Selasa, 30 Juni 2020

Resensi Buku Ulama-Ulama, Husein Muhammad

Judul Buku: Ulama-Ulama yang Menghabiskan Hari-Harinya untuk Membaca, Menulis dan Menebarkan Cahaya Ilmu Pengetahuan
Penulis: KH. Husain Muhammad
Penerbit: IRCiSoD
Genre: Nonfiksi
Jumlah Halaman: 156
Peresensi: Nur Kholilah Manan

Karakter Ahli Ilmu: Catatan Ulama-ulama

Buku yang saya pegang ini termasuk buku yang masih hangat, baru dicetak awal bulan Juni tahun ini. Bukannya saya seorang bibliophile apalagi bibliomania, saya hanya memanfaatkan promosi pre order dari penerbit, yang biasanya memberikan harga  lebih miring dari harga aslinya.

Penulisnya, KH. Husein Muhammad adalah salah seorang ulama perempuan yang sangat produktif. Bagaimana tidak, ketika masa swakarantina beliau menghasilkan 4 buku; Dialog Dengan Kiai Ali Yafie, Islam yang Mencerahkan dan Mencerdaskan, Menuju Fikih Baru dan Ulama-ulama yang Menghabiskan Hari-harinya untuk Membaca, menulis dan Menebarkan Cahaya Ilmu Pengetahuan. Buku yang terakhir murni tulisan beliau saat swakarantina 2 bulan ini.

Dalam buku yang terakhir Buya Husein –sapaan akrab KH. Husein Muhammad- mencatat 25 ulama yang mendedikasikan hidupnya untuk ilmu, baik dengan membaca, mengkaji, menulis dan mengajarkannya pada orang lain. Sejatinya angka itu bukan hitungan mentok, tapi (dugaan saya) 25 ulama itulah yang penting untuk dicatat, setidaknya untuk saat ini.

Dari sekian ulama yang disebutkan dalam buku ini, saya menemukan beberapa karakter yang sama hingga menjadikan mereka sebagai ahli ilmu. 

Pertama tamak (greediness) dalam mencari ilmu, tak pernah merasa puas atau merasa memiliki banyak ilmu sehingga menganggap diri sudah sampai pada puncaknya. Abuya Sayyid Muhammad al-Malikī pernah berkata “man ahassa bi an-nihāyah fa qad afsada al-bidāyah” Barang siapa yang merasa sampai pada puncak, maka sungguh ia telah merusak permulaannya. Demikian itu karena dunia ilmu tidak mengenal batas. Bahkan, sahabat Ali menyamakan ilmu yang dimiliki seluruh manusia seperti sisa air yang menempel pada jarum setelah ia dicelupkan ke lautan, lautan itu adalah ilmu Tuhan.

Kedua serius (seriousness) dalam mencari dan berusaha menambah pengetahuan. Keseriusan ini tergambar dari usaha mereka dalam mencari ilmu sampai ke luar kota atau bahkan luar negara. Dengan bekal curiosity yang begitu besar inilah dahaga seorang ahli ilmu tidak akan pernah terobati. 

Ketiga berkelanjutan dalam waktu lama (continuation). Jangka waktu sangat berkaitan dengan kesungguhan. Rakus saja tidak cukup, karena bisa jadi hangat-hangat tahi ayam  (awalnya giat, tapi lama-lama malas). Maka, kehausan akan ilmu disertai keseriusan dalam waktu lama akan membuahkan hasil yang maksimal. 

Abū Yūsuf  murid imam Abū Hanīfah selama 17 tahun tidak pernah sekalipun meninggalkan gurunya dan senantiasa salat berjamaah bersamanya. Imam Ubaid bin Ya’isy selama 30 tahun tidak pernah makan dengan tangannya sendiri lantaran menulis hadis.  Adik perempuannya yang menyuapinya. Abū Hāmid al-Ghazālī wafat di usia yang masih muda yakni 55 tahun meninggalkan 457 kitab.

Ibn Abī Hātim ar-Rāzī yang juga tak kenal waktu untuk belajar pada ayahnya di segala waktu; saat makan, saat berjalan, ketika berada di toilet bahkan saat ayahnya sedang mencari sesuatu. Ayahnya selalu melayaninya hingga saat ayahnya sakaratul maut, ia masih melayani petanyaan Ibn Abī Hātim. Ia pernah berkata “Ilmu itu tidak bisa diperoleh dengan enak-enakan dan besantai-santai”. 

Dari kalangan perempuan ada seorang ahli hadis terbesar abad ke-5 M, al-Hāfizhah Karīmah al-Marwaziyah, ia merupakan perawi hadis pertama dari Imam Bukhārī yang kepadanya para ulama besar ahli hadis pada masanya mengambil sanad. Syaikhah Fakhr an-Nisā’ Syuhdah binti Ahmad seorang ahli hadis, khaṭṭāṭah (kaligrafer), penulis produktif, suaminya meninggal pada usia 40 tahun, namun ia tetap sabar menjalani hidupnya dengan terus belajar dan mengajar. Ribuan santrinya mendapatkan beasiswa sekolah dari syaikhah sendiri sebagai founder agar tetap belajar, ia senantiasa mengajar sampai ia wafat di usianya ke-90.

Dan masih banyak lagi kisah-kisah inspiratif yang patut ditiru dari ulama-ahli ilmu ini.

Ketiga karakter di atas mengingatkan saya pada nyanyian yang sering saya baca setelah belajar dulu ketika sekolah dasar. Nyanyian ini adalah warning dari sahabat Ali karramallāhu wajhahū;

ألا لا تنال العلم إلا بستة, سأنبك عن مجموعها ببيان: ذكاء وحرص و اجتهاد وبلغة وإرشاد أستاذ وطول زمان

Ingatlah! Seseorang hanya akan mendapatkan ilmu dengan 6 hal yang akan kujelaskan sekarang; kecerdasan, kerakusan (mencari ilmu), kesungguhan, bekal, setia pada guru dan lama waktunya (mencari ilmu).

Kalimat ini mengingatkan kita bahwa ilmu hanya akan diperoleh oleh orang yang benar-benar serius dalam belajar.

Mungkin ada yang menyayangkan, dari 25 ulama yang diulas dalam buku ini hanya 2 perempuan yang tercatat. Padahal ada perempuan yang juga ulama, namun tak dicatat oleh Buya Husein. Sekilas terkesan diskriminatif, tapi menurut saya, tidak. 2 ulama itu telah cukup mewakili bahwa perempuan sejak abad petama ikut andil dalam ranah keilmuan. Tidak sebanding memang, bahkan lebih dari separuhnya adalah laki-laki, tapi di sinilah bukti keikutsertaan perempuan harus dinilai dan diakui. 

Minimnya peran perempuan sejak itu (harus diakui) adalah warisan misoginis Jahiliyah. Islam kemudian datang membawa cahaya bagi perempuan untuk ikut serta dalam melakukan kebaikan bersama-sama dengan laki-laki.

Dan sekarang, kita berada pada fase mahiriyah yang memberikan ruang seluas-luasnya untuk laki-laki dan perempuan untuk meningkatkan kualitas spiritual, intelektual dan finansial. Wallahu A’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *