Selasa, 20 Oktober 2020

Resensi Buku DUR (Diary Ungu Rumaysha), Nisaul Kamilah



Judul buku: DUR (Diary Ungu Rumaysha)

Penulis : Nisaul Kamilah

Penerbit : Telaga Aksara

Tebal : 506 halaman

Tahun terbit : Mei, 2020

Peresensi : Ihdina Sabili


Cinta Boleh Terganti, Tapi Bakti Abadi


Mengalihkan cinta bukanlah hal yang mudah. Belajar mencintai orang lain di saat  kehilangan kekasih merupakan perjalanan berat. Namun, semua menjadi indah dan terasa mudah jika dilandasi keikhlasan kepada Allah atas takdir yang terjadi. Sekaligus menghormati keluarga besar dan bakti kepada kedua orangtua. Begitulah kiranya konflik batin yang berkecamuk di dada Salim Abdullah Asy syathiri atau biasa dipanggil Gus Asy. Putra bungsu Kiai Husen, Pengasuh Pesantren Darul Qur'an, yang digadang-gadang menjadi penerus estafet kepemimpinan abahnya. 


Mulanya semua terjadi begitu mulus. Harapan dan rencana terbingkai rapi di kepala  Rumaysha (Rum). Dalam bayangannya, setelah menyelesaikan SMA, kehidupan kuliah akan menyenangkan dengan berbagai kesibukan menjadi aktivis komunitas di kampus. Namun, semua mimpi itu harus lekas direlakan Rum semenjak Salma, kakak perempuannya pergi untuk selamanya. Tidak hanya pedih karena kehilangan, tetapi juga dilema atas wasiat sang kakak; ia diminta untuk menggantikan posisi kakaknya sebagai istri Gus Asy. Seseorang yang belum dikenalnya dengan baik. 


Manusia hanya mampu berencana, Tuhanlah yang berkehendak atas segalanya. Kiranya begitulah nasihat yang tepat untuk Rumaysha dalam menjalani hari-hari baru sebagai calon istri dari suami almarhumah kakaknya. Ibu, yang Rum panggil dengan Bune, dengan kalimat sakti selalu menghiburnya, witing trisno jalaran soko kulino. Sama halnya dengan Gus Asy, ia juga membutuhkan waktu yang tak sebentar untuk melipur lara kehilangan sang kekasih. Berkat kelapangan hati keduanya, proses perkenalan dan pernikahan menjadi lebih mudah dan tidak semengerikan yang dibayangkan. 


Selayaknya kehidupan pengantin baru, keseharian Rumaysha dipenuhi adaptasi hal-hal baru. Ia harus mengubur jauh-jauh masa lalunya dengan Al, sahabat sekaligus cinta pertamanya di bangku SMA. Kali ini konsentrasi Rum harus fokus pada penyesuaian dengan keluarga besar Gus Asy. Karena semua tak berjalan mulus. Ada saja gangguan datang menghampiri mereka. Mulai dari kedatangan Al kembali secara tiba-tiba, masih gencarnya cibiran penolakan halus dari keluarga besar Gus Asy kepada Rum, hingga kegenitan Dinda sepupu Gus Asy yang terus menguji kesabaran Rum.


Begitu kira-kira cerita yang disuguhkan Diary Ungu Rumaysha (DUR). Dari segi cerita, unsur-unsur di dalam novel ini cukup menarik. Tokoh yang berperan antagonis, protagonis dan tirtagonis ada dalam novel ini, meski tidak mendominasi alur cerita. Alur yang dipilih maju dengan rentang waktu yang variatif. Karakter tokoh yang dimunculkan begitu kuat dan berpengaruh, terutama untuk Rum. 


Sudut pandang atau POV yang dipakai adalah orang pertama dengan pergantian, antara Rum, Al dan Asy. Sayangnya, ada adegan dan peristiwa yang dituliskan berulang demi POV yang berbeda, seharusnya hal itu bisa diringkas menjadi lebih padat. Pemaparan amanat secara eksplisit dengan mencantumkan hadis dan maqalah Arab membuat novel ini terasa mengikis unsur fiksi novel. 


Terlepas dari semua itu, kehadiran DUR turut menyemerakkan khazanah sastra pesantren yang mulai bergeliat. DUR juga mencerminan kehidupan pesantren yang sarat dengan nilai kebajikan. Juga memberikan pelajaran bagaimana menjalani hidup dengan tawakal atas ketetapan Allah, termasuk menerima pasangan. "Yen golek sing ganteng, durung tentu gawe ati seneng. Yen golek sing sugih, durung tentu iso welas asih. Yen golek sing gagah, durung tentu iso gawe atimu bungah. Yen golek sing pinter, durung tentu uripe tumindhak bener." Bukankah "Urip iku sawang-sinawang"?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PerempuanMembaca

Semua penulis di sini adalah perempuan yang menyempatkan waktu untuk membaca, budaya yang hampir punah ditelan oleh kesibukan, budaya yang hampir punah tergantikan oleh membaca status sosmed atau berita versi digital. Kami merindukan aroma buku, kami merindukan rehat dan bergelut dengan buku sambi menikmati secangkir teh atau kopi.




Cara Gabung Komunitas

Cara Gabung Komunitas

Cari

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *