok referensi bacaan Gus Birru (Gus yang sudah membuat mamah-mamah mudah tersenyum malu).

Ini kalau terusin bisa panjang banget. Udahan ya. Hahahah.

Sedikit saran bagi editor jika terbit ulang untuk lebih teliti lagi. Ada beberapa kesalahan yang kelihatan sepele masih terjadi. Seperti soal di itu disambung atau tidak. Dan peletakan tanda baca yang agak serampangan. Tapi, tentu saya tak perlu menunjukkan halamannya. Biar dicari sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis disini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Pemesanan Suvenir

Pemesanan Suvenir

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *