Minggu, 31 Mei 2020

Resensi Buku #HidupKadangBegitu, Nadirsyah Hosen dan Maman Suherman

Judul Buku: #HidupKadangBegitu
Penulis: Nadirsyah Hosen dan Maman Suherman
Penerbit: Noura Books
Tahun terbit: 2020
Genre: Nonfiksi, Islamic Literature
Jumlah halaman: 238
Peresensi: Fatmah Koko

Buku ini merupakan hasil kolaborasi antara Gus Nadir dan Kang Maman yang memang dikenal sebagai sahabat karib. Bahkan, mereka berdua sering sekali saling melempar guyonan di twitternya. Buku ini berisi tentang berbagai catatan kisah dan hikmah yang terbagi menjadi tiga bagian, yakni ngobrol ringan tentang agama, tentang ilmu dan tentang kehidupan. 

Meskipun beliau menggunakan istilah ngobrol ringan, namun kisah-kisah yang ada di dalamnya sangat sarat makna. Kisah-kisahnya juga sangat relevan dengan berbagai permasalahan yang ada saat ini. Seperti contoh dalam obrolannya tentang agama, kisah Kang Maman yang pertama mengajak kita untuk jangan berhenti belajar, karena semakin banyak pengetahuanmu, semakin kau merasa kecil. Oleh karenanya, perintah Alloh yang paling pertama adalah “iqra!”. Di samping itu, kita juga diingatkan untuk “(Teruslah) berprasangka baik, jangan mudah mengadili orang lain”. Di kisah yang lain, Gus Nadir mengangkat judul “Mengapa saat telinga tertutup, suaramu mengeras?”. Kisah ini menyoroti fenomena akhir-akhir ini yang banyak bermunculan ustadz-ustadz yang dakwahnya seringkali bersuara keras seperti orang yang tengah marah-marah. Di bagian akhir bab ini Kang Maman juga membahas tentang esensi hijrah yang sebenarnya, yang ukurannya adalah akhlak mulia, kerendahan hati dan bisa menjadi rahmat bagi alam semesta.

Dalam obrolannya tentang ilmu, banyak sekali insight yang saya dapatkan, baik terkait dengan pendidikan maupun tentang literasi. Ada salah satu quote dari Kang Maman terkait dunia literasi yang membuat saya terkesan

“Dunia literasi adalah kerelaan untuk membuka hati, mengosongkan prasangka, meluaskan pengertian, dan hal itu akan membuka ruang yang mahaluas untuk berdialog dan berbagi rasa”. 

Dalam salah satu kisahnya, Gus Nadir juga membagikan tips bagaimana menulis dan membaca yang efektif.

Di bagian akhir dalam obrolan tentang kehidupan, Kang Maman melampirkan beberapa puisinya yang berhubungan dengan kemanusiaan, yang merupakan ungkapan pendapat dan sikapnya atas kondisi Palestina dan luka kemanusiaan di Wamena.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *