Minggu, 31 Mei 2020

Resensi Buku Senyum Karyamin, Ahmad Tohari


Judul Buku: Senyum Karyamin
Penulis: Ahmad Tohari
Penerbit: Gramedia pustaka
Tahun terbit: 2019 (cetakan ke-19)
Genre: Fiksi
Jumlah halaman: 71
Peresensi: Dian Nurhidayah

Buku ini adalah hadiah manis dari CEO perempuan membaca, Ning Ifah. Maturnuwun Bu CEO sudah ‘mencubit’ untuk mengembalikan mood baca dan meresensi buku. Hehee

Buku ini juga sudah pernah diresensi sebelumnya oleh Mbak Iyom, salah satu anggota perempuan membaca. Mungkin resensi saya ini juga tidak akan jauh-jauh dari resensi tersebut. Nyatanya, setelah membaca 3 buku dan tidak selesai, buku tipis tapi penuh makna ini menggelitik saya untuk segera rampung membaca dan mengulasnya kembali.

Siapa yang tak kenal Ahmad Tohari? Sastrawan dari Banyumas yang sudah melahirkan karya-karya hebat. Salah satunya Ronggeng Dukuh Paruh yang sudah mendunia dan difilmkan dengan apik. Bahkan pada tahun 1990, Ahmad Tohari mendapat penghargaan internasional di Amerika.

Senyum Karyamin adalah salah satu judul dari 13 cerpen yang ada di buku ini. Berkisah tentang Karyamin yang "harus” tetap tersenyum meski perutnya melilit kelaparan dan kepayahan. Yang ironinya, masih dipaksa memikirkan fenomena kelaparan lain di luar negeri sana. 

Yang paling menarik bagi saya adalah cerita "Blokeng" dan "Wangon Jatilawang", kisah tentang orang gila atau yang dianggap gila, yang memberi kesadaran baru bagi pembaca. Mereka adalah orang yang payah dengan ketidakmengertian hidup. Sudah merana harus merasakan kebencian dan kemunafikan makhluk lainnya, dan masih banyak lagi. 

13 cerpen dalam buku tipis ini saja sudah memberi banyak makna. Tentang persahabatan, tentang kebiasaan yang dibawa sampai mati, tentang pernikahan dan menjadi ibu di usia dini, tentang pengemis yang mencari nafkah dengan sholawat. Ahmad Tohari selalu indah menyajikan kisah tentang "wong cilik", menampar kita semua dengan bahasa yang lugas dan menyentuh. Penggambaran rakyat jelata dan pemandangan desa yang indah. Latar belakang yang sederhana ini jarang ditampilkan oleh penulis lain sehingga terkesan unik dan membekas di memori kita. 

Seperti nasehat pendeknya dalam cerpen "Syukuran Sutabawor"

Carilah kutumu sendiri. Carilah kesalahanmu sendiri. Jangan tergesa seperti itu

Nilai 9 untuk buku ini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *