Minggu, 22 September 2019

Melihat dengan Selain Sudut Pandang Agama

Melihat ig Mbak Melani yang dipenuhi komentar agamis benar-benar bikin miris. Kalau kita mau sadar dan berfikir logis, tentu perspektif tidak hanya sebatas agama, banyak sekali perspektif yang bisa diungkapkan tanpa menyangkutpautkan dengan agama. Misal dari sisi kemanusiaan, sosial, budaya bahkan dari sudut pandang orang awam. Karena jika dibenturkan dengan aspek agama, yang terjadi hanyalah debat kusir tanpa ada perubahan ke arah perbaikan. Hanya jalan di tempat, saling adu agumen dan saling ngotot soal kengalimannya.


Hal remeh-temeh yang sebenarnya tidak perlu diperdebatkan lagi, sekarang pun jadi semakin rumit karena selalu dibenturkan dengan agama. Seolah ingin berbuat baik saja tidak cukup, karena harus ditambah jubah kealiman. Padahal berbuat baik tidak harus dengan pakaian religius atau menjadi orang yang paling berhak berbicara tentang agama. Berbuat baik bukan hanya sesama manusia yang beragama saja.  Berbuat baik adalah kepada semua ciptaaNYA tanpa memandang perbedaan.

Sepertinya setiap segala sesuatu yang dinilai dari sudut pandang agama, yang awalnya mudah, menjadi sangat sulit untuk diterima kebaikannya. Seperti misalnya seseorang yang memberi makan kepada orang yang membutuhkan. Hanya karena orang tersebut tidak menutup aurat atau memakai baju mini lantas menjadikan perbuatan baik tersebut menjadi jelek di mata orang yang mengambil sudut pandang agama saja. 

Pliss, jangan hanya dari sudut pandang agama saja!

Kalian tidak tahu, betapa orang yang membutuhkan tersebut sangat berterimakasih kepada orang yang tidak menutup aurat. Kalian tidak tahu, mungkin jika orang yang tidak menutup aurat tersebut tidak memberi makanan, satu nyawa manusia tidak terselamatkan karena kelaparan. Atau bisa jadi orang yang membutuhkan tersebut lebih memandang hormat kepada orang yang tidak menutup aurat, dibanding kepada ahli ibadah yang masih perhitungan dalam membantu sesama.

Yang kurang saat ini, banyak orang ngalim atau ahli ibadah tapi mengesampingkan kemanusiaan hanya karena perbedaan dalam beragama. Sejatinya orang beragama demi menjadikan hidup lebih baik dan lebih tenang. Bagaimana menjadi baik, jika di matanya saja semua yang berbeda adalah salah?  Bagaimana menjadi tenang, jika segala sesuatu kebaikan dipandang dari satu sudut pandang agama saja? Itulah kenapa Tuhan memberikan akal dan pikiran kepada manusia, agar manusia bisa berpikir. llmu Tuhan sangat luas, mungkin seribu tahun pun manusia tidak akan cukup untuk mempelajari ilmu dari Tuhan. Jadi jangan sampai besar kepala hanya karena merasa sudah paling ngalim, sudah paling ahli agama. Lantas bisa seenaknya sendiri menghakimi perbuatan seseorang hanya karena tidak sesuai dengan pandangan agamanya.

Pliss, mulai hari ini jangan menilai segala sesuatu dari sudut pandang agama saja!

Belajarlah seobjektif mungkin dengan mempertimbangkan kemanusiaan di atas kepentingan golongan. Belajarlah menilai dari sudut pandang yang lain. Niscaya kalian akan merasa bukan apa-apa jika tanpa ada pergerakan yang nyata untuk suatu perubahan. Kalian hanya melihat, sedangkan orang yang dipandang tidak beragama tersebut sudah melangkahkan kebaikan dengan tindakan nyata. Kalau boleh berkata, sebenarnya kalian yang merasa paling ahli ibadah justru yang paling selangkah lebih mundur ketimbang orang yang tidak menutup aurat. Seperti kata pepatah ‘’Mungkin mudah buatmu menilai kelemahan orang lain, tapi mampukah kamu melihat kekurangan yang ada di dalam dirimu?’

Parameter agama memang sangat penting, namun jangan sampai melalaikan aspek lainnya dalam bermasyarakat. Semua aspek kehidupan harus saling berkesinambungan untuk mewujudkan masyarakat yang rukun dalam beragama.

Sekian curhatan dari emak berdaster yang menyukai keberagaman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis disini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Pemesanan Suvenir

Pemesanan Suvenir

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *