Minggu, 31 Mei 2020

Resensi Buku Rumah Kertas, Carlos Maria Dominiguez



Judul Buku: Rumah Kertas
Pengarang: Carlos Maria Dominiguez
Penerbit: Marjin Kiri
Tahun Terbit: 2018 (cetakan ke-4)
Jumlah Halaman: 76
Genre: Fiksi
Nama Peresensi: Uswah

Sebuah misteri diawali dari kisah seorang profesor perempuan bidang sastra di Universitas Cambridge, Inggris, Bluma Lennon meninggal tertabrak mobil saat menyusuri puisi kedua buku Poems karya Emily Dickinson. Kematian Bluma meninggalkan polemik di tengah akademisi. Setiap orang mempunyai representasi berbeda tentang kematian Bluma. Apakah Bluma mati gara-gara sastra sebagaimana pidato perpisahan Profesor Robert Laurel saat pemakaman Bluma, ataukah Bluma mati gara-gara mobil?

Beberapa waktu setelah kematian Bluma, koleganya yang merupakan narator dalam novel ini menerima sebuah paket berisi buku terjemahan berbahasa Spanyol The Shadow Line karya Joseph Conrad, dikirim dengan cap pos Uruguay. Tapi yang mengherankan adalah sampul depan dan belakang buku itu ada kotoran berkerak. Pinggiran-pinggiran halamannya dilapisi partikel-partikel semen. Satu-satunya petunjuk yang ada terdapat di halaman persembahan di mana tertera tulisan Bluma

"Buat Carlos, novel ini telah menemaniku dari bandara ke bandara, demi mengenang hari-hari sinting di Monterrey itu. Sori kalau aku bertingkah sedikit mirip penyihir buatmu dan seperti sudah kubilang sedari awal: kau takkan pernah melakukan apapun yang bisa mengejutkanku. 8 Juli 1996."

Terdorong rasa penasaran siapa Carlos dan apa motif pengiriman buku tersebut ke Bluma maka narator berusaha mencari identitas si pengirim hingga akhirnya ditemukan sebuah nama bernama Carlos Brauer, seorang bibliofili yang menjadi salah satu audien di kongres penulis yang pernah dihadiri Bluma di Montterrey, Mexico. 

Narator menempuh perjalanan panjang lintas benua demi bisa menemui Carlos Brauer. Pencariannya ini mengantarnya bertemu dengan Delgado, seorang bibliofili yang sangat mengenal Brauer dan kegilaannya pada buku. 

Ruang kerja Delgado tidak seperti ruang kerja pada umumnya. Rak-rak besar berlapis kaca di sekujur dinding, dari lantai sampai ke langit-langit dipenuhi buku-buku. Buku-buku Delgado berada di kamar mandi, kamar pembantu, dapur, dan kamar-kamar belakang dijejali koleksi buku. Delapan belas ribu kiranya jumlah buku koleksi Delgado.

“Membangun perpustakaan adalah mencipta kehidupan. Perpustakaan tak pernah menjadi kumpulan acak dari buku-buku belaka.” (Hal. 26)

Namun kebiasaan Delgado masih dalam taraf wajar menurutnya, ada sosok Brauer yang lebih gila dalam hal buku. Delgado mengisahkan Brauer memiliki dua puluh ribu buku yang tersimpan dalam rak-rak buku besar dari lantai sampai ke plafon. Selain dalam lemari, buku-bukunya juga bertumpukan di dapur, kamar mandi, kamar tidur, di anak tangga menuju loteng, hingga kamar mandinya. Brauer rela memberikan mobilnya ke temannya agar bisa mengisi garasinya dengan buku. Brauer juga memiliki cara  yang unik untuk menata bukunya. Ia menyusun buku-bukunya di atas ranjangnya hingga menyerupai siluet tubuh manusia. Selain itu Baurer juga memperlakukan buku-bukunya seperti layaknya manusia yang memiliki perasaan. Kalau kita sekadar mengklasifikasikan buku dan mengkodifikasikan letak penempatan buku berdasarkan genre buku, tidak dengan Brauer yang menempatkan buku-bukunya berdasarkan sistem kekerabatan atau bagaimana penulis buku memiliki relasi dengan penulis lainnya. 

Brauer tidak menaruh buku Borges bersebelahan dengan Garcia Lorca, yang oleh penulis Argentina itu pernah diejek sebagai ‘Andalusia Profesional’. Brauer juga merasa tidak mungkin meletakkan Shakespeare bersebelahan dengan Marlowe, mengingat tudingan penjiplakan yang pedas antar kedua penulis itu. Tentunya Brauer tidak menjajarkan buku Martin Amis dengan Julian Barnes setelah kedua teman ini bermusuhan, sama halnya Barhas Llosa bersebelahan dengan Garcia Marquez. Gila, Bukan? 

Ada hal unik dari novel ini tentang polemik buku dicoreti atau buku bersih, sebagaimana polemik bubur diaduk dan bubur tidak diaduk. Akan saya selipkan di resensi ini.

Delgado adalah aliran buku bersih tanpa coretan, ia lebih menyukai membuat catatan di tempat lain dan menyisipkan halaman yang dirujuk sembari menghabiskan satu buku. Untuk membaca satu buku, Delgado membutuhkan dua puluh buku lain untuk bisa menafsirkan satu buku secara utuh. 

Sedangkan Brauer adalah aliran buku penuh coretan tangannya, mereka berdua kerap berselisih tentang hal ini namun tak satu pun dari mereka tersinggung gara-gara ini. 

“Aku senggamai tiap-tiap buku, dan kalau belum ada bekasnya, berarti belum orgasme.” (Hal. 32)

Kalau kalian tim buku yang diapakan? Apakah tim buku yang penting beli dulu, dibaca entah kapan, plastiknya saja belum dibuka. 

Brauer memiliki kebiasaan membaca para penulis Perancis abad kesembilan belas dengan diterangi cahaya lilin di kandil perak disertai iringan musik klasik. Kebiasaan membaca dengan cahaya lilin inilah yang membawanya pada peristiwa memilukan dan merubah hidupnya. Karena terlalu banyak minum anggur, Brauer lupa meninggalkan kandil lilin di atas lemari indeksnya, lilinnya jatuh dan membakar habis lemari indeks buku beserta isinya. Brauer begitu frustasi hingga semalaman air matanya menggenang di antara buku-buku yang sudah hangus. Kehilangan indeksnya dalam kebakaran telah memupus semua ilusi untuk bisa menata perpustakaannya. 

Sejak peristiwa itu, Brauer menjual rumahnya dan pergi ke Rocha La Paloma, Uruguay bersama sisa buku-bukunya. Di sana Brauer menyuruh para kuli untuk membangun sebuah pondokan menggunakan buku-bukunya sebagai ganti batu bata. Tidak penting lagi baginya pertemanan atau percekcokan antar penulis, kekerabatan atau kontradiksi antara penulis, yang ia pedulikan cuma ukurannya, ketebalannya, seberapa tahan sampulnya terkena kapur, semen, dan pasir? 

Bagian ini benar-benar memilukan :(

Suatu hari Brauer bercerita pada Delgado bahwa kongres penulis di Monterrey mengantarkannya bertemu sosok Bluma, seorang profesor dari Inggris, sangat cantik, dan itu bagian terbaiknya. Tipe akademisi yang penuh semangat dan puas diri, yang sedikit-sedikit suka menyitir kutipan-kutipan sastra, dan kalau mati memilih ditabrak mobil saat sedang membaca Emily Dickinson.

Beberapa bulan sebelum kematian Bluma, Brauer mulai mengetoki tembok-tembok pondoknya, seorang anak bertanya pada Brauer apa yang ia cari, “mencari sebuah buku,” jawab Brauer. Dan belakangan diketahui bahwa buku tersebut dikirim oleh Brauer atas permintaan Bluma. Sayangnya, pencarian buku tersebut menghancurkan rumah kertas Brauer. Ia pergi di bawah terik matahari meninggalkan rumah kertasnya dan tak pernah kembali. 

Case closed. Misteri terpecahkan, Bluma menulis takdirnya sendiri dengan mati sebagai bibliofili. “Buku itu berbahaya,” nasihat nenek narator. Tapi memang, terlalu banyak cinta akan membunuhmu. 

Meskipun hanya 76 halaman namun kecakapan literasi penulis membuat novel ini menjadi mahakarya yang indah. Saya sangat suka!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis disini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *