Sabtu, 04 April 2020

Resensi Buku Setan Van Oyot, Djokolelono


Judul: Setan Van Oyot
Penulis: Djokolelono
Penerbit dan tahun terbit: Marjin Kiri, 2019
Jumlah halaman: 293 halaman
Genre: fiksi
Peresensi: Iffah Hannah

"De grootste prestatie is onbaatzuchtigheid (prestasi terbesar adalah tidak egoistik).

De grootste kwaliteit is verzoeken om anderen te dienen (mutu terbesar seseorang adalah keinginannya untuk melayani orang lain)."
(Setan Van Oyot, Djokolelono, hal. 243)

Sepanjang pembacaan saya sejauh ini, jarang sekali ada novel yang menceritakan banyak karakter dengan begitu memukau. Bahkan rasa-rasanya saya sendiri tidak yakin ada cerita dengan banyak karakter yang semua karakternya dinarasikan dengan begitu khas dan kuat. Ketika awal membaca Setan Van Oyot karangan Djokolelono ini, saya nyaris yakin bahwa ceritanya akan berpusat di tokoh Tinah, anak Pak Kromo penjaga Kamar Bola, yang sangat cantik dan digandrungi banyak orang, termasuk Ndoro Sinder. Tapi, ternyata, cerita novel ini lebih kompleks dari itu dan sama sekali tidak berpusat di cerita soal Tinah. Ada begitu banyak tokoh yang semuanya diceritakan dengan sangat mendetail seolah semuanya juga tokoh utama dalam novel ini.

Berlatar di sekitar tahun 1930-an di Jawa menjelang pesta ulang tahun Ratu Belanda yang rencananya akan dirayakan besar-besaran di Wlingi, Ndoro Sinder yang serakah dan korup berupaya mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari dana sumbangan yang terkumpul untuk acara tersebut dengan membuat rekening khusus yang diatasnamakan istrinya, Ndoro Sri si penjudi. Untuk acara itu pula, Ndoro Sinder berusaha menebang pohon beringin bernama Kiyai Oyot yang dipercaya bertuah dan bersama tokoh Belanda yang menjadi pemimpin di daerah tersebut menghabiskan dana yang tidak sedikit demi merobohkan pohon beringin tersebut.

Pada kurun waktu yang sama, seorang pemuda Belanda bernama Thijs nekat datang ke Jawa untuk mencari ayahnya dan menemukan ayahnya tinggal bersama perempuan pribumi bernama Zus Kesi. Marah dengan hal itu, Thijs kabur dan terdampar di perkebunan Babah Endut dan merebut hati Non Tatit Ing Nio, anak perempuan Babah Endut yang mengelola perkebunan. Takut impiannya menjadi mevrouw Van Dijk gagal membuat Kesi mengintervensi upaya Van Dijk yang berusaha mencari Thijs, anaknya. Selain itu, seorang detektif partikelir yang mencari para buruh pendemo pabrik yang kabur ke Wlingi beserta beberapa tokoh di atas semuanya terlibat dalam berbagai peristiwa yang berujung tragedi. 

"Sesungguhnya ia marah. Tetapi harus bagaimana? Hanya pekerjaan ini yang ada bagi orang seperti dia. Seperti teman-temannya. Kerja keras bagai kuda. Dipalu dan didera.
Sampai ia tak tahan.
Sampai teman-temannya tak tahan.
Mereka menuntut upah dinaikkan.
Jelas ditolak. Diejek. Dihajar."
(Setan Van Oyot, Djokolelono, hal. 73)

Di tengah pandemi COVID 19 yang mengharuskan kita diam di rumah, membaca novel ini memberikan penghiburan karena cara penulis menarasikannya tidak saja mengalir begitu natural tetapi ceritanya juga begitu menarik. Terlepas dari tragedi-tragedi yang menjadi ujung segala cerita, novel ini betul-betul sangat menghibur!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis disini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Pemesanan Suvenir

Pemesanan Suvenir

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *