Sabtu, 16 Mei 2020

Membaca NU dari Orang Dalam


Koleksi ini pasti belum representatif. Masih banyak buku yang ditulis nahdliyin membicarakan tentang organisasinya sendiri. Ada banyak buku juga yang membicarakan NU ditulis sarjana Barat. Di antara deretan buku-buku ini, hanya buku Wahid Hasyim yang ditulis oleh non nahdliyin, ditulis Tempo dan diterbitkan KPG. 

Saya ingat, pertama kali saya membaca buku Mbah Wahab Hasbullah karangan Kiai Saifuddin Zuhri ketika kelas 3 SMA. Saya bolak-balik, baca berulang, makin lama saya makin banyak pertanyaan. Masa itu bertepatan dengan mulai diselenggarakannya haul Mbah Wahab yang besar-besaran. Biasanya cuma buka terop di halaman ndalem kasepuhan. 

Tulisan Kiai Saifuddin barangkali memang tidak dimaksudkan kronologis. Untuk anak SMA yang biasa belajar sejarah melalui fragmen, saya bingung sekali. Mulai timbul pertanyaan naif, demikian besar usaha Mbah Wahab menyicil organisasi-organisasi menjadi NU, tapi kenapa posisi Mbah Wahab pertama di NU tidak terlalu strategis? Lebih jauh lagi saya ndlodok, kenapa Mbah Hasyim yang jadi Rois Akbar? Maklum pertanyaan anak SMA. Juga anggap saja pertanyaan ini sangat bias Tambakberas. Hehe

Ketika saya kuliah, suatu hari rombongan KMNU UGM menyelenggarakan ziarah dan sowan ke Gus Mus. Lama saya menunggu kawan-kawan selesai Salim dan foto. Di kesempatan yang sempit itu, saya memberanikan diri mengajukan pertanyaan naif yang saya simpan bertahun-tahun,  mengapa Mbah Hasyim yang jadi rois akibar? Beliau menjawab, "karena Mbah Wahab tawadlu' terhadap gurunya."

Mendapat jawaban itu tentu saya malu. Mbah Wabah saja tawadlu, ngapain saya ngotot?  Ckckck. 

Perlahan saya mulai memahami sejarah NU lebih komprehensif. Ternyata tidak hanya kronologi yang penting, tapi bahwa dalam pendirian NU, semua tokoh memegang peranan penting. Mbah Wahab memang inisiator, tapi beliau tidak sendirian dalam menjalankan Taswirul Afkar dan Nahlatul Wathon. Ada Kiai Ridwan Abdullah, Kiai Faqih Maskumabang, Kiai Raden Mas Alwi, dan sebagainya. 

Makin lama saya juga akhirnya tahu kebesaran pribadi Hasratussyekh Hasyim Asy'ari. Seperti yang diceritakan Gus Baha menukil dari buku Ahmad Sahab, Kiai Hasyim ini pernah mengangkat janji bersama kawan-kawannya lintas bangsa di hadapan ka'bah, kelak mereka akan memperjuangkan kemerdekaan dengan jalan menebar ilmu agama. 

Apa hubungannya menebar ilmu dengan kemederkaan? Di situ lah menariknya Tebuireng. Pada 1942, Jepang mencatat alumni Tebuireng sebanyak 25.000. Itu statistik yang menunjukkan pengaruh Kiai Hasyim selama Tebuireng berdiri sejak 1899. 27 tahun sebelum NU berdiri. Di 27 tahun pertama saja, Mbah Hasyim sudah panen kader sekaliber Mbah Wahab, Mbah Bisri Syansuri, dan lainnya. 

Dalam buku Pertumbuhan dan Perkembangan NU karya Choirul Anam, Mbah Wahab sempat nyaris putus asa karena restu pendirian jam'iyah tidak kunjung turun. Beliau bertahun-tahun berdebat dengan golongan kanan yang suka bid'ah-bid'ahkan. Sampai akhirnya, perubahan geopolitik di Semananjung Arab terjadi disebabkan Perang Dunia II. Klan Saud menguasai Hijaz dengan gaya keagamaan yang ortodoks, sementara kiai-kiai pesantren di Jawa tak bisa melakukan apa-apa. Mereka tersisih dari kelompok kanan yang sudah dulu terorganisir. Kiai pesantren berbicara selantang apapun pada dunia dianggap tak mewakili siapa-siapa. Takdir mengantarkan pada peristiwa 31 Januari 1926.

Bayangkan Mbah Hasyim, Mbah Wahab, Mbah Bisri yang pernah ziarah ke makam Khodijah di Ma'la di bawah naungan kubah putih mendengar kalau kubah itu diratakan dengan tanah. Sama nasibnya dengan bangunan di pemakaman baqi'.  Wajar beliau-beliau gelisah. Bertahun-tahun beliau-beliau tinggal di Mekkah, menikmati lezatnya ilmu sambil menapaki jejak sejarah Islam, tiba-tiba monumen itu dirobohkan. Sungguh sebuah pukulan.

Tapi di antara sekian buku ini, favorit saya adalah Guruku orang-orang Pesantren. Wah Indah pokoknya. Seperti membaca novel. Tapi lebih tepat seperti catatan antropologis. Kiai Saifuddin Zuhri jitu sekali menuliskan fragmen sejarah tanpa kehilangan rasa dan suasana. Begitu kaya. 

Tapi jika Anda tak mau jadi nahliyin yang naof seperti saya dulu, memahami sejarah NU dengan konteksnya yang lengkap, Anda harus baca Perjuangan Besar Nahdlatul Ulama karya Kiai Yahya Cholil Tsaquf. Tidak perlu kebanyakan footnote, esensi buku ini sungguh runtut mengulur dan menarik sejarah pendirian NU kaitannya dengan sejarah Islam masa khilafah, sampai Saud, sampai konteks Nusantara. Kita bakal dibuat manggut-manggut ternyata fakta pendirian NU itu tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan efek domino dari peta geopolitik global. Sama seperti yang mengantarkan Indonesia menuju pintu kemerdekaan. Sebab Jepang kalah di Pasifik sana. 

Catatan ini jauh dari layak membicarakan buku-buku penting ini. Tapi saya berterima kasih pada nahdliyin yang menulis NU dari dalam. Berkat njenengan semua, saya memahami asal usul dan masa kini saya. 

Ngomong-ngomong, selamat hari buku!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *