Review Buku Lelaki Harimau, Eka Kurniawan

Judul Buku: Lelaki Harimau
Pengarang: Eka Kurniawan
Penerbit dan Tahun Terbit: Gramedia, 2015
Jumlah Halaman: 191
Genre: Fiksi
Peresensi: Iffah Hannah

Di halaman pertama, berlatar di sebuah desa tak bernama, pembunuhan brutal terjadi; seorang pemuda bernama Margio menghabisi tetangganya, seorang lelaki paruh baya bernama Anwar Sadat, dengan cara menggigit lehernya sampai nyaris putus. Korban dikubur dan si pembunuh ditahan, namun Margio berkata bahwa bukan ia yang membunuh Anwar Sadat, melainkan harimau di tubuhnya.

Harimau itu konon warisan yang diturunkan dari generasi ke generasi. Ada juga yang memperolehnya karena kawin dengan harimau. Namun, ketika kita membaca halaman-halaman berikutnya, 'harimau' ini semakin terasa sebagai semacam simbol belaka, simbol dari amarah pemuda Margio yang terpendam selama bertahun-tahun akibat kekerasan yang diterimanya bertubi-tubi dari ayahnya, Komar bin Syueb, kemiskinan, dan penderitaan ibunya yang tiada akhir, juga keinginannya untuk bisa membuat ibunya bahagia.

Sebagai seorang pemuda desa biasa, ia memperoleh panggung dalam kegiatan perburuan bersama Mayor Sadrah, menjadi bintang yang menggiring ajak-ajak untuk menangkap babi, dan menjadi paling populer dibanding pemuda pemburu yang lainnya. Cintanya pada gadis Maharani, tetangganya, anak ketiga dari Anwar Sadat, yang juga bersambut karena Maharani juga tergila-gila padanya tak bisa diteruskan karena peristiwa-peristiwa yang kemudian berujung pada pembunuhan itu.

Diceritakan dengan alur campuran, pembaca dibawa mengenali karakter-karakter dalam cerita dengan mendalam sekaligus detail, yang membuat kita seolah ikut mengalami kebengisan-kebengisan Komar bin Syueb yang memperkosa istrinya, menyiksa keluarganya, dan bagaimana Nuraeni istri Komar menyimpan dendam dan duka mendalam karena kejamnya kehidupan yang dia alami. Sampai akhirnya, kita tahu alasan kenapa pemuda Margio membunuh Anwar Sadat di halaman terakhir.

Lelaki Harimau ini adalah buku kedua Eka Kurniawan yang saya baca sekaligus buku pertama Eka yang saya baca sampai tuntas.

Sementara buku pertama Eka Kurniawan yang saya baca adalah Cantik Itu Luka dan baru sekitar 40% saya baca. Membaca Lelaki Harimau membuat saya sekonyong-konyong teringat pada One Hundred Years of Solitude karya Gabriel Garcia Marquez terutama di adegan Ma Rabiah memakan tanah. Cara berceritanya mengalir dan sangat deskriptif, membuat saya berniat untuk mulai membaca buku-buku Eka yang lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar