Sabtu, 30 November 2019

Resensi Buku Dongeng Oriental, Tethy Ezokanzo dan Aan Wulandari


Judul Buku: Dongeng Oriental, Kisah Kebaikan Hati dari Negeri Jepang, Cina,  dan Korea
Penulis: Tethy Ezokanzo dan Aan Wulandari
Penerbit: Indria Pustaka
Tahun Terbit: 2011
Jumlah Halaman: 142 Halaman
Genre: Fiksi
Peresensi: Mustamimul Rofiqoh

Dongeng adalah cerita yang paling cocok dan menarik untuk anak-anak. Dengan dongeng, imajinasi anak akan bermain menyusuri setiap jengkal cerita dan tempat yang ada dalam cerita. Sehingga seolah-olah anak turut larut di dalamnya, dan anak merasakan petualngan seru para tokohnya.

Dongeng oriental klasik tiga negara ini sangat menarik. Yang terdiri dari negara Jepang, Cina, dan Korea. Banyak petualangan yang mendebarkan dan kisah menarik yang berisikan pesan moral untuk pembacanya. Buku ini juga dilengkapi dengan ilustrasi menarik dan beraneka warna. Hal ini akan menambah pembaca makin bersemangat untuk membaca buku tersebut. Kemudian pada akhir setiap cerita juga disertai dengan hikmah dan pesan moral untuk pembaca. Paket lengkap untuk mengajarkan kebaikan kepada anak.

Bahasa yang digunakan penulis juga sederhana dan mudah dipahami, sehingga pembaca menjadi lebih mudah untuk menangkap pesan yang terkandung di dalam buku. Hal ini akan mempermudah para orang tua untuk mengajarkan kebaikan kepada anaknya lewat sebuah dongeng.

Namun, buku dongeng ini tidak cocok untuk anak usia di bawah 9 tahun karena memuat beberapa cerita dewasa. Seperti ketertarikan dengan lawan jenis atau pernikahan dengan dengan bangsa peri atau bidadari. Selain itu ada beberapa ilustrasi yang menurut saya kurang sesuai untuk anak-anak, seperti penampakan setan atau jin, gambar bidadari saat mandi di sungai dengan pakaian yang sangat mini, atau adegan berkelahi.

Pengalaman saya membacakan buku ini untuk anak lumayan menarik. Apalagi anak mempunyai rasa ingin tahu yang begitu besar. jadi harus benar-benar menggunakan kosa kata yang sudah dia tahu, atau kalaupun ada kosa kata baru harus yang sesuai dengan usianya. Agar tidak menimbulkan kebingungan karena memang belum cukup untuk anak seusianya. Apalagi untuk gambar, emak harus benar-benar membuat anak paham betul apa maksud gambar tersebut. Atau harus menjelaskan mana gambar yang boleh ditiru atau tidak berikut alasannya.

‘’Mama, itu gambar bajunya malu.’’ Kata anak saat melihat gambar bidadari mandi di sungai.

‘’Mama, itu pengemisnya di pukul.’’ Saat anak melihat kakak tertua yang dipukul adiknya yang kaya.

‘’Mama, itu kenapa hidungnya diikat di awan?’’ saat anak melihat pemuda yang hidungnya memanjang ke awan karena mempunyai kipas ajaib. Sebagian contoh pertanyaan anak saat dibacakan buku tersebut.

Jadi saat membacakan dongeng ini ke anak, dipastikan dulu orang tua sudah membacanya terlebih dahulu. Sehingga apabila ada bagian cerita yang memang tidak pantas untuk usianya, orang tua sudah menghilangkan atau menggantinya dengan cerita lain, namun masih berhubungan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis disini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *