Rabu, 22 Juli 2020

Resensi Buku Salju di Aleppo, Dina Y Sulaiman

MENANTI MUSIM SEMI

Judul Buku: Salju di Aleppo
Pengarang: Dina Y Sulaiman
Penerbit: Mitra Media Mustika & ICMES Publisher
Tahun Terbit: 2017
Cetakan ke: III
Jumlah Halaman: 230
Genre: Non Fiksi
Nama Peresensi: Aida Mudjib


"kebencian itu bagaikan vampir. Satu menggigit yang lain. Yang lain menggigit yang lain lagi, lalu dalam waktu singkat begitu banyak muncul para pembenci." (Hlm. 202)
---

Buku Salju di Aleppo ini merupakan lanjutan dari buku Prahara Suriah. Buku ini, sebagaimana buku sebelumnya, adalah kumpulan artikel Dina Sulaiman. Oleh karena itu, buku ini bisa dibaca loncat-loncat. Tak masalah dan tetap asyik. Buku ini digarap dengan layout menarik. Bagian-bagian penting, misalnya, nukilan wawancara republika dengan Dr. Taufiq al-Buthi disajikan ala perkamen, pendapat dan fakta penting dicetak dengan huruf tebal. Yang agak menganggu barangkali adalah rujukan ke sub-bab lain yang juga dicetak tebal dan berkurung .

Buku ini ditulis setelah kemenangan tentara Arab-Suriah mengatasi perang sipil di negaranya terutama membebaskan Aleppo dari tangan milisi-milisi bersenjata.
Aleppo merupakan kota terbesar kedua di Suriah setelah ibukota negara itu, Damaskus. Aleppo terletak di dekat perbatasan Turki dan merupakan salah satu kota terpenting. Sebab, kota ini penuh dengan situs bersejarah warisan dunia, dan kota ini sudah dihuni sejak abad ke-3 Masehi.

Betapa pentingnya Aleppo, jurnalis Suriah, Steven Sahiounie mengatakan bahwa "orang dengan akal sehat tentunya akan mengira revolusi di Suriah akan berawal di Damaskus atau Aleppo, oleh karenanya, hingga tahun kedua krisis, warga Aleppo tidak pernah berpartisipasi dalam demonstrasi atau meminta Assad untuk mundur. Warga Aleppo tak mau ikut serta dalam misi CIA dengan menolak berpartisipasi, dan mereka mengira kekerasan yang terjadi akan berhenti dengan sendirinya"

Meskipun di Aleppo tidak pernah diberitakan terjadi demonstrasi, akan tetapi serbuan milisi bersenjata diawali di kota ini. Kota ini pada Juli 2012 diserbu oleh milisi bersenjata di bawah bendera Free Syria Army (FSA). Penguasaan atas kota ini sangat penting sebagai langkah awal untuk menguasai ibu kota Damaskus. Aleppo sangat strategis sebagai pintu masuk suplai senjata, logistik, dan milisi ke Suriah melalui Turki. Apalagi pemimpin Turki, Erdogan merupakan salah satu sponsor utama agenda penggulingan Assad. Serbuan ke Aleppo tidak hanya dilakukan oleh milisi FSA yang sering disebut sebagai pemberontak moderat, melainkan juga kelompok-kelompok jihad, misalnya Jabhah Nusra, Ahral Syam, Assyifet Al Shamal, Jaish Muhajirin Wal Anshar dan lain-lain. Pada April 2013, al-Baghdadi mendeklarasikan ISIS yang menggabungkan al-Qaeda di Suriah dengan al-Qaeda Irak menjadi Negara Islam Irak dan Suriah.

Aleppo pun terbelah dua. Berbagai faksi milisi bersenjata melancarkan serangan bom untuk dapat menguasai kota itu. Target utama serangan mereka antara lain airport, kantor polisi, akademi, gudang penyimpanan militer. Tentara Suriah melawannya dan berusaha keras mempertahankan kota. Kehidupan di Aleppo menjadi sangat sulit dan berbahaya, orang orang bisa mati ditembak sniper hanya karena hendak membeli makanan di pasar atau berangkat ke kantor. Hingga September 2013 milisi bersenjata berada di atas angin dan menguasai kawasan yang luas.

Mulai September 2013, tentara Suriah kembali berusaha merebut Aleppo dengan dukungan dari Hizbullah dan milisi dari Irak. Di saat yang sama, kelompok milisi bersenjata yang semakin banyak saling berselisih.  Tentara Suriah akhirnya berhasil mengambil 80% wilayah Aleppo, sementara milisi bersenjata tetap bercokol di Aleppo Timur. Dengan demikian, Aleppo seperti Berlin terbagi menjadi Timur dan Barat. Warga kota Aleppo terpisah hampir lima tahun akibat Perang. Banyak warga yang tinggal di Barat tidak bisa lagi menemui kerabat mereka yang terjebak di Timur. Milisi bersenjata menahan warga sipil di Timur, dan mereka tidak boleh pergi ke Barat.

Sementara itu, dunia luar tetap terjadi diskriminasi atas pemberitaan perang Suriah. Pasukan tentara Suriah disebut melakukan genosida. Tidak mungkin disangkal bahwa ada warga sipil yang menjadi korban dalam setiap pertempuran yang terjadi, namun media arus utama --yang terus menyalahkan tentara Suriah dan Assad-- menggunakan istilah collateral damage saat  tentara AS maupun sekutu-sekutunya terbukti melakukan pengeboman hingga banyak warga sipil menjadi korban.

Di saat Aleppo Timur berhasil dikuasai kembali oleh tentara Suriah pada Desember 2016, menurut UNHCR, sebanyak 36.000 orang milisi bersenjata, keluarga mereka, dan warga sipil yang pro milisi pindah ke Idlib, 95.000 orang tetap di Aleppo, sedangkan total warga Aleppo Barat adalah satu setengah juta orang. Kota tertua di dunia ini sepanjang sejarahnya telah mengalami berbagai intrik, dan kini harus mengalami kembali kisah pilu.

Salah satu artikel yang saya sukai dalam buku ini adalah “Berjuang Dalam Sunyi” yang bercerita tentang anak-anak di jalanan Aleppo yang ceria mengejar mobil sembari berteriak: Baba Noel! Baba Noel!. Sudah sangat lama tawa ceria tak terdengar di Aleppo. Cerita tentang Desember yang artinya adalah perayaan natal bagi umat Kristiani, termasuk yang tinggal di Aleppo. Anak-anak muda mengenakan pakaian sinterklas dan berkeliling kota serta membagikan hadiah-hadiah kepada anak-anak Muslim di kota itu, Desember, bagi anak-anak Aleppo, berarti waktu untuk berburu hadiah. Desember 2016 setelah lama tidak merayakan natal bersama dengan ceria, anak-anak Aleppo akhirnya mendapatkan hadiah mereka.


Pierre le-Corf, seorang pemuda Prancis, menggagas misi kemanusiaan We Are Superheroes dengan mengumpulkan cerita dari berbagai negara. Pierre setahun terakhir tinggal bersama sebuah keluarga Suriah di sebuah apartemen yang berlubang akibat tembakan petempur Nusra. Ia berjalan sambil sesekali berlari menghindari sniper untuk menyerahkan kotak P3K dan mengajari warga teknik pertolongan pertama jika sewaktu-waktu terkena tembakan atau ledakan bom. Ia mencatat semua hal yang ia lihat dan alamai selama di Suriah.

Dalam buku ini juga ada para jurnalis anti media arus utama --yang menyuarakan konflik-konflik Suriah dengan narasi yang berbeda. Di antara mereka ada Eva Bartlet dan Vanesha Beeley. Ketika dunia mengabaikan konflik Gaza, dua orang itu datang ke Gaza dan tinggal lama di sana. Eva jurnalis asal Kanada tinggal di Gaza selama 3 tahun dan aktif mengabarkan kepada dunia apa yang dilakukan Israel terhadap Gaza. Vanessa asal Inggris juga berkali-kali datang ke Gaza. Selain untuk memberitakan nasib warga, Ia juga menginisiasi berbagai program untuk anak-anak muda Gaza. Misalnya program Gaza Without Wall yang menghubungkan antara pelajar di Gaza dengan guru-guru bahasa Inggris dan Prancis di Eropa untuk meningkatkan kemampuan bahasa asing mereka.

Ketika media arus utama dengan sangat masif memberitakan bahwa rezim Assad adalah diktator yang membantai rakyatnya, Eva dan Vanessa pun memutuskan datang langsung ke sana. Mereka menuliskan fakta yang mereka dapati dan dimuat di media alternatif, sepert  ukcolumn.org; mintpressnews.com; RT.com dan di blog mereka sendiri. Tulisan Eva dan Vanessa melawan narasi media arus utama. Misalnya ketika warga Aleppo diberitakan dibunuh secara massal oleh Assad, mereka datang ke garis depan dan merekam testimoni warga Aleppo Timur yang berhasil dievakuasi. Warga menceritakan pengalaman buruk selama tertahan di wilayah Timur dan menyatakan kelegaan mereka karena para teroris sudah diusir dari kota mereka. Baik Eva maupun Vanessa membiayai sendiri perjalanan mereka ke Suriah. Keduanya menerima diintimidasi di media sosial --dan mungkin juga di dunia nyata-- dengan komentar di media sosial yang menyerang kredibilitas, tapi mereka tetap menulis.

Dua kisah di atas adalah bagian dari bab 1 buku Salju di Aleppo. Dina Y. Sulaiman membagi bukunya menjadi 4 bab yang dibagi lagi menjadi sub bab yang berisi artikel  yang saling berkaitan. Di bab 1 terdapat kisah-kisah mengenai para pejuang Aleppo dan relawan-relawan yang tidak diliput perannya oleh media. Di bab 2 terdapat penjelasan mengenai aneka hoaks maupun kisah-kisah yang media arus utama yang digunakan untuk menarik simpati warga dunia tidak lebih dari kisah rekaan saja. Bab berikutnya Dina Y. Sulaiman membahas mengenai PKS, HTI, al-Qaeda, jihad, dan motif ekonomi dalam konflik Suriah. Di bab terakhir, penulis mencoba membuka mata kita dengan berbagai catatan tentang panasnya pembahasan Suriah di Indonesia dan beberapa surat terbuka penulis mengenai konflik Suriah ini, di antaranya surat kepada Kang Emil, surat terbuka untuk Tempo maupun untuk Ustaz Arifin Ilham (alm). 

Apa hubungannya konflik Suriah dengan nasib bangsa Indonesia ini? Dina menulis di halaman 202, kebencian itu bagaikan vampir. Satu menggigit yang lain. Yang lain menggigit yang lain lagi, lalu dalam waktu singkat begitu banyak muncul para pembenci di negeri ini. Awalnya dari berita mengenai Suriah lalu warga Syiah di Indonesia juga menjadi sasaran. Lalu objek kebencian pun meluas. Kiai A, Syiah! Ahmadiyah sesat! Hati-hati kristenisasi dan lain-lain. 

Apa jadinya bangsa ini kalau kebencian terus merajalela?

Naudzubillah.

Salju di Aleppo merupakan kiasan. Titik salju yang turun ketika musim dingin tiba berarti tanda-tanda akan adanya musim semi, sama setelah milisi bersenjata akhirnya angkat kaki dari Aleppo pascaperang, Suriah pun menanti musim semi mereka.

Jombang, 10 Juli 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *