Minggu, 16 Februari 2020

Resensi Buku Hilda, Muyassarotul Hafidzoh


Judul: HILDA; Cinta, Luka, dan Perjuangan
Penulis: Muyassarotul Hafidzoh
Penerbit dan Tahun Terbit: Cipta Bersama, 2020
Jumlah Halaman: 508
Genre: Fiksi
Peresensi: Dwi Khoirotun Nisa'

Jika Ingin Berpaham Gender Secara Adil, Bacalah HILDA!

HILDA adalah novel yang berangkat dari cerita bersambung (cerbung) yang pada awalnya diposting secara berkala oleh penulisnya, Muyassarah Hafidzah, dalam website Fatayat NU DIY (www.fatayatdiy.com) yang kebetulan penulis juga merupakan salah satu pengelolanya. Hilda--tokoh utama, yang merupakan korban kekerasan seksual, tak pernah lelah dalam memperjuangkan keadilan bagi dirinya. Beruntung ia selalu di-backup oleh ibunya, dan juga bertemu dengan orang-orang 'baik' yang semuanya tak pernah lelah dalam memotivasi Hilda untuk tetap bangkit dan optimis menatap masa depannya yang masih panjang. 

Penulis begitu apik menggiring pembaca agar tidak memandang masalah kekerasan seksual sebagai sebuah kejadian tidak bermoral saja, lebih-lebih hanya menghakimi perempuan—yang notabene adalah korban, sebagai perempuan 'bejat'. Akan tetapi, penulis lebih mengajak pembaca untuk dapat berlaku adil—dalam fikiran dan tindakan, dalam memandang sebuah fenomena kekerasan seksual. 

Melalui novel Hilda ini, penulis juga seolah-olah menawarkan sebuah alternatif solusi sekaligus terapi tentang bagaimana cara 'merawat' seorang perempuan sebagai korban kekerasan seksual, agar tidak semakin terpuruk meratapi nasib, namun bagaimana agar ia bisa bangkit kembali dan tetap optimis dalam menatap masa depan. 

Membaca Hilda, pembaca juga akan diajak mengkaji dan mengaji gender dari tiga aspek sekaligus; tafsir, hadits, dan realitas sosial. Hal ini bisa didapatkan pembaca dari dalil-dalil sekaligus argumen-argumen yang begitu lengkap dilontarkan penulis saat Hilda mendebat peserta dalam acara Dialog Keagamaan di pesantren. (Halaman 20-30)

Selain tema yang diangkat yang memberikan kesan berat, detailnya dalil-dalil yang dipaparkan oleh penulis di dalam novel, juga seolah membenarkan asumsi pembaca bahwa novel Hilda memang berat. Tapi, meskipun berat, ketika membaca akan terasa sangat ringan. Disitulah kepiawaian penulis dalam meramu novelnya. Kematangan kajian gender penulis terasa sangat mendalam dalam novel ini. Hal itu tentu sesuai dengan background penulis yang merupakan aktifis Fatayat NU, aktifis RAHIMA, sekaligus santri pesantren—yang tentu sudah tidak diragukan lagi kemampuannya dalam membaca dan mengkaji kitab kuning. Maka tak heran jika dalam novel Hilda, selain ayat Alquran dan Hadis, juga bertebaran nukilan-nukilan dari maqalah, Alfiyyah Ibn Malik, dan juga Burdah. 

------

"La takmulu al-mahabbata bainatsnaini hatta yaqula kullun lil akhor: Anta....Ana! Ingat Hilda, kamu yang mengajariku tentang kesempurnaan cinta. Saat itu kamu jelaskan bahwa cinta dua orang tak bisa sempurna sampai masing-masing mengatakan kepada yang lain," "Kau adalah aku!" Andin dan hilda mengatakan kalimat itu secara bersamaan. (Halaman: 388)

------

..... "Sepertinya aku akan membacakan syiir kedua dalam Alfiyyah, ini bait ke 537, terkadang pasangan yang cocok itu berawal dari orang yang tidak pernah kenal sama sekali. 

فقد يكونان مذكرين # كما يكونان معرفتين
_Athaf bayan juga bisa terbentuk dari dua isim yang sama-sama nakirah_"..... (Halaman 407)

------

Wafa kembali membaca pesan balasan Hilda dan kembali mengirim pesan,
أيحسب الصب أن الحب منكتم # ما بين منسجم منه ومضطرم 
_Apakah diri yang dirundung nestapa karena cinta mengira bahwa api cinta dapat disembunyikan darinya. Di antara tetesan air mata dan hati yang terbakar membara_ ..... (Halaman 417)

-------

Ada satu hal yang masih mengganjal di benak saya selaku pembaca Hilda, yaitu saat Hilda dipanggil-panggil oleh seorang lelaki gila, saat Hilda akan memasuki sebuah kafe di Yogyakarta bersama Wafa. (Halaman 459-461) Sempat dalam hati berfikir, apakah itu memang pelaku pemerkosaan yang sudah mendapatkan karma atas perilakunya? Ataukah hanya memang orang gila yang lewat saja? Nah, itu yang belum saya temukan jawabannya sampai sekarang. Bahkan sampai akhir halaman novel. Ataukah memang penulis akan menjelaskannya di novel kelanjutan Hilda? Hehe. Allahu a'lam. Biarkan penulisnya saja yang akan menjawab—jika beliau berkenan. Jadi,  hal itu yang akhirnya membuat saya merasa bahwa proses pengusutan perkara secara hukum di dalam Hilda belum selesai. 

Akan tetapi secara umum, saya merasa sangat bersyukur sekali akan hadirnya novel Hilda. Karena dapat merubah sudut pandang kita dalam memandang kasus kekerasan seksual. 

Jember, 06 Februari 2020

Tulisan ini telah tayang di nuonline.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis disini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Pemesanan Suvenir

Pemesanan Suvenir

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *