Senin, 06 Juli 2020

Resensi Buku Titik Temu, Ghyna Amanda


Judul Buku: Titik Temu
Penulis: Ghyna Amanda
Penerbit: Mojok
Tahun terbit: Desember 2017
Jumlah Halaman: 276 halaman
Genre: Fiksi
Peresensi: Sarifah Mudaim

Novel ini bercerita tentang seorang putri bernama Katheljin Sophie Kuhlan dari kelurga Kuhlan berdarah Belanda yang ingin menetap untuk mempertahankan harta warisan keluarganya di Indonesia. Latar cerita dalam novel ini masih nuansa Indonesia di awal masa kemerdekaan 1945. Sekalipun keluarga Kuhlan berdarah Belanda, mereka begitu mencintai Indonesia dan ingin membantu masyarakatnya dengan membuat dam untuk menghidupi rakyat. Akan tetapi semua kebaikan keluarganya selalu dicurigai rakyat karena mereka keturunan Belanda, negara yang paling lama menjajah dan menyiksa rakyat Indonesia. Ayah dan kakek Sophie meninggal dunia tanpa diketahui kronologisnya. Is sendiri tidak pernah tahu bagaimana kehidupan di luar sana karena selama ini, ia hidup di dalam perpustakaan dan kamar tidurnya saja. Sampai pada suatu hari, ia diculik oleh sekelompok orang yang tidak ia kenal. Ibunya mati terbakar bersama rumah dan hartanya sehingga ia tinggal sebatang kara di negara yang asing baginya. Sophie kemudian diselamatkan oleh Andjana Ranggawangsa, seorang pribumi berumur 20 tahun lebih tua darinya. Andjana sendiri dulu disekolahkan kedokteran ke luar negeri oleh keluarga Kuhlan. Ia juga seorang yang dipercaya dan disegani masyarakat.

Untuk menyelamatkan statusnya, Sophie membuat keputusan untuk menikah dengan dokter Andjana dengan harapan apabila ia menikah dengan pribumi maka ia akan aman karena statusnya akan berubah menjadi pribumi. Ia membuat perjanjian pernikahan/kontrak yang menyatakan kalau Sophie akan mengijinkan dokter Andjana untuk membangun klinik di tanah warisan keluarga Kuhlan. Pernikahan itu pada akhirnya membuat Sohphie memahami bagaimana aslinya dokter Andjana Ranggawangsa yang diagung-agungkan dan disegani rakyatnya. 

Selain itu, diceritakan juga tentang pengkhiatan Ayi, satu-satunya orang kepercayaan Sophie. Kemudian, dam yang dibangun keluarganya juha mengalami masalah dan Sophie ingin meminta bantuan pada negara Belanda sebab rakyat pribumi tidak bisa menyelesaikanya. Niat baik Sophie justru menciptakan kesalahpahaman sehingga perang tidak dapat dihindari.

Novel ini mengajak pembacanya menikmati kisah asmara berbeda kebangsaan dan agama, menyelami makna kehidupan, dan melihat bagaimana keinginan-keinginan yang tidak tergapai. Dan di tengah kondisi-kondisi yang sebetulnya dihindari, keputusan tetap perlu diambil dan dijalani dengan keteguhan hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *