Review Buku Kambing dan Hujan, Makhfud Ikhwan

Judul: Kambing dan Hujan
Penulis: Makhfud Ikhwan 
Penerbit: Bentang Pustaka
Genre: Fiksi/novel
Tahun terbit: 2015
Peresensi: Nur Hayati Aidah

Jarak tak mululu perkara ruang, kadang ia malah berwujud kata yang tak terucap.

Begitu kira-kira kesan yang bisa ditangkap dari retaknya persabatan Moek dan Is yang, bagi saya, merupakan tokoh utama roman Kambing dan Hujan.

Moek dan Is adalah sahabat yang harus rela (atau terpaksa) berpisah karena prasangka. Soal pilihan gerakan yang dipilih, Muhammadiyah atau Nahdlatul Ilama, itu hanyalah pijakan saja. Tapi, lebih dari itu, setelah semua rangkaian peristiwa, prasangka adalah jurang paling besar yang membuat persahabatan keduanya koyak.

Is atau Iskandar, yang memilih Persyarikayan Muhammadiyah menjadi gerakannya, mengira bahwa Maoek atau Muhammad Fauzan, yang tetap berpegang pada tradisi leluhurnya dengan ber-Nu,  parah dan benci padanya. Pun sebaliknya, Moek mengira Is juga marah dan benci padanya. Kata yang bisa menjadi jembatan, bisa dengan mudah menjadi jurang yang teramat dalam. 

Soal anak-anak mereka yang jatuh cinta kemudian adalah pembuka jalan cerita tentang bagaimana terjalnya persinggunggan dua ormas tersebut. Persoalan, yang barangkali, sekarang mulai tak muncul lagi, boleh jadi dulu adalah perkara yang tak mungkin atau hampir-hampir bisa disatukan. Persoalan qunut di shalat subuh, penentuan itsbat hari raya dengan hilal atau rukyah, tarawih 20 atau 8 rakaat bukanlah perkara yang mudah diterima kedua belah pihak. Di tingkatan pimpinan perbedaan itu mungkin bisa dengan mudah diredam karena perbedaan itu hanya persoalan yang sifatnya furu'iyah. Namun, di tingkat akar rumput, perbedaan itu bisa jadi menjelma sekat dan olokan. Bahkan sampai saat ini di desa-desa dengan sangat mudah kita lihat masjid-masjid Muhammadiyah atau NU, meski tak ada penanda jelas.

Yang satu agamanya saja sulit, bagaimana yang berbeda agama? Begitu kira-kira kesulitan yang dihadapi Zia, yang dibesarkan ditradisi NU, dan Mif, yang besar di keluarga Muhammadiyah tapi fasih membaca kitab kuning. Saat ini, ritual khas ormas kian lentur, sekat-sekat pemisah antara NU dan Muhammadiyah bisa dengan mudah didiskusikan. Sekarang memang tak bisa lagi memberi ruang dan jarak yang memisahkan NU dan Muhammadiyah. Dua raksasa ormas itu harus saling berkoeksistensi membentengi negara ini dari gempuran ideologi transnasional dan kaum puritan yang kian meresahkan. 

Novel ini, bagi saya, lebih dari sekedar roman biasa. Ini adalah kisah yang mampu memotret dengan baik 'pertikaian-pertikaian' kecil yang hidup beberapa puluh tahun di masyarakat kita karena perbebedaan gerakan.

Terakhir, tentu saja seperti biasa, ada masukan untuk redaksi. Beberapa hal yang luput disunting adalah kelor yang disebut dengan buah. Kelor adalah daun, Bung dan Nona. Dan kita tak perlu memiliki kemampuan ilmu alat (gramatikal Arab) untuk bisa membaca Arab Pegon. Dan hal kecil lainnya adalah bukan sepuluh jilid al Quran, tetapi eksemplar al Quran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar