Selasa, 19 November 2019

Resensi Buku Rahasia Salinem, Briliant Yotenega & Wisnu Suryaning Adji

Judul: Rahasia Salinem
Penulis: Briliant Yotenega & Wisnu Suryaning Adji
Penerbit: Nulisbuku.com
Tahun terbit: 2018
Jumlah halaman: 309
Genre: Novel, Fiksi
Peresensi: Ihdina

Mengingat satu makanan ini sama dengan mengingat satu momen terindah dalam masa kecil. Terutama saat sarapan. Entah kenapa bagiku sarapan seringkali identik dengan satu menu lezat khas nusantara ini. Pecel. Siraman bumbu kacang yang begitu sedap pada berbagai jenis sayuran yang telah direbus ini membangkitkan selera makan di pagi buta. Di manapun kaki berkunjung, melangkah di seantero kota di pulau Jawa. Dapat dipastikan menu ini selalu ada. Entah dalam berbagai variasi bentuk yang berbeda-beda.

Pertama kali mengenal buku Rahasia Salinem ini buatku sudah cukup lama, sejak beberapa bulan lalu. Namun hanya terhenti pada judul yang menggelitik dan cover yang semi abstrak dedaunan di rak-rak toko buku yang sering kukunjungi. Hingga akhirnya aku hadir langsung pada acara bedah buku tersebut, bulan lalu. Mendengarkan langsung kisah di balik lahirnya buku istimewa tersebut. Seketika menyihirku untuk kagum padanya.

Ketika Fakta Difiksikan

Perjalanan kelahiran sebuah karya memang sangatlah beragam. Beberapa di antara cerita fiksi memang lahir murni dari khayalan dan imajinasi penulisnya. Namun tak sedikit pula yang memiliki latar belakang sebuah kejadian nyata, sungguh terjadi adanya. Rahasia Salinem merupakan contoh dari proses perjalanan yang kedua. Kisah perjalanan seorang manusia yang bijak dan memiliki sejarah hidup berliku di dalam buku ini disarikan dari kisah nyata seorang Salinem. Dialah Salinem, tokoh utama dalam cerita ini. Atau yang biasa dipanggil Mbah Nem.

Tidak hanya berhenti pada tokoh, penokohan dan setting saja. Cerita ini menyadur dari cerita nyata hingga pada konfliknya. Meski tidak disebutkan secara rinci manakah yang fiksi dan manakah yang asli. Ini memang hak perogatif Mas Briliant Yotenega dan Mas Wisnu Suryaning Adji sebagai peramu Rahasia Salinem ini. Buku ini diracik beliau berdua dengan sungguh apik. Mas Ega memberikan sumbangsih bahan cerita dari kisah nyata yang berasal dari keluarganya sendiri. Dan Mas Wisnu meramu dengan bumbu diksi fiksi penuh imajinasi yang sangat menyihir.

Sebagai sebuah karya fiksi berlatar fakta, Rahasia Salinem memiliki kekuatan cerita yang amat magis. Berbagai aspek diserapnya sebagai pengayaan bahan materi. Mulai dari unsur sejarah yang kuat melekat menghidupkan karakter Mbah Nem dari waktu ke waktu. Ditambah kebudayaan Jawa sekaligus pesan yang berulangkali disisipkan sebagai amanat cerita. Bahkan rahasia istimewa sebuah resep legendaris dari seonggok bumbu pecel pun amat mampu dicoba oleh para pembaca sebagai masyarakat masa kini.

Amanat untuk Kehidupan

Setiap tingkah laku, perbuatan, ucapan bahkan pegangan hidup yang dimiliki Mbah Nem layaknya pelajaran penting bagi manusia. Sejak kecil sekali harus menanggung beban hidup sebatang kara, siap berpindah dari tangan ke tangan di setiap harinya. Bagaimana ia di masa muda menjalani hidup sebagai abdi dalem yang begitu patuh dan bertanggungjawab pada majkannya. Lalu melalui masa senja dengan begitu gigih, tak kenal rasa lelah, senantiasa bergerak hingga tertutupnya usia.

Cerita ini dituliskan dalam dua sudut pandang. Satu dari tokoh utama, Mbah Nem sendiri. Dan kedua dari Tyo, sang cucu. Hal ini merupakan sebuah teknik cerita yang cukup unik sehingga membuat pembaca berpikir cermat dan teliti saat membacanya. Apalagi di antara keduanya tidak diberi perbedaan secara mencolok dari segi penulisan di tiap babnya. Sebagai konsekuensinya, alur yang dibuat pun terasa campur, meski sebenarnya tetaplah sama, maju. Sebuah cerita ketika dilahirkan, memang sebisa mungkin memberi bekas yang baik kepada pembaca secara umum dan kepada penulis sendiri secara khusus.

Hidup berjalan seperti biasa, macam rel besi yang itu-itu saja meluncur dari stasiun. Namun dalam kereta yang berjalan di atasnya selalu ada kejadian.

Banyak sekali pesan yang dititipkan Mbah Nem kepada kita melalui Tyo dan seluruh keluarga besarnya untuk kita resapi dan amalkan. Pesan untuk senantiasa setia dan patuh pada hal yang sudah ia baktikan dirinya. Pesan untuk tegar dan pantang menyerah dalam mengarungi kerasnya kehidupan. Pesan untuk tetap bersikap arif dalam segala situasi, susah dan senang dirasakan secukupnya. Dan teramat penting, pesan sebagai manusia hidup di muka bumi, tiada lain untuk bersama memenuhi kebutuhan dan bertumbuh dengan lingkungan sekitarnya, hingga akhirnya jangan lupa bahwa semua akan kembali pulang jiwa waktunya tiba.

Pesan-pesan tersebut begitu dalam dan menyentuh. Disampaikan dengan bahasa yang sederhana namun sangat mengena pada kehidupan nyata oleh penulis. Sehingga kehadiran Mbah Nem terasa semakin nyata adanya. Seakan benar-benar ada menjadi Mbah kita bersama. Layaknya sifat dan sikap seorang nenek, yang begitu arif memaknai hidup, memaksimalkan cinta dan kasih sayang untuk anak cucu. Dan merasa begitu dekat dengan Tuhan.

Proses Kreatif itu Proses Aktif

Dalam menuliskan Rahasia Salinem ini, Mas Wis menuturkan hanya membutuhkan waktu sekitar satu bulan. Dan semuanya ditulis hanya dengan menggunakan ponsel. Jadi, jika ditanya bagaimana proses kreatifnya? Mungkin saya bisa membantu menafsirkan, beliau menulis tidak dengan mencari sebuah kreatifitas tertentu. Tetapi beliau aktif menjemput ide dan imajinasi dari bahan yang telah disiapkan oleh Mas Ega, rekannya. Oleh karena itu beliau juga tidak memiliki istilah writers block. Karena itu hanyalah alibi bagi mereka yang memulai menulis dan mengalami kebuntuan alias males.

Jadi, jika bahan telah tersedia dengan begitu lengkapnya, maka jangan mencari alasan untuk menghindari dalam memulai. Karena hal paling berat dalam segala sesuatu adalah memulainya. Salah satunya juga dalam memulai menulis. Mari kita mulai sekarang. Apapun yang dirasa berat, nanti juga akan menjadi ringan jika kita telah memulainya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis disini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Pemesanan Suvenir

Pemesanan Suvenir

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *